Jumat, 22 Februari 2019


Brucellosis Gagal ke Sumatera, Terimakasih Karantina Cilegon!

12 Peb 2019, 16:22 WIBEditor : Gesha

sapi yang terinfeksi Brucellosis kemudian dilakukan penyembelihan dan dimusnahkan | Sumber Foto:RADEN

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Cilegon ---  Berkat kesigapan petugas Badan Karantina Pertanian (Barantan) dalam hal ini Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Cilegon, Brucellosis gagal masuk ke wilayah Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

Brucellosis merupakan penyakit bakterial yang utamanya menginfeksi sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi. Penyakit ini juga dapat menyerang berbagai jenis hewan lainnya dan ditularkan ke manusia atau bersifat zoonosis.

Pada hewan betina, penyakit ini dicirikan oleh aborsi dan retensi plasenta, sedangkan pada jantan dapat menyebabkan orchitis dan infeksi kelenjar asesorius. Brucellosis pada manusia dikenal sebagai undulant fever karena menyebabkan demam yang undulans atau naik-turun.

“Manusia bisa tertular brucellosis melalui konsumsi produk hewani terkontaminasi yang tidak dilayukan dan dimasak,” tukas Kepala BKP Kelas II Cilegon, Raden Nurcahyo Nugroho, Selasa (12/2).

Karenanya, karantina daging segar atau bahkan sapi harus dilakukan. Terlebih jika dilakukan lalu lintas antar pulau.

Seperti yang dilakukan oleh Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Cilegon pada 31 Januari 2019. Saat itu Petugas Karantina memeriksa 64 ekor sapi ras bali asal Bekasi yang hendak dikirim ke Ogan Ilir sesuai dengan prosedur karantina.

Setelah pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan fisik, Petugas melakukan pengambilan sampel darah 100% semua hewan untuk dilakukan pengujian Rose Bengal Test (RBT). Hasilnya dari 64 ekor sapi tersebut menunjukkan 2 ekor positif RBT

Kepada 62 ekor yang negatif uji kemudian diberikan sertifikat kesehatan hewan, sedangkan 2 ekor yang positif tetap dalam pengawasan petugas di Instalasi Karantina Hewan.

Sampel darah dari 2 ekor sapi positif uji RBT kemudian dikirim ke BVet Subang dan Balitvet Bogor untuk dilakukan pengujian Complement Fixation Test (CFT) lanjutan dan didapat hasil 1 ekor positif Brucellosis.

Karena sudah menjadi tugas dari Karantina Cilegon untuk mencegah tersebarnya hama penyakit hewan karantina dari dan menuju pulau Sumatera, sehingga hanya hewan dan produk hewan yang sudah dinyatakan sehat oleh Karantina Cilegon saja yang boleh dilalulintaskan, yang dibuktikan dengan penerbitan Sertifikat Karantina.

Tetapi jika ternyata ditemukan Hama dan Penyakit Hewan Karantina (HPHK), maka harus dilakukan pemusnahan, salah satunya adalah dengan pemotongan bersyarat untuk hewan.

"Sapi Bali yang dinyatakan positif Brucellosis, jadi kami lakukan pemotongan bersyarat. Daging dari sapi ini masih bisa dikonsumsi asal dilakukan pelayuan terlebih dahulu kurang lebih 9 jam lamanya. Hanya bagian organ-organ dalam terutama organ reproduksi, limfoglandula dan tulang yang tidak boleh untuk dikonsumsi dan kemudian dimusnahkan," ujar Raden.

 

Reporter : Tiara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018