
Menteri BUMN, Erick Thohir kukuhkan pengurus MPPI
Sementara itu Ketua Umum MPPI terpilih, H.E. Herman Khaeron mengatakan, kehadiran Menteri BUMN dalam pengukuhan Pengurus MPPI ini merupakan out of the box. Apalagi ada strategi baru dalam pengeloaan BUMN. Misalnya, selama dua tahun bangsa Indonesia dihantam krisis covid-19, Kementerian BUMN bergerak paling agersif. Begitu juga saat bencana alam.
Bahkan lanjut Herman, Kementerian BUMN juga membentuk ID Food yang pengelola sektor hulu hingga hilir. Ke depan BUMN juga bagian penting dalam pelaksanaan UU No. 18 Tahun 2012 menuju pangan yang berdaulat dan mandiri. “Kami tawarkan MPPI menajdi wadah entites pelaku dan praktisi untuk bisa mempertahankan Indonesia yang merupakan negara agraris, bisa berdaulat dan mandiri,” ujarnya.
Herman juga melihat petani menjadi bagian yang tidak bisa ditinggalkan dalam mengejar sektor pangan. Karena itu berharap, sebagai sebuah forum, MPPI harus menjadi pengikat untuk berdiskusi, melahirkan ide dan gagasan, bahkan menampung curahan hati seluruh pihak di dunia perbenihan dan perbibitan tanah air.
“Jadi sebagai organisasi naungan, harusnya MPPI menjadi organisasi pejuangan, baik sektor perbenihan maupun pertanian. Bahkan menjadi wadah yang melahirkan solusi bagi bangsa,” katanya.
Tantangan Serius
Komisaris Utama PT. ID Food/RNI, Bayu Krisnamurthi mengatakan, dalam membangun sistem pangan kita menghadapi masalah serius. Tantangan pertama, consumer. Dengan pertambahan penduduk yang cukup pesat menjadi tantangan serius. Pada tahun 2045, Indonesia akan tambahan 50 juta jiwa.
Tantangan lainnya adalah kendala, termasuk lahan yang makin terbatas. Karena itu, Bayu mengusulkan agar MPPI mendorong urban farming yang harus diikuti dengan perbenihan. Jadi ke depan masalahnya bukan hanya lahan, tapi juga benih unggul. “Tantangan komplik antar negara juga dapat berpengaruh terhadap pangan dunia. Persoalan lain yang dihadapi adalah wabah Covid-19,” katanya.
Bayu melihat, sistem perbenihan dan perbibitan harus bisa menjawab tantangan pangan tersebut. Untuk itu, ia berharap, MPPI harus bisa membangun sistem perbenihan, bukan hanya produksi benih tapi juga distribusi benih lebih profesional. “Kalau perlu kita meninjau ulang sistem perbenihan,” katanya.
Bayu melihat setidaknya ada lima tantangan dalam sistem perbenihan dan perbibitan. Pertama, benih dan bibit adalah industri yang berbasis riset. Riset dan pengembangan adalah sebuah keharusan dalam industri benih. “Bagaimana bisa mendapatkan benih tahan kering, perlu dengan riset,” katanya.
Kedua, benih memerlukan iklim bisnisi yang sehat. Pasalnya, untuk mendapatkan benih unggul lebih spekulatif dibandingkan budidaya itu sendiri. Jadi, jika tidak terjaga industri benihnya, maka siapa yang akan investasi.
Ketiga, untuk mendapatkan produktivitas benih yang tinggi diperlukan teknologi modern. Keempat, industri benih harus bisa berinteraksi dengan petani, khususnya memberikan bimbingan kepada petani. “Tantangan kelima adalag bagaimana kita kerjasama. Kerjasama bagian yang tak terelakan dalam pengembangan perbenihan dan perbibitan,” tuturnya.