Minggu, 20 Oktober 2019


Punya Banyak Peluang, Kalbar Terus Genjot Ekspor

10 Sep 2019, 06:32 WIBEditor : Gesha

Kalbar terus mengupayakan ekspor dari setiap potensi daerahnya | Sumber Foto:HUMAS KARANTINA Kalbar

TABLOIDSINARTANI.COM, Pontianak --- Kalimantan Barat merupakan propinsi yang memiliki sumber kekayaan alam melimpah baik berupa kekayaan alam tambang maupun pertanian. Dengan banyaknya potensi, Kalbar mempunyai banyak pilihan untuk bisa menggenjot pasar ekspor.

Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan, Balai Karantina Pertanian Kelas I Pontianak, drh. Taryu kepada tabloidsinartani.com menuturkan dari data  Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalbar mencatat sektor yang mendorong ekonomi  Kalbar dari tahun ke tahun adalah pertanian.

"Artinya jika melihat pangsa atau porsinya  terhadap ekonomi Kalbar untuk pertanian pada kisaran 20 hingga 24%, berfluktuasi  di setiap triwulan, tetapi secara tahunan ada di kisaran angka tersebut atau kurang lebih 22%. Kedepan nampaknya sektor pertanian dapat terus dikembangkan menjadi produk untuk kebutuhan domestik dan ekspor mengingat masih banyaknya lahan tidur (non produktif) yang masih belum dimanfaatkan secara optimal," jelasnya.

Sejauh ini produk unggulan pertanian kualitas ekspor Kalbar terdiri dari Crude Palm Oil (CPO), karet, kelapa dan turunannya, lada dan pinang serta buah buahan. Berdasarkan data Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Propinsi Kalimantan Barat Februari 2019 yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalbar, menunjukkan kinerja ekspor luar negeri Kalbar pada triwulan IV 2018 meningkat dari -11,77% (yoy) menjadi 2,04% (yoy).

Peningkatan ini utamanya didorong oleh meningkatnya kinerja ekspor CPO hingga 82,75%. Peningkatan kinerja ekspor CPO kemungkinan dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan dari beberapa negara tujuan ekspor CPO seperti Malaysia dan Tiongkok. 

Data sistem otomasi Karantina Pertanian Pontianak, IQFAST menunjukkan bahwa total nilai ekspor komoditas pertanian Kalbar di tahun 2018 mencapai Rp. 2,8 triliun, dengan ekspor paling banyak adalah komoditas karet yang menyentuh angka Rp. 1,6 triliun.

Sedangkan data dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura menyebutkan bahwa komoditas pertanian hortikultura juga memiliki andil besar dalam kinerja ekspor pertanian terutama dengan negara tujuan Malaysia.

Selama Januari-Mei 2019 ini nilai ekspor pertanian melalui Pos Lintas Batas Entikong meningkat signifikan dan bahkan sudah di atas Rp 5 miliar yang terdiri atas buah langsat dengan nilai Rp2 miliar atau sebanyak 279 ton.

Selanjutnya pisang dengan nilai Rp693 juta atau 138 ton, jahe Rp 516 juta, kacang panjang Rp342 juta atau 16 ton, semangka Rp260 juta atau 16 ton dan jeruk Rp129 juta atau 24 ton.

Terobosan Ekspor

Guna meningkatkan kinerja ekspor komoditas pertanian, Menteri Pertanian telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 19 tahun 2019 tentang Pengembangan Ekspor Komoditas Pertanian.

Dalam peraturan tersebut, dijelaskan beberapa cara peningkatan ekspor yaitu melalui peningkatan produksi komoditas pertanian, peningkatan mutu pasca panen, promosi dan diseminasi serta peningkatan layanan perkarantinaan.

Peningkatan produksi dapat dilakukan dengan cara perluasan areal baru dan intensifikasi melalui penerapan budi daya pertanian yang baik (Good Agiculture Practices/ GAP) sedangkan peningkatan mutu pasca panen dapat dilakukan melalui penerapan penanganan yang baik (Good Handling Practices/ GHP), penerapan pengolahan yang baik (Good Manufactuing Practices /GMP) dan penerapan distribusi yang baik (Good Distibution Practices/ GDP).

Mengacu peraturan menteri tersebut, Badan Karantina Pertanian  dituntut untuk meningkatkan mutu pelayanan melalui layanan prioritas di tempat pengeluaran dan di luar tempat pengeluaran, layanan sertifikasi ekspor secara elektronik, bimbingan teknis pemenuhan persyaratan negara tujuan serta pengembangan dan penguatan sistem informasi potensi ekspor. Tentunya tuntutan ini direspon dengan baik oleh Badan Karantina Pertanian.

Sekurangnya ada lima terobosan yang telah dilakukan Badan Karantina Pertanian terkait peningkatan kinerja ekspor komoditas pertanian. Terobosan pertama adalah memberikan kemudahan bagi eksportir dalam perizinan melalui One Single Submission (OSS). OSS ramai dibicarakan setelah keluarnya Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun 2017 pada bulan September 2017 tentang Percepatan Pelaksanaan Usaha.

OSS adalah sistem perizinan berusaha yang terintegrasi secara elektronik dengan seluruh kementerian/lembaga (K/L) negara hingga pemerintah daerah (pemda) di Indonesia. OSS dimaksudkan untuk memangkas waktu dan birokrasi dalam proses perizinan usaha. Melalui OSS, diharapkan perizinan terkait ekspor komoditas pertanian menjadi lebih mudah dan cepat.

Terobosan kedua yaitu mendorong generasi milenial untuk menjadi eksportir melalui program Agro Gemilang. Agro Gemilang merupakan kependekan dari Ayo Galakan Ekspor Generasi Milenial Bangsa. Melalui program tersebut, Badan Karantina Pertanian memberikan bimbingan teknis memberikan tools aplikasi, sistem audit SPS (Sanitary and Phyto Sanitary), sistem ketelusuran dan memberikan pemahaman tentang persyaratan SPS.

Peserta Agro Gemilang terdiri dari petani muda, kelompok tani, pelaku tani, petugas rumah kemas komoditas pertanian, para eksportir, asosiasi komoditas pertanian dan mahasiswa Fakultas Pertanian. 

Terobosan ketiga yaitu kemudahan pemeriksaan karantina melalui inline inspection. In line inspection dalah tindakan karantina terhadap komoditas pertanian yang dilakukan oleh Petugas Karantina selama proses produksi atau sebagian dari proses produksi dalam rangka penerbitan Sertifikat Kesehatan Tumbuhan/Hewan.

Dalam program ini petugas karantina melakukan kunjungan langsung ke eksportir mulai dari tingkat budidaya hingga handling. Diharapkan melalui inline inspection proses sertifikasi menjadi relatif lebih cepat dan lebih mudah.

Terobosan keempat adalah melalui program Indonesian Map of Agricultural Commodities Exports (I-MACE). I -MACE merupakan aplikasi berisi informasi kinerja ekspor karantina serta data sentra komoditas pertanian berpotensi ekspor beserta negara tujuannya. Aplikasi ini diharapkan dapat digunakan oleh kepala daerah dalam mengambil kebijakan pembangunan pertanian di daerahnya. 

Terobosan kelima yakni pemanfaatan teknologi melalui elektronik sertifikat (E-Cert). Dengan E-Cert, produk pertanian yang diekspor lebih terjamin. Negara tujuan ekspor akan menerima sertifikasi secara online, kemudian langsung diperiksa dan diteliti. Kalau ada kesalahan akan disampaikan secara langsung ke Badan Karantina Pertanian.

Berbeda dengan sebelumnya, eksportir akan membawa berkas/sertifikat masih dalam hardcopy bersamaan dengan produknya. Namun jika kemudian ada ‘masalah’ terhadap produk yang dikirim, justru akan merugikan eksportir. E-Cert ini merupakan bentuk penjaminan sesungguhnya, karena produk sudah pasti bisa diterima di luar negeri.

Saat ini sudah ada empat negara yang menerapkan E-Cert yakni, Belanda, Selandia Baru, Australia dan Vietnam. Namun ke depan, diharapkan negara penerap E-Cert terus bertambah terutama negara-negara di Uni Eropa.

Semua terobosan dan upaya yang telah dilakukan Badan Karantina Pertanian tentunya akan bekerja dengan baik dan optimal apabila terus digaungkan baik melalui sosialisasi, promosi, diseminasi maupun media lainnya.

Seluruh insan pertanian termasuk Karantina Pertanian Pontianak terus berupaya menjalankan instruksi pusat dalam menggenjot ekspor komoditas pertanian Kalbar. Diharapkan melalui terobosan-terobosan ini, kinerja ekspor produk pertanian khususnya di Kalimantan Barat terus meningkat sehingga meningkatkan pula kesejahteraan petani dan masyarakat.

"Kami yakin melalui kinerja dan upaya kita bersama, pertanian akan terus menjadi penggerak utama roda perekonomian Kalimantan Barat," tutup drh. Taryu

 

 

Reporter : Taryu
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018