Kamis, 18 Juli 2024


Meramu Kembali Sistem dan Regulasi Perbenihan

17 Jun 2024, 18:48 WIBEditor : Yulianto

ebinar Membangun Sistim dan Regulasi Perbenihan untuk Pertanian Indonesia yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (12/6). | Sumber Foto:Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Ada ungkapan “Benih bukan Segalanya, Tapi Segalanya Tidak Ada Tanpa Benih”. Itu lah peran benih. Bahkan sebagai salah satu sarana produksi pertanian, peran benih sangat penting dalam peningkatan produksi. Artinya, benih yang dihasilkan harus memiliki kemampuan (unggul).

Dengan peran penting benih, Ketua Umum Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia (MPPI), Herman Khaeron menilai, dalam menyusun perundang-undangan dan peraturan harus mengetahui filosofi benih. Artinya, dalam menyusun regulasi perbenihan sebagai pedoman, pemerintah harus memahami siapa penggunan peraturan dan unsur teknisnya.

“Benih adalah ruh dalam kehidupan. Karena itu, kita harus pahami tidak ada benih, tidak ada kehidupan. Jadi terpenuhi kebutuhan pangan tergantung benih,” katanya saat webinar Membangun Sistim dan Regulasi Perbenihan untuk Pertanian Indonesia yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (12/6).

Menurut Herman, perundang-undangan dalam perbenihan harus komprehensif dari hulu, tengah hingga hilir. Bukan hanya itu, regulasi juga harus sederhana untuk memudahkan pelaku usaha dalam memproduksi benih. Misalnya, regulasi dalam pendaftaran dan pelepasan varietas jangan sampai mempersulit pelaku usaha, karena sangat penting sebagai daya tarik industri benih.

Selain regulasi, anggota DPR RI dari Partai Demokrat ini menegaskan, untuk menghasilkan benih unggul, pemerintah juga harus membuka peluang masuknya inovasi. Di beberapa negara, dengan kemudahan regulasi justru mendorong lahirnya inovasi.

“Kalau pelepasan lambat, maka inovasi juga menjadi lambat. Jadi percepatan pelepasan akan mempercepat inovasi dan kreatifitas dalam perkembangan benih dalam negeri. Jika sulit, maka akan menghambat pelaku usaha,” ujarnya

Satu hal lagi yang menjadi sorotan Herman adalah manajemen perbenihan. Pemerintah katanya, harus mempunyai perencanaan yang matang terhadap kebutuhan benih. Bahkan harus ada neraca benih untuk komoditas prioritas atau strategis.

Benih, Bisnis Kepercayaan

Sementara itu Sekjen Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo), Nana Laksana Ranu mengatakan, bisnis benih adalah bisnis kepercayaan. Karena itu, industri benih saat menghasilkan benih tidak akan main-main. “Justifikasi bagi industri benih adalah tidak unggul, tidak ada pasar. Keunggulan suatu varietas menjadi selling point bagi pemasaran,” katanya.

Bagi industri benih, menurut Nana, orientasi efisiensi produksi dan distribusi mempunyai arti penting, selain keunggulan dan kualitas benih agar bisnis perbenihan terus berkembang dan menguntungkan. Karena itu, sistem dan regulasi perbenihan menjadi rambu dalam bisnis perbenihan.

“Ketika pemerintah mengeluarkan UU Cipta Kerja secara ruh sudah bagus, tapi dalam pelaksanaan tidak mudah bagi pelaku usaha. Peraturan pemerintah itu harus konsekuen. Jangan ada kebijakan yang merugikan produsen,” tuturnya.

Sebagai sarana produksi, menurut Nana, benih tidak bisa tergantikan dalam sistem budidaya tanaman. Untuk itu, negara harus mempunyai rencana berapa besar benih yang dibutuhkan, khususnya komoditas strategis. Dengan demikian perusahaan bisa merencanakan produksinya.

“Selama ini industri telah mempunyai perencanaan untuk pasar bebas. Tapi program pemerintah datangnya mendadak. Lebih parahnya ketika industri sudah menyediaan benihnya, ternyata anggarannya direfocusing, sehingga benih tidak bisa dijual,” ungkapnya.

Tantangan industri hingga kini masih cukup besar. Baca halaman selanjutnya.

Bagi Sahabat Tabloid Sinar Tani bisa mendapatkan materi dan e sertifikst dengan mengunduh link bawah ini.

Link Materi : Materi Webinar Perbenihan

Link E Sertifikat :  E Sertiifikat Webinar Perbenihan

Link Siaran Youtube SINTA TV : Siaran SINTA TV Webinar Perbenihan

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018