Selasa, 22 Oktober 2019


Inilah Komoditas Target Ekspor Pertanian dari Jawa Barat

21 Mar 2019, 20:50 WIBEditor : Gesha

Menteri Pertanian saat melepas ekspor berbagai produk pertanian dari Garut | Sumber Foto:HUMAS KEMENTAN

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Garut --- Provinsi Jawa Barat ditargetkan mampu menjadi produsen terbaik dari beragam produk pertanian.

"Kita akan genjot ekspor kentang dan banyak lainnya yang sebelumnya impor untuk bisa menjadi ekspor," tutur Menteri Pertanian Amran Sulaiman setelah kunker Mentan bertajuk Apresiasi dan Sinkronisasi Program Kementerian Pertanian 2019 di lapangan GOR Ciateul, Garut pada Kamis (21/3).

Komoditas tersebut antara lain jagung, domba, kambing, bawang merah, telur ayam, ayam bahkan kacang hijau. "Inilah yang kita genjot untuk ekspor ke depan," beber Menteri Amran.

Berdasarkan catatan Menteri Amran, ekspor produk pertanian Indonesia naik 29 persen dengan nilai Rp 400 Trilliun berkat berbagai upaya untuk menggenjot ekspor.

Menariknya, Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Pertanian Indonesia yang menjadi acuan nilai pasar barang dan jasa diproduksi oleh pertanian Indonesia yang naik drastis sejak 2014. "PDB 2014 sebesar Rp 900 Trilliun, di tahun 2018 naik menjadi Rp 1.642 Trilliun," tukasnya.

Ekspor Hortikultura

Provinsi Jawa Barat sebagian besar berada di wilayah ketinggian sehingga hortikultura menjadi salah satu target utama ekspor Kementerian Pertanian dari Jawa Barat.

Sebut saja nanas, manggis, salak, alpokat, mangga, jeruk, durian, jambu biji, salak, melon, semangka. Kemudian, baby buncis, buncis, selada air, kentang, petai dan jenis sayuran lainnya.

Direktur Utama PT Alamanda Sejati Utama Komar Muljawibawa sebagai salah satu eksportir hortikultura dari Jawa Barat menuturkan permintaan produk hortikultura dari mancanegara masih sangat besar dan Indonesia khususnya Jawa Barat memiliki peluang untuk memanfaatkan potensi tersebut.

"Indonesia memiliki kesempatan untuk memenuhi pasar luar negeri, terutama Singapura, asalkan mampu menjaga kualitas, kuantitas, dan kontinuitas," tegasnya.

Mengenai kemudahan kebijakan, Komar mengakui sudah sangat berubah. "Sebelumnya perlu waktu sampai 2 bulan. Sekarang hanya 3 hari saja. Itulah yang menjadi penyebab volume ekspor meningkat," tuturnya.

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018