Kamis, 18 Juli 2019


Start-up Pertanian Kian Membuka Pasar Komoditas Pertanian

19 Mar 2019, 10:51 WIBEditor : Yulianto

Riyanto | Sumber Foto:Yulianto

Banyak keuntungan tumbuhnya star-up pertanian. Misalnya, petani yang selama ini terdistorsi pasar, kini bisa langsung menjual ke konsumen

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor--- Di era modern dengan berkembangnya industri 4.0 ikut mendorong tumbuhnya star-up pertanian. Namun tak semua stakeholder pertanian di Indonesia siap memasuki era tersebut.

Dosen Ekonomi UI, Dr. Riyanto optimis dengan perkembangan star-up pertanian. Terlihat dengan banyaknya star-up, seperti TaniHub, TaniKu, Sayurbox, Go Pasar Tani  dan lain sebagainya. Bahkan star-up pertanian makin membuka pasar komoditas pertanian itu sendiri.

“Dengan tumbuhnya star-up pertanian, saya melihat distribusi produk pertanian menjadi aman, karena tiap komoditas bisa masuk. Volume perdagangan pertanian juga meningkat pesat,” katanya dalam acara Bincang Asik Pertanian Indonesia (Bakpia) yang diselanggarakan Forum Wartawan Pertanian bersama Humas Kementerian Pertanian di Bogor, Senin (18/3).

Riyanto menilai, banyak keuntungan tumbuhnya star-up pertanian. Misalnya, petani yang selama ini terdistorsi pasar, kini bisa langsung menjual ke konsumen. Artinya rantai pasok pemasaran bisa terpotong. “Sekarang ini distorsi terlalu tinggi, akhirnya petani yang dirugikan,” ujarnya.

Berkembangnya star-up pertanian ini menurut Riyanto juga karena makin besarnya permintaan dan industrialisasi. Konsumen makin terdidik, terutama di kota-kota besar. Sementara proses produksi (pertanian) dan di desa dengan masyarakat berpendidikan rendah. “Dengan adanya star-up pertanian akan mendekatkan produsen dan konsumen. Informasi pasar juga makin simeteris,” ujarnya.

Problem Pertanian Indonesia

Namun Riyanto mengakui, problemnya pertanian Indonesia masih berada di semua lini. Ada yang masih berada di industri 1.0, ada juga yang industri 2.0 dan 3.0. Ada juga yang menuju 4.0. Tapi sebagian besar masih berada pada posisi industri 1.0 yang memiliki masalah mekanisasi, terutama dalam proses produksi. Bahkan di pertanian, masih banyak pertanian yang tradisional.

Kondisi itu ungkap Riyanto, karena pertanian Indonesia masih menghadapi masalah klasik. Misalnya, petani miskin, lahannya sempit, produktivitas rendah, kalau panen harga jatuh. Selain itu, sebagian besar petani berumur 40 tahun ke atas. Sedangkan hanya sedikit anak muda yang tertarik dengan usaha pertanian. Bahkan sebagian besar, teruatama yang terdidik pergi ke kota.

Tingkat pendidikan petani kita  juga rendah, sebagian besar SMP, kepemilikan lahan rata-rata hanya 0,2 ha dan termasuk petani gurem. Kondisi lahan juga rusak akibat pemupukan kimia dan penggunaan pestisida yang berlebihan. Petani juga umumnya kurangnya permodalan.

Riyanto mengatakan, strategi pengembangan sektor pertanian di era 4.0 yakni mengisi dan melakukan percepatan setiap tahapan (Industri 1.0 menjadi 4.0). Untuk itu harus ada investasi pada industri 4.0. Misalnya, dalam mekanisasi proses produksi pertanian untuk mengejar volume/kuantitas dan efisiensi. Standarisasi untuk menjaga kualitas produksi masal yang dihasilkan melalui mekanisasi

“Pendekatan yang juga penting adalah investasi infrainformasi dan infrastruktur pertanian sebagai tulang punggung pertumbuhan sektor pertanian di era industri 4.0,” katanya.

Reporter : Julian
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018