Wednesday, 21 October 2026


Perubahan Iklim Tantangan Industri Benih

03 Jun 2023, 07:17 WIBEditor : Yulianto

Perubahan iklim menjadi tantangan berat bagi industri benih dalam negeri

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Perubahan iklim menjadi tantangan besar bagi dunia perbenihan dalam negeri. Dampak perubahan iklim global dalam tiga tahun terakhir ini sangat nyata mempengaruhi produksi pertanian. Bagaimana industri perbenihan menyiasati fenomen alam tersebut?

Presiden Direktur PT Benih Citra Asia, Slamet Sulistiyono melihat, tantangan dunia pertanian Indonesia saat ini sangat besar. Selain perubahan iklim, pertanian Indonesia masih dihadapkan masalah internal. Sebuyt saja., dicirikan atau didominasi usaha tani skala kecil. Rata-rata pengusahaan lahan petani padi sawah kurang dari 0,2 ha.

Selain itu, adanya ketidakseimbangan produksi pangan antar wilayah. Hampir untuk semua komoditas, proporsi produksi pangan di Jawa lebih dari 50 persen dari produksi pangan nasional. Tantangan lainnya, proporsi kehilangan hasil panen dan pemborosan pangan masih cukup tinggi. “Kehilangan pangan atau food losses terjadi karena ketidaktepatan penanganan pangan mulai dari saat panen sampai dengan pengolahan dan berlanjut pada pemasaran,” ujarnya.

Saat menurutnya, dampak perubahan iklim ekstrim menjadi tantangan berat bagi petani dan industri perbenihan. Suhu tinggi yang konstan kini menyebabkan kekeringan. Penguapan yang cepat menyebabkan kandungan air dalam tanaman semakin sedikit dan berujung pada layu tanaman dan kematian sel.

Suhu tinggi juga mempercepat siklus hidup dan menambah populasi serangga hama tanaman dengan cepat (out break) sehingga tanaman budidaya mengalami kerusakan ekonomis yang cukup parah. Penyebaran virus tanaman seperti Geminivirus oleh serangga vector juga semakin cepat dan meluas.

Sementara itu, perubahan pola dan curah hujan juga menjadi kendala. Curah hujan yang tinggi menimbulkan genangan di areal penanaman dalam waktu yang lama menimbulkan kerusakan pada banyak tanaman yang tidak mampu dalam cekaman rendaman/genangan.

“Pola cuaca yang tidak menentu, hujan panas secara pergantian dalam waktu yang lama juga sangat mempengaruhi performa tanaman, utamanya dari sisi ketahanan penyakit. Kelembaban yang tinggi memicu banyak munculnya pathogen dari golongan jamur dan bakteri,” ungkapnya.

Strategi Industri Benih

Bagaimana strategi mengurangi dampak perubahan iklim? Slamet mengatakan, keterlibatan industri benih berdampak positif dalam menghadapi perubahan iklim ekstrim. Secara struktural melalui pembangunan fisik. Misalnya, green house, shelter, perbaikan sistem irigasi, perbaikan cara budidaya menggunakan nutrisi tersentral dan terkontrol untuk menghindari kelayuan karena cuaca panas.

Sedangkan secara non struktural, Slamet memberikan saran dengan penanaman varietas tahan/toleran, pemanfaatan SDG lokal sebagai gene pool gen ketahanan abiotik/biotik, menerapkan teknologi budidaya adaptif dan ramah lingkungan.

Selain itu kata Slamet, diperlukan inovasi teknologi adaptif untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim. Misalnya, pemilihan varietas unggul baru/adaptif  yakni, varietas toleran rendaman dan genangan, varietas toleran kekeringan, varietas tahan OPT, varietas umur genjah.

Pengembangan bioteknologi juga perlu dilakukan industri benih guna menghadapi perubahan iklim. Diantaranya dengan teknologi double haploid untuk menghasilkan galur baru dengan keseragaman tinggi dengan karakter tertentu yang diinginkan seperti tahan cekaman. Bisa juga dengan pengembangan marka molekuler untuk seleksi galur tahan terhadap cekaman lingkungan.

Paling terbaru adalah pengembangan editing genome. Saat ini sudah ada varietas genome editing yakni cabai tahan gemini virus  dan jagung tahan bulai dan cekaman tertentu.

Industri benih kata Slamet juga bisa pemanfaatan teknologi DNA. Seperti, tanaman transgenik yakni teknologi memasukkan gen tertentu ke tanaman untuk meningkatkan daya tahan terhadap penyakit, meningkatkan buah/hasil. Teknologi DNA lainnya dengan cloning dengan memperbanyak gen secara artifisial, baik sebagian maupun secara keseluruhan pada tanaman maupun hewan.

“Teknologi DNA lainya adalah typing. Kita ketahui gen setiap tanaman adalah unik seperti sidik jari manusia. Nah, dengan DNA typing dapat membantu mengidentifikasi bibit unggul serta sistem kekerabatan antar tanaman,” katanya.

Sementara itu Managing Director East West Indonesia, Glenn Pardede juga menganggap serius dampak perubahan iklim. Sebab dampaknya dapat mereplikasi virus yang menyerang tanaman hortikultura dengan semakin agresif. Ia menganggap pentingnya mengawasi perkembangan penyakit baru yang muncul secara global.

“Kita harus memahami bahwa penyakit tersebut tak akan lama lagi mencapai Indonesia, membawa ancaman bagi produksi tomat dan cabai, yang merupakan tanaman penting bagi negara ini. Kita harus mengambil langkah-langkah yang tepat," ujarnya.

Glenn mengatakan, strategi secara fisik tak cukup guna mengatasi perubahan iklim, tapi juga perlunya memanfaatkan pendekatan non-fisik. Salah satu tindakan yang diambil adalah dengan menanam varietas tanaman yang lebih toleran terhadap penyakit tersebut. “Pelaku usaha terkait harus berkolaborasi untuk menghadapi ancaman penyakit baru ini,” katanya

Reporter : Indri
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018