Selasa, 23 April 2019


Tanam Jahe Off Season, Asep Raih Omzet Rp 40 Juta !

04 Apr 2019, 16:55 WIBEditor : Gesha

Dengan bertanam di luar musim panen, petani mendapatkan harga yang terbaik | Sumber Foto:Wiwi Sutiwi

untuk menanam jahe off season perlu diperhatikan ketersediaan air pada awal tanam karena penanaman dilakukan pada bulan Maret - Juli, di mana belum datang musim hujan. Sementara itu, kata Asep, petani pada umumnya menanam pada awal musim hujan yaitu

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Cianjur --- Jadi petani itu harus kreatif dan mampu memanfaatkan peluang pasar yang terbuka lebar. Misalnya dengan memanfaatkan pertanaman diluar musim (off season) yang tidak banyak pesaing, sehingga mendapatkan harga yang terbaik.

Seperti yang dilakukan oleh Ketua Kelompok Tani Cibodas, Asep dari Desa Kutawaringin, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur yang bertanam jahe off season. Kabupaten Cianjur memang merupakan salah satu sentra jahe nasional terbesar kedua di Provinsi Jawa Barat.

Poktan Cibodas ini memproduksi jahe di lahan 6 hektare selama 15 tahun terakhir. "Dari semua yang kami tanam, jahe itu yang paling menguntungkan. Saya pribadi Alhamdulillah maju terus untuk menanam jahe. Apalagi jika jahe ditanam off season, harga jahe lebih tinggi, penghasilan petani jadi bertambah. Untuk satu kali panen bisa menghasilkan Rp 40 juta," ujar Asep.

Asep menilai, harga bagus ini karena belum banyak petani yang menanam sedangkan permintaan jahe terus naik. "Saat ini petani bisa mendapatkan harga  bagus, Rp 14 ribu per kg untuk jahe gajah dan Rp 17 ribu per kg untuk emprit dan merah. Perkiraan biaya produksi Rp 6 ribu per kg dengan produktivitas rata - rata Rp 20 ton per hektare," beber Asep.

Diakuinya, untuk menanam jahe off season perlu diperhatikan ketersediaan air pada awal tanam karena penanaman dilakukan pada bulan Maret - Juli, di mana belum datang musim hujan. Sementara itu, kata Asep, petani pada umumnya menanam pada awal musim hujan yaitu sekitar awal bulan Okober - November.

Dengan waktu tanam sampai panen sekitar sembilan bulan, Asep menyiasati tanam tumpang sari dengan tanaman cabai dan jagung manis yang umur panennya lebih pendek, sehingga tetap ada pendapatan bertani. 

Untuk memenuhi permintaan pasar yang beragam, Asep dan kelompoknya menanam tiga jenis jahe yakni jahe gajah, emprit dan merah. Kebutuhan di dalam negeri seperti untuk bumbu atau minuman menggunakan jahe gajah dan emprit. 

"Jahe merah dan jahe emprit banyak dimanfaatkan untuk bahan baku jamu dan obat, sedangkan jahe yang diekspor adalah jenis jahe gajah,” ujar Asep.  

Selain memasarkan jahenya ke Pasar Tanah Tinggi dan Pasar Kramat Jati, Asep juga menjual jahenya ke pengumpul bahan baku industri jamu yang terletak di Kecamatan Mande dan pasar lokal lainnya.

Catatan dari Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian, komoditas jahe ini volume ekspornya apabila dirata - ratakan periode 2013 - 2018 meningkat 41 persen per tahun. 

Merujuk data BPS, produksi jahe 2017 sebesar 216 ribu ton sementara angka produksi sementara 2018 mencapai 434 ribu ton. Kenaikan ini menunjukkan gairah tanam petani untuk melirik komoditas ini. Pada 2019 ini Kementerian Pertanian memberikan bantuan kawasan jahe seluas 290 hektare. Seluas 15 hektare di antaranya dialokasikan di Kabupaten Cianjur.

Di Cianjur sendiri, rata - rata luas tanam jahe di Kabupaten Cianjur mencapai 1.372 hektare per tahun, tersebar di beberapa kecamatan termasuk Kecamatan Mande. 

"Peluang bertanam jahe itu enggak ada matinya. Apalagi bila ditanam di luar musim (off season). Karena jahe masih digunakan sebagai bahan baku minuman dan obat," tukasnya

 

Reporter : Wiwi Sutiwi
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018