Jumat, 21 Juni 2019


Slamet Wuryadi, Demi Merah Putih Tularkan Virus Bisnis Burung Puyuh

19 Mar 2019, 12:56 WIBEditor : Gesha

Slamet Wuryadi, Demi Merah Putih terus tularkan virus bisnis burung puyuh di dalam negeri | Sumber Foto:NATTASYA

Usaha penularan virus bisnis burung puyuh tersebut kini sudah mencapai 1.300 peternak di seluruh Indonesia.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Sukabumi --- Berbisnis puyuh sangat menggiurkan karena peluangnya masih besar. Karenanya, pemilik Slamet Quail Farm (SQF), Slamet Wuryadi terus menularkan virus bisnis burung puyuh ini ke seantero negeri.

"Puyuh ini endemik Indonesia dan dengan jumlah penduduk 260 juta jiwa, populasi puyuh di Indonesia baru ada sekitar 7 juta ekor dengan produksi harian sebanyak 4 juta butir telur puyuh. Belum signifikan dengan pemenuhan kebutuhan," bebernya.

"Penularan virus" bisnis burung puyuh ini dilakukan Slamet secara bottom up yaitu langsung kepada peternak yang ingin ikut merasakan peluang besar dari puyuh ini, sehingga mampu menjadi petani yang mandiri. 

Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Sub 1 Cikembar yang didirikan bersama kawan-kawan peternak puyuh di tahun 2010, menjadi motor penggerak Slamet untuk terus menularkan semangat berbisnis burung puyuh ke daerah lainnya.

Diakui oleh Slamet keuntungan per butir telur puyuh memang hanya Rp 100 saja, tetapi produksi telur per hari mencapai 26 ribu telur bisa mencapai Rp 26 juta untuk 16 peternak puyuh yang ada di sekitar Cikembar, Kabupaten Sukabumi.

Usaha penularan virus bisnis burung puyuh tersebut kini sudah mencapai 1.300 peternak di seluruh Indonesia. "Awal mula saya berbisnis karena saya lihat peluang dari bisnis puyuh ini, tidak ada pemain besarnya. Kunci bisnis dari agribisnis adalah market dulu baru berbudidaya. Jangan Dibalik!. Bakal Gatot (Gagal Total) !," tukasnya.

Slamet mengakui dirinya pernah ditawari gaji sampai Rp 400 juta ketika diundang menjadi narasumber di Malaysia untuk bisa mengembangkan bisnis burung puyuh di Negeri Jiran tersebut. "Darahku masih Merah Putih, Tulangku masih NKRI. Karenanya, saya tolak mentah-mentah ajakan tersebut. Saya justru ingin Puyuh menjadi unggas keunggulan asli Indonesia, diproduksi oleh UMKM Indonesia dan dikonsumi oleh masyarakat Indonesia," tegasnya.

Kini untuk menyebarluaskan ilmu puyuh yang dimiliki, Slamet mengembangkan pojok wirausaha dimana mahasiswa dari berbagai wilayah Indonesia, banyak yang magang di tempatnya. Tak terkecuali santri tani millenial yang diakomodir oleh Kementerian Pertanian.

"Kita siap membantu dengan modal berapapun untuk memulai usaha ternak puyuh. Kami akan beri masukan sesuai dengan kondisi masing-masing. Bahkan jika pemasarannya belum ada, PT SQF siap menampung produksi dari kawan-kawan," tuturnya.

Cinta Puyuh

Jalan Slamet mencintai puyuh, tak terlepas dari pengalamannya sendiri sejak menempuh kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB). Awal kariernya juga menghantarkan Slamet bekerja di korporasi peternakan, Sierad. Titik luncur dirinya menguasai ilmu dan praktik budidaya puyuh juga didapatkan Slamet saat menjadi Manajer PT Golden Quail Farm, sebuah peternakan puyuh terbesar di Asia.

"Kalau saya sendiri berbisnis puyuh dari 2002 dengan investasi awal hanya 600 ekor puyuh. Dan berkembang terus hingga sekarang menjadi 26 ribu ekor yang tersebar di peternak sekitar," beber Slamet.

Dirinya memang memulai bisnis puyuh dari nol dan menjadi kelebihan bisnis puyuh karena bisa dimulai dari modal yang sangat kecil sehingga praktis dicoba oleh siapapun.

Ternak puyuh Slamet pun berkembang pesat karena beternak puyuh memang mudah dan kemampuannya untuk terus mengkaji dan meneliti segala hal yang berkaitan dengan beternak burung puyuh agar efisien. Salah satu penelitiannya adalah pemuliaan mutu genetik yang dibudidayakannya.

Dari berusaha sendiri, Slamet kemudian menularkan virus bisnis puyuhnya kepada tetangga sekitarnya dan membentuk kelompok tani dan membentuk unit bisnis PT Slamet Quail Farm (SQF). Dirinya kemudian merumuskan SOP untuk memelihara puyuh agar lebih efisien.

"Beternak puyuh itu, rakyat banget. Siapa saja bisa beternak puyuh. Tidak harus pengusaha besar. Puyuh juga menjadi mutiara terpendam, bahkan tidak pernah muncul di berbagai pameran besar industri peternakan," bebernya. Padahal, diantara usaha peternakan lainnya. BEP usaha puyuh termasuk paling cepat yaitu kurang dari dua tahun. 

Usaha ternak puyuhnya kini tidak hanya menyentuh peternak puyuh di kandang saja tetapi juga kaum perempuan di Sukabumi, khususnya perempuan single parent. Melalui kelompok yang dibentuk Slamet, kaum perempuan dilatih mengembangkan berbagai olahan berbasis puyuh. Mulai dari bakso puyuh, telur puyuh asin, abon puyuh, hingga steak puyuh. Bahkan dalam lomba se-Provinsi Jawa Barat, Bakso Puyuh dari PT SQF berhasil menyabet juara pertama. 

Eksistensi Slamet kemudian berbuah penghargaan Pelopor Ketahanan Pangan (2013), Nastiti  Budidaya Satwa (2014) hingga Adhikarya Pangan Nusantara (2015). Untuk masa depan, dirinya ingin agar Indonesia mampu mencintai puyuh dengan mengkonsumsi aneka produk puyuh, serta membudidayakannya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018