Sunday, 09 May 2021


Uniknya Penentuan Harga Daging Sapi, Tak Sekedar Tinggi Permintaan

28 Apr 2021, 18:44 WIBEditor : Gesha

Banyak komponen penentu harga daging sapi | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta ---
Sekjen Dewan Pimpinan Pusat Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia periode 2015-2020, Rochadi Tawaf memberikan ilustrasi dalam penentuan harga daging segar seperti bejana berhubungan.

Tercatat, lebih dari 14 potongan daging dan jeroan dengan harga yang berbeda-beda. Dan akan menentukan harga daging yang digunakan sebagai standar, yaitu paha belakang.

Antara lain Jeroan, variety meat, daging Bagian belakang (sirloin/has luar, has dalam, flank, paha dalam, rump, top rump, Silver side hingga kaki belakang), tulang, dan daging bagian depan (leher sampai tulang iga paling belakang).

Masing-masing bagian daging tersebut memiliki prosentase Nilai jual 5,3 persen (jeroan), 14,6 persen (variety meat), 37,4 persen (hind quarter), 8,9 persen (tulang) dan 33,8 persen (leher hingga tulang iga).

Dari seekor sapi, kisaran harga daging dengan standar potongannya yang berbeda-beda. Mulai dari Rp 80 ribu/kg berasal dari paha depan dan yang harganya Rp 150 ribu/kg berasal dari paha belakang. Bahkan jeroan, kaki, kulit dan kepala merupakan sumber pendapatan para jagal.

"Sehingga jika jeroan yang secara normatif dibeli, namun di hari Raya tidak dibeli karena konsumen lebih inginkan daging segar, maka akan merugikan penjagal (RPH) dan akan dibebankan pada harga variety meat dan harga daging lainnya," ungkapnya  dalam Focus Group Discussion (FGD) Mengawal Pasokan Daging Jelang Lebaran yang diadakan TABLOID SINAR TANI, Rabu (28/4).

Menjelang hari raya Idulfitri, sebagian besar konsumen mencari atau membeli daging berkualitas. Konsumen bahkan hampir tidak membeli jeroan dan hasil ikutan lainnya.

Sebagaimana diketahui, konsumen khusus jeroan, kaki dan kepala adalah para pedagang kaki lima yang pada umumnya mereka pulang kampung dan tidak berdagang di kota pada saat Idulfitri.

Pada kondisi ini umumnya pedagang daging eceran menanggung kerugian. Kerugian ini dibebankan kepada harga daging yang memiliki permintaan tinggi. Oleh karenanya, hampir dipastikan jika setiap menjelang Ramadan dan Idulfitri harga daging akan melonjak tajam.

Oleh karenanya diperlukan intervensi non konvensional yaitu selain menggelontorkan daging beku ke pasar tradisional, pemerintah harus mampu membeli jeroan, kaki, kulit dan kepala sebagai sumber pendapatan para jagal yang tidak laku.

Pada sistem rantai pasok daging sapi, implementasi rantai dingin menjadi suatu keniscayaan. Upaya ini harus dilakukan dengan melengkapi infrastruktur RPH agar mengikuti standarisasi rantai dingin. Pola ini, diharapkan Rochadi akan mampu meredam gejolak fluktuasi harga daging yang menjadi tradisi tahunan.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018