Kamis, 22 Januari 2026


Berkaca dari Pandemi, Prabowo Ingatkan Bahaya Bergantung Impor Pangan

07 Jan 2026, 13:58 WIBEditor : Gesha

Berkaca dari masa gelap pandemi Covid-19, Presiden Prabowo Subianto mengingatkan bahaya besar jika Indonesia terlalu bergantung pada impor pangan, saat dunia bisa tiba-tiba menutup pintu dan memilih menyelamatkan diri sendiri.

TABLOIDSINARTANI.COM, Karawang -- Berkaca dari masa gelap pandemi Covid-19, Presiden Prabowo Subianto mengingatkan bahaya besar jika Indonesia terlalu bergantung pada impor pangan, saat dunia bisa tiba-tiba menutup pintu dan memilih menyelamatkan diri sendiri.

Presiden Prabowo Subianto kembali membuka lembaran cerita yang sempat membuat dunia terdiam. Bukan kisah heroik, melainkan pengingat pahit tentang betapa rentannya sebuah negara ketika urusan makan rakyatnya bergantung pada pihak luar.

Pesan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri Panen Raya sekaligus pengumuman swasembada pangan di Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026).

Di hadapan para petani dan pemangku kepentingan sektor pangan, Prabowo menegaskan bahwa kemerdekaan sejati tak bisa dilepaskan dari ketersediaan pangan.

Menurutnya, sebuah bangsa akan selalu berada di posisi lemah jika kebutuhan dasar warganya, terutama beras harus menunggu keputusan negara lain.

Dengan nada tegas, Prabowo menegaskan bahwa kedaulatan sebuah bangsa tak hanya diukur dari bendera dan lagu kebangsaan. “Tidak ada bangsa yang benar-benar merdeka kalau rakyatnya tidak bisa makan dari hasil sendiri,” ujarnya.

Pandemi Covid-19 bukan hanya soal virus dan rumah sakit penuh, tapi juga tentang ego negara-negara yang menutup pintu rapat-rapat. Saat itu, Prabowo masih menjabat Menteri Pertahanan di era Presiden Joko Widodo. Dan kenyataannya pahit karena hampir tak ada negara yang bersedia menjual beras ke Indonesia.

Prabowo bercerita, Presiden Jokowi kala itu harus berkeliling, terbang dari satu negara ke negara lain, melakukan negosiasi langsung dengan para pemimpin dunia. Bukan perkara mudah. Beras, yang biasanya mengalir lewat jalur dagang, mendadak jadi komoditas super sensitif. Setiap negara sibuk menyelamatkan dapurnya sendiri.

“Kalau bukan karena hubungan baik Presiden Jokowi dengan beberapa pemimpin, kita bisa dalam posisi yang jauh lebih sulit,” ungkap Prabowo.

Menurutnya, pandemi telah membuka mata bangsa ini bahwa ketergantungan pada impor, terutama untuk pangan, adalah jebakan berbahaya.

Hari ini mungkin terasa aman, tapi besok bisa berubah jadi mimpi buruk. Dunia, kata Prabowo, tak selalu ramah. Saat krisis datang, solidaritas global sering kali kalah oleh kepentingan nasional masing-masing negara.

Tak berhenti di pangan, Prabowo juga menyinggung ketergantungan pada sektor strategis lain seperti energi. Ia mengingatkan agar Indonesia tak lengah dan terlalu percaya pada pasokan dari luar negeri, baik untuk makanan maupun bahan bakar minyak.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018