Friday, 07 May 2021


Memantik Sektor Pertanian Penyelamat Krisis dengan Insentif yang Tepat

27 Apr 2021, 18:03 WIBEditor : Ahmad Soim

Alsintan dari Kementan | Sumber Foto:Dok Humas Kementan

      

Dr. Fadli Zon, M.Sc.-- Ketua Umum DPN HKTI

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Di tengah krisis akibat pandemi Covid-19, pertanian kembali menjadi penolong perekonomian. Seperti yang terjadi pada krisis keuangan Asia tahun 1998, di saat sektor lain mengalami kontraksi tajam, sektor pertanian Indonesia tetap memberi kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi dan Produk Domestik Bruto (PDB). 

Pada awal pandemi, atau sepanjang tahun 2020, hampir semua sektor ekonomi tumbuh negatif. Dari enam sektor penyumbang ekonomi terbesar, hanya sektor pertanian (tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan) yang mencatatkan pertumbuhan positif. Sedangkan sektor industri, perdagangan, konstruksi, transportasi, dan akomodasi makan minum, semuanya mengalami pertumbuhan negatif. Menurut BPS (Badan Pusat Statistik) sepanjang tahun 2020 sektor pertanian tumbuh positif sebesar 1,75 persen.

Menurut FAO (Food and Agriculture Organization), selama pandemi sektor pertanian Indonesia juga berhasil meningkatkan pertumbuhan PDB sekitar 2,19 persen dibandingkan tahun sebelumnya (year on year). Padahal, pada saat bersamaan, sebagian besar sektor lain, seperti transportasi dan pergudangan, mengalami penurunan tajam. Jika dibandingkan dengan dua sektor besar lainnya, yaitu manufaktur dan perdagangan, sektor pertanian juga tercatat mengalami peningkatan paling positif.

Selain itu, kontribusi sektor pertanian terhadap PDB Indonesia juga terus meningkat. Pada 2019, kontribusi sektor pertanian terhadap PDB kita hanya 12,9 persen. Sementara saat ini, kontribusinya terhadap PDB naik menjadi 15,01 persen. Makanya tak berlebihan jika dikatakan dampak pandemi terhadap perekonomian kita cukup tertolong oleh daya tahan sektor pertanian. Banyak orang yang kehilangan pekerjan dari sektor-sektor perkotaan, seperti yang terjadi pada krisis 1998 dulu, berhasil diselamatkan oleh sektor pertanian dan perdesaan.

BACA JUGA:

Bahkan, meminjam analisis Chris Manning (2021), dengan insentif yang tepat, kebangkitan sektor pertanian dan perdesaaan ini memiliki potensi menjadi lebih permanen daripada yang pernah terjadi saat krisis 1998. Apalagi, mengingat kemajuan teknologi saat ini, banyak pekerjaan yang semula hanya bisa dikerjakan di kota, kini bisa dikerjakan dari desa. Peluang baru berupa kehadiran e-commerce atau marketplace juga dapat berkontribusi pada pertumbuhan pertanian dan pendapatan petani.

Selain itu, sektor pertanian juga menjadi penyelamat ekspor kita. Meskipun antara tahun 2016 hingga 2018 pangsa ekspor pertanian mengalami penyusutan, namun di masa pandemi ini pangsanya justru mengalami peningkatan. Menurut BPS, ekspor pertanian Indonesia pada Maret 2021 mengalami peningkatan hingga dua digit. 

Secara ‘month to month’ (mtm) peningkatan ekspor pertanian mencapai US$0,39 miliar, atau meningkat 27,06 persen. Peningkatan ini adalah yang tertinggi dibanding sektor lain, seperti sektor migas (5,28 persen), sektor industri pengolahan (22,27 persen), serta sektor pertambangan dan lainnya (13,68 persen). Komoditas pertanian yang mengalami kenaikan ekspor cukup besar di antaranya adalah sarang burung walet, tanaman obat, aromatik dan rempah, tembakau, serta cengkeh. Sementara, secara ‘year on year’ (yoy), ekspor pertanian juga tumbuh sebesar 25,04 persen.  

Meski tahun lalu kita dihantui ancaman rantai pasok pangan, akibat munculnya berbagai macam pembatasan sosial, namun data menunjukkan produksi padi kita pada 2020 justru mengalami peningkatan. Menurut data BPS produksi padi pada 2020 adalah sebesar 54,65 juta ton GKG (gabah kering giling), atau naik sebesar 45,17 ribu ton (0,08 persen) dibandingkan 2019. Jika dikonversikan menjadi beras, produksi beras pada 2020 adalah sebesar 31,33 juta ton, alias mengalami kenaikan sebesar 21,46 ribu ton (0,07 persen) dibandingkan tahun 2019.

Untuk tahun ini, BPS memperkirakan potensi produksi periode Januari–April 2021 mencapai 14,54 juta ton beras, atau mengalami kenaikan sebesar 3,08 juta ton (26,84 persen) dibandingkan ‘subround’ produksi beras tahun lalu yang hanya sebesar 11,46 juta ton. Adapun potensi luas panen padi pada subround Januari–April 2021 diperkirakan mencapai 4,86 juta hektare atau mengalami kenaikan sekitar 1,02 juta hektare (26,53 persen) dibandingkan subround yang sama sebesar 3,84 juta hektare. Karena itu, sangat aneh rencana pemerintah akan melakukan impor beras beberapa waktu lalu. Kebijakan impor beras pasti merugikan petani dan menghancurkan harga gabah.

Di luar tanaman pangan, di tengah-tengah pandemi ini kita juga mengalami surplus produksi daging dan telur ayam, sehingga tak harus mengimpor dari luar.

Semua data tadi sebenarnya memberi gambaran yang cukup bahwa sektor pertanian adalah penyelamat krisis. Di tengah kontraksi ekonomi global, sektor pertanian bisa menjadi bantalan krisis yang efektif. Sehingga, sektor ini seharusnya mendapat perhatian, perlindungan, serta investasi yang cukup dari pemerintah. 

Di hari ulang tahun yang ke-48, HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) ingin mengingatkan bahwa pertanian adalah tulang punggung bangsa. Tidak ada peradaban besar di dunia yang tidak ditopang oleh kemajuan sektor pertanian. Tak heran jika dulu Bung Karno menggunakan istilah “PETANI” sebagai akronim dari “Penjaga Tatanan Negara Indonesia”. Petani dan sektor pertanian adalah tulang punggung bangsa ini. 

 

Dirgahayu HKTI ke-48!

Jakarta, 27 April 2021

 === 

 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018