
Petani Muda Cilacap Lakukan Magang di P4S Lestari Adimulya
TABLOIDSINARTANI.COM, Cilacap — Sebanyak 28 petani muda peserta program magang usaha tani di Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Lestari Adimulya, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, menunjukkan antusiasme tinggi mempraktikkan penanaman padi dengan Sistem Sawah Pokok Murah (SPM) di lahan Desa Adimulya, Jumat (10/10).
Program magang ini berlangsung selama dua bulan, mulai 15 September hingga 15 November 2025, dengan fokus pada praktik lapangan dan pembuatan pupuk organik.
Selama 45 hari kerja, peserta belajar membuat Pupuk Organik Cair (POC), Pupuk Organik Padat, Bio Saka, Bio Meta, hingga fermentasi kotoran kambing.
Selain itu, mereka juga mempraktikkan budidaya melon, cabai, dan padi sistem SPM serta SRI (System of Rice Intensification).
Dalam praktik lapangan, para peserta menerapkan teknik Mulsa Tanpa Olah Tanah (MTOT). Jerami dimanfaatkan sebagai mulsa untuk menutup permukaan tanah agar tetap lembab dan subur. Selain itu, dibuat pula parit-parit kecil sebagai saluran air di antara bedengan.

“Sistem SPM ini cocok diterapkan petani kecil dengan lahan terbatas, karena biayanya murah dan ramah lingkungan,” ujar narasumber magang sekaligus pendamping pelatihan Rasko F.
Rasko menjelaskan, sistem SPM merupakan inovasi pertanian yang dikembangkan oleh Ir. Djoni dari Sumatera Barat.
Metode ini menggabungkan teknik Tanpa Olah Tanah (TOT), pemanfaatan mulsa jerami, serta prinsip SRI, sehingga mampu menghemat tenaga dan mengurangi penggunaan pupuk kimia maupun pestisida.
“SPM bisa diaplikasikan bagi petani dengan lahan kurang dari setengah hektare. Cukup menggunakan alat sederhana dan semangat belajar,” tambahnya.
Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) BPP Wanareja, Eni Edniyanti, yang turut mendampingi kegiatan magang, menegaskan bahwa program ini bertujuan mendorong regenerasi petani muda.
“Usia peserta magang semuanya di bawah 40 tahun. Harapannya, mereka bisa menerapkan ilmu pertanian modern di desa masing-masing,” ujarnya.
Eni menambahkan, peserta magang berasal dari beberapa desa di Kecamatan Wanareja. Lokasi pelatihan dipilih di kawasan pedesaan agar lebih dekat dengan lahan praktik, sekaligus menumbuhkan minat petani muda terhadap dunia pertanian.
Salah satu peserta, Robana, mengaku termotivasi untuk menerapkan sistem SPM setelah mengikuti magang.
“Sejak 2016 saya sudah bertani padi dan hortikultura, tapi belum pernah menggunakan sistem bedengan seperti SPM. Setelah magang ini, saya berencana mencobanya di lahan sekitar 100 ubin,” ungkapnya.
Selain menanam padi, peserta juga diajarkan budidaya melon dan cabai sebagai alternatif usaha tani bernilai ekonomi tinggi.
“Melon punya daya jual bagus dan tidak butuh lahan luas. Semoga bisa menarik minat petani milenial untuk bertani,” kata Eni.
Para peserta yang telah tergabung dalam kelompok tani (Poktan) diharapkan dapat menularkan ilmu yang didapat kepada anggota lain di desanya.
“Yang belum bergabung, kami dorong untuk ikut dalam kelompok tani agar pengembangan pertanian bisa berkelanjutan,” pungkas Eni.