Wednesday, 21 October 2026


Potret Dunia Perbenihan di Mata Ricky Gunawan

01 Jun 2023, 23:51 WIBEditor : Yulianto

Ricky Gunawan, Ketua Umum Asbenindo

TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA---Banyak pekerjaan rumah (PR) di dunia perbenihan dalam negeri. Potret ini yang diungkap Ketua Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo), Ricky Gunawan yang melihat perbenihan di Tanah Air secara objektif dari berbagai sisi.

Meski secara umum, kondisi perbenihan kita saat ini sudah lumayan baik, namun Ricky menilai banyak regulasi yang perlu disesuaikan. Apalagi dengan kian berkembangnya teknologi perbenihan di di dunia.  “Dari segi regulasinya mesti banyak penyesuaian,” ujarnya kepada Tabloid Sinar Tani di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ricky melihat dari sisi pendaftaran varietas masih terlalu banyak persyaratan. Jika mengikuti proses yang ada saat ini, maka proses pendaftaran cukup lama dan memakan biaya banyak. Namun di sisi lain, masih belum menjamin varietas tersebut akan diminati masyarakat atau laku di pasar. “Ini dari segi bisnis ya,”  katanya.

Dibandingkan di luar negeri, menurut Ricky, pendaftaran sebuah varietas jauh lebih sederhana dan lebih cepat dalam pengenalan pasar. Untuk itu ia berharap pemerintah Indonesia harus segera berbenah. Jika tidak, maka Indonesia akan semakin ketinggalan dengan berbagai benih-benih baru. Apalagi kini teknologi benih kian berkembang, dari mulai GMO maupun teknologi lainnya.

“Memang benih GMO sekarang diijinkan di Indonesia, sudah ada regulasinya, namun hanya untuk livestock bukan untuk dikonsumsi masyarakat. Selain GMO sekarang juga ada benih berteknologi genome editing yang akan semakin menarik dan banyak negara yang membicarakanna. Tapi di Indonesia masih belum ada peraturan yang mendukung gene editing ini,” katanya.

Mengenai varietas yang sudah terdaftar di Kementerian Pertanian, Ricky mengakui sudah banyak. Perusahaan yang tergabung dalam Asbenindo selalu taat hukum untuk mendaftarkan varietasnya. Tapi varietas yang dikenal di masyarakat dan bisa diterima hanya sebagian kecil. “Jadi bisnis perbenihan itu banyak risikonya,” katanya.

Mengenai perkembangan benih, Ricky melihat sudah ada perubahan teknologi. Misalnya, benih jagung. Petani Indonesia saat ini lebih menyukai benih jagung hibrida ketimbang komposit. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan petani, tidak perlu lagi mengimpor benih jagung hibrida. “Kita sudah bisa menanam sendiri dan mencukupi kebutuhan dalam negeri,” ujarnya.

Ricky menggarisbawahi jangan sampai keberhasilan dalam perbenihan jagung terhenti pada kebanggaan untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Namun, ia berharap industri jagung dalam negeri juga bisa mencukupi kebutuhan negara tetangga, dengan kata lain bisa ekspor benih. “Jadi jika ada negara lain yang kesulitan menanam benih, bisa dialihkan dan kita menanam untuk ekspor,” tambahnya.

Namun ia melihat, kondisi berbeda terjadi pada benih padi yang masih lambat pergerakannya menuju padi hibrida, meskipun sudah dikenalkan sejak 30 tahun terakhir. Bahkan perkembangan penanaman padi hibrida di petani belum memuaskan. “Saat ini masih sporadis di daerah tertentu. Mereka sudah paham kalau benih hibrida lebih mahal dengan hasil yang lebih banyak dan lebih baik,” urainya.

Untuk itu Ricky berharap dukungan pemerintah dalam pengembangan benih padi hibrida perlu dilakukan. Hingga kini, produsen benih cukup kesulitan memproduksi benih F1 padi hibrida karena tidak bisa tumbuh di setiap daerah, bahkan untuk mencapai keenomian masih belum bisa tercapai. “Minimal 1 hektar, bisa menghasilkan 2 ton, sekarang baru bisa diproduksi 1 ton, sehingga belum bisa menyediakan benih hibrida yang banyak,” ungkapnya.

Sebelumnya, menurut Ricky ada kebijakan pemerintah yang memperbolehkan impor jika kebutuhan benih F1 di dalam negeri masih belum tercapai. Namun, kondisi berbeda terjadi selama 5 tahun terakhir. Impor benih, khususnya pangan sudah tidak diperbolehkan lagi, harus mengandalkan produksi benih di dalam negeri.

“Tak hanya benih tanaman pangan, benih hortikultura juga diberlakukan demikian, sehingga terkadang produksi benih hortikultura tidak mencukupi kebutuhan petani dan pasar,” sesalnya.

Untuk mengatasi dunia perbenihan dalam negerri, pemerintah dan swasta harus duduk bareng. Ini saran Ricky. Baca halaman selanjutnya.

 

Reporter : Herman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018