Selasa, 26 Maret 2019


Belajar Filosofi Bertani dari H. Ajum Arasid

21 Peb 2019, 09:45 WIBEditor : Gesha

H. Ajum menunjukkan kentang hasil produksinya | Sumber Foto:Lely

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Sukabumi --- Siapa bilang  petani itu identik dengan kemiskinan dan kebodohan? Pada kenyataannya banyak petani walau dengan  berlatar belakang pendidikan yang tidak tinggi mampu berhasil dan hidup berkucukupan.

"Petani yang miskin dan bodoh adalah petani yang tidak mau belajar, terbelenggu oleh tradisi yang kurang tepat dan tidak mau berupaya menolong dirinya sendiri dan pasrah kepada keadaan sehingga merasa sudah nasibnya. Usaha di bidang pertanian adalah usaha yang sangat mulia karena mengandung unsur ibadah dan menjanjikan untuk dapat hidup",jelasnya.

Berawal menjadi  buruh tani sayuran di wilayah  desa Perbawati  sekitar tahun 1990 an,dirinya mengamati dan mempelajari tentang teknis budidaya tanaman tomat,cabe, kubis , wortel dan lain sebagainya serta pengelolaan manajemen mengenai usaha di bidang sayuran.

Pada tahun 1998 H. Ajum mulai berusaha sendiri pada lahan seluas 0,5 ha dengan menanam caisin. Dalam waktu 5 tahun, luas lahan garapan menjadi 5 ha. Hingga kini luas lahan garapannya menjadi 19 ha.

Luas lahan garapan 19 ha tersebut terbagi menjadi 4 komoditas utama yakni tomat seluas 5 ha dengan hasil produksi 40 ton tiap ha, cabe rawit seluas 5 ha dengan produksi 20 ton tiap ha,cabe keriting seluas 5 ha dengan hasil 15 ton tiap ha dan kubis dengan 4 ha yang hasil produksi 40 ton tiap ha.

"Seiring perjalanan waktu, dan keberhasilan dalam berusaha tani, alhamdulillah saya kini memiliki rumah tempat tinggal yang sangat memadai, menyekolahkan anak-anak ke pendidikan tinggi serta kepuasan tersendiri  bagi saya dapat menunaikan ibadah Haji bersama isteri,"paparnya.

Selain itu dan tersedianya sarana penujang untuk kegiatan usahatani berupa peralatan sarana produksi, ruang Pestisida, moda transportasi baik motor ataupun mobil pun mampu ia raih.

Koordinator Penyuluh Kecamatan Sukabumi, Nourma Syahidawati menuturkan poktan yang dipimpin oleh pria  53 tahun ini mampu menyerap tenaga kerja.

Secara rutin yang terlibat dalam kegiatan usahatani ini berasal dari berbagai desa yang ada di wilayah kecamatan Sukabumi dan Kecamatan Kadudampit dengan jumlah setiap harinya rata rata sebanyak 50 orang yang terdiri dari 20 orang laki laki dan 30 orang wanita.

"Dalam satu bulan H.Ajum mengeluarkan sekitar Rp 42 juta untuk biaya tenaga kerja. Semoga dengan kesuksesan yang diraih H.Ajum dapat menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terjun dan menggeluti dunia pertanian,"kata Nourma.

 

 

Reporter : Lely
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018