Rabu, 24 Juli 2019


Syarif Syaifulloh, Teladan Petani di Negeri Paman Sam

11 Peb 2019, 13:02 WIBEditor : Yulianto

Syarif ditengah kebun sayur

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Mungkin bagi pelaku usaha pertanian di Indonesia, nama Syarif Syaifulloh belum banyak dikenal. Tapi justru di Negeri Paman Sam, Amerika Serikat, ia mendapat penghargaan Fatherhood Award atau Bapak Teladan dari Maternity Care Coalition.

Siapa sebenarnya Syarif Syaifulloh? Lahir 13 Januari 1970, Bapak tiga anak ini adalah salah satu petani organik yang cukup dikenal masyarakat AS. Bersama istrinya, Ummu Hani White, ia bercocok tanam di kebun rumahnya, Philadelphia, Pennsylvania, AS.

Sebelum merantau ke Negeri Paman Sam, Syarif adalah seorang seniman dan pelatih teater di Jakarta selama kurang lebih 5 tahun. Baru pada tahun 2001, ia ke AS. Namun, tidak serta merta menjadi petani sukses. Di awal kehidupannya, ia berjuang hidup menjadi pekerjaan kasar seperti kuli bangunan, cleaning service, kuli restoran dan lainnya.

Pada tahun 2009, ia menikah dan mulai mencoba berkebun organik pada tahun 2010. Salah satu alasan Syarif menekuni dunia pertanian adalah karena melihat harga sayuran, khususnya organik cukup mahal.

Apalagi halaman sekeliling rumahnya kosong. Lalu muncul idenya memanfaatkan lahan tersebut untuk berkebun yang hanya bermodal internet. “Saya dulu belajar otodidak, tidak punya sama sekali basic di bidang pertanian, apalagi bercocok tanam. Saya belajar lewat youtube dan google,” ujarnya.

Seperti kata pepatah, Pengalamana adalah Guru yang Terbaik. Itulah yang dialami Syarif. Tahun pertama ia menanam sayuran organik, banyak yang gagal panen. Namun semua itu tak menyurutkan semangatnya terus belajar dan mencoba lagi. Baru pada tahun ketiga, ilmu tentang kegiatan bercocok tanam mulai dikuasai dan memberikan hasil yang baik.

Awalnya, Syarif memulai berkebun dengan membeli sendiri bahan dan alat-alatnya, seperti benih dan pupuk. Baru saat kebunnya sudah mulai dikenal warga AS, Cargo M Plus M, salah satu organisasi AS secara gratis selalu memberi benih ke Pak Tani, julukan yang diberikan masyarakat AS kepada Syarif.

Empat musim

Berbeda dengan Indonesia yang memiliki dua musim (hujan dan kemarau), di AS, Syarif harus menghadapi dilema bercocok tanam di negara empat musim ini. Baginya yang paling sulit yaitu saat melakukan pembibitan pada pergantian musim dingin ke musim semi.

“Waktu pembibitan sudah tumbuh 10 cm kira-kira dalam 2 minggu itu kan tanaman harus dikeluarkan karena saya membibitnya di dalam rumah, namun sulit untuk memperkirakan cuaca, karena ketika tanaman saya keluarkan, udara dingin bisa saja tiba-tiba datang lagi, kan saya harus cepat-cepat menutup tanaman supaya tidak rusak,tutur Syarif kepada Sinar Tani.

Nah, untuk menyiasati kondisi iklim tersebut, Syarif mengakui, dirinya harus peka terhadap cuaca. Apakah cuaca aman untuk pertanaman. Biasanya pembibitan ia lakukan pada Maret. Namun sebelum pembibitan, Syarif melakukan pengolahan tanah terelebih dahulu. Untuk usia panen sendiri biasanya pada musim gugur, baru nanti November sudah mulai masuk musim dingin lagi,” ujarnya.

Bagaiaman saat musim dingin tiba? Saat itu Syarif lebih banyak membuat pupuk, baika pupuk kandang maupun kompos. “Dulu saya buat pupuk kandang dengan kotoran kuda yang dikeringkan, namun sekarang sudah ganti dengan kotoran sapi yang dikeringkan,” katanya.

Sedangkan pupuk kompos, Syarif membuatnya dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada seperti daun tanaman yang sudah busuk, limbah rumah tangga seperti ikan, sayur-sayuran yang sudah dibuang. Bahan-bahan itu kemudian dijadikan satu dan diolah menjadi pupuk kompos.

Saat ini ada kurang lebih 40 jenis sayuran yang sudah Syarif kuasai cara budidayanya. Komoditas yang menjadi favoritnya adalah kangkung, daun bawang, pare, kale, cabai, bayam, sawi, jesim, dan tomat ceri. Kangkung sendiri di Philadelphia harganya sangat mahal,” ucap Syarif.  Untuk mempercantik halaman rumahnya, Syarif juga menanam bunga seperti dahlia, tulip dan bunga kertas.

Syarif mengakui, ada perbedaan hasil dari budidaya organik dan non organik. Sayuran yang non organik, misalnya cabai, karena menggunakan pupuk kimia, waktu panennya lebih cepat dari pada yang ditanam organik. “Menggunakan bahan kimia, 2 bulan sudah bisa panen, tapi kalau organik bisa mencapai 4-5 bulan. Namun hasil tanaman organik lebih tinggi dan tentunya organik lebih sehat,” ungkapnya.

Syarif memberi naman kebun sayuran organiknya, Haiqal’s Garden. Sesuai artinya, taman yang subur.

Reporter : Pipiet Endwiyatni
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018