Saturday, 18 April 2026


Dedi Mulyadi Blak-blakan Soal Derita Petani ke Presiden Prabowo

07 Apr 2025, 15:42 WIBEditor : Gesha

Di tengah panen raya Majalengka, Dedi Mulyadi curhat blak-blakan ke Presiden Prabowo soal jeritan petani?.

TABLOIDSINARTANI.COM, Majalengka -- Di tengah panen raya Majalengka, Dedi Mulyadi curhat blak-blakan ke Presiden Prabowo soal jeritan petani.

Suasana semarak Panen Raya di Kabupaten Majalengka berubah menjadi ruang curhat yang penuh makna saat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan suara hati para petani langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.

Di hadapan para menteri, pejabat tinggi, dan ribuan warga, Dedi tampil bukan sekadar sebagai kepala daerah, tapi sebagai sosok yang merasakan langsung penderitaan di balik hamparan sawah yang menguning.

“Saya petani, Pak,” begitu kalimat pembuka Dedi yang langsung memantik perhatian.

Dengan nada tulus, ia mengungkap realita getir petani di Jawa Barat yang kini dihimpit mahalnya biaya produksi, terutama untuk pestisida (obat-obatan). 

“Sekarang pupuk memang lancar, tapi beban terbesar justru di obat (pestisida). Para petani nyemprot dua hari sekali. Kalau nggak, hamanya datang lagi dan terus datang,” ujarnya lantang.

Dedi juga mengungkap persoalan yang lebih dalam: tanah-tanah di Jawa Barat yang mulai ‘lelah’ karena penggunaan pupuk kimia terus-menerus tanpa pemulihan.

“Unsur haranya rata-rata sudah di bawah 6. Tanahnya jenuh, Pak. Harus ada program pemulihan menyeluruh,” tegasnya, seolah mewakili ratusan ribu petani yang selama ini hanya bisa mengeluh dalam diam.

Tak berhenti di situ, Dedi menyoroti penurunan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun ini yang membuat program irigasi terganggu.

Ia berharap kehadiran Presiden dapat membawa angin segar, agar alokasi tersebut bisa dikembalikan.

“Kami butuh bantuan pusat agar irigasi tidak mati suri,” katanya.

Masalah struktural pun ia bongkar. Alih fungsi lahan di Jawa Barat yang kian tak terkendali menjadi salah satu sorotan tajamnya.

Meski sudah menerbitkan Pergub larangan alih fungsi lahan, sistem perizinan OSS (Online Single Submission) justru membuka celah dari pusat.

“Tata ruang lama masih berlaku, padahal perubahan butuh lima tahun. Akhirnya izin bisa tetap keluar. Ini yang harus ditutup, Pak,” ucap Dedi dengan nada prihatin.

Tak ketinggalan, ia mengangkat isu kemanusiaan: minimnya perlindungan sosial untuk petani.

Banyak yang tak tercover BPJS, bahkan ada kasus bayi ditahan di rumah sakit karena orang tua tak mampu membayar.

“Saya minta, mulai tahun ini nggak boleh ada lagi kejadian seperti itu, Pak,” pintanya tulus, membuat suasana jadi haru.

Namun di balik semua itu, Dedi tetap mengapresiasi langkah positif pemerintah.

Ia menyambut baik harga gabah basah yang naik hingga Rp6.500 per kilogram dan langsung diterima Bulog.

"Ini sejarah, Pak. Pertama kalinya harga setinggi ini diterima di sawah,” katanya dengan wajah lega.

Presiden Prabowo merespons curhat Dedi dengan serius dan tenang.

Ia berjanji akan mempelajari masalah pestisida dan biaya produksi, serta membuka kemungkinan pemanfaatan teknik pertanian organik.

“Kita akan cari solusi agar efisien dan berkelanjutan,” jawab Prabowo.

Dengan penuh semangat, Presiden menutup acara.

“Kita sangat optimis. Kerja keras, niat baik, hasil baik. Rakyat bahagia, itu tujuan kita,” tuturnya. 

Reporter : Nattasya
Sumber : YouTube/Setpres
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018