Minggu, 16 Desember 2018


Menteri Pertanian Amran Sulaiman Angkat Jempol untuk Para Peneliti Inovatif

06 Sep 2018, 10:47 WIBEditor : Ahmad Soim

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan royalti kepada para peneliti yang menghasilkan inovasinya

Bagi peneliti pertanian yang kreatif ada peluang menjadi konglomerat dari hasil royalti paten yang dihasilkannya

Sektor pertanian  membuka peluang yang lebar jika ditekuni dengan baik.Bagi peneliti pertanian ada peluang   menjadi konglomerat baru karena royalti inovasi yang dilisensi (kerjasama alih teknologi dan pengembangannya) dengan pihak swasta maupun BUMN.

"Selamat untuk para peneliti pertanian, bahkan tadi ada (inventor) jagung yang mendapatkan royalti Rp 2 Milyar. Tolong ini (inovasi) jangan sampai dilepas, 10 tahun ke depan royaltnya bisa menapai Rp 10 Milyar. Nanti konglomerat baru dicetak dari pertanian," tegas Menteri Pertanian Amran Sulaiman setelah memberikan penghargaan royalti kepada  14 orang inventor bidang pertanian di Lapangan Balai Besar Biogenetik Pertanian, Kampus Penelitian Cimanggu, Bogor, Selasa (14/8).

Berdasarkan catatan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), tiga tahun terakhir (2016-2018 yang merupakan hasil produksi 2015-2017), kompensasi royalti yang berhasil diterima oleh peneliti Balitbangtan mencapai Rp 12,8 M atau meningkat 260% dibandingkan pada tiga tahun sebelumnya (hasil produksi 2011-2014) yang hanya Rp 4,7 M.

Menteri Amran menyebut, bergairahnya peneliti karena dibangunnya sistem yang menguntungkan peneliti sebagai pemilik inovasi. "Kami masih ingat, 3 tahun lalu kami bertemu peneliti profesor dan doktor lulusan dalam negeri, luar negeri tapi kelihatan pasrah di laboratorium karena setiap inovasi mereka hanya diberikan jempol dan sertifikat," tuturnya.

Salah satu pelopor perubahan tersebut adalah Dr. Astu Unadi, inventor dari Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) yang berhasil memproduksi beragam alat dan mesin pertanian (alsintan) yang kini sudah banyak dikembangkan dan diproduksi untuk memudahkan petani.

"Pak Astu jangan dulu pensiun, kalau perlu kontrak 20 tahun, supaya ia bekerja untuk Republik ini," tutur Menteri Amran kepada Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, M. Syakir.

Menteri Amran mengaku miris jika peneliti sebagai inventor justru miskin-miskin. "Ini justru yang kita balik, yang kaya justru penelitinya. Dulu benih jagung enggak sampai Rp 1 Milyar, sekarang justru Rp 2 Milyar. Nanti bisa lompat sampai Rp 100 Milyar. Jadi nanti tingkatkan lagi," tuturnya.

Peneliti dan teknologi menurut Menteri Amran merupakan pengubah keadaan negeri Indonesia khususnya pertanian. "Kita tidak bisa bersaing dengan negara lain tanpa teknologi,"tegasnya.

Bahkan Menteri Amran berpesan pada Menteri Pertanian selanjutnya harus membuat lompatan karena sekarang sudah dipersiapkan landasannya. "Buat para peneliti sebanyak 1128 di lingkup Kementerian Pertanian, jangan kendor. Masing-masing ambil bagian, kalau perlu buat lompatan baru. Misalnya jagung tongkol 4, tongkol 8 bahkan 10. Itulah peneliti, Jadi yang tidak dipikirkan orang, kita buat," pintanya.

Lisensi Non Ekslusif

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, M. Syakir menuturkan Kementerian Pertanian melalui Balitbangtan juga berhasil memformulasikan kembali perjanjian lisensi eksklusif terhadap hak paten diubah menjadi non eksklusif untuk mendorong percepatan inovasi.

Tercatat, ada 139 perjanjian lisensi selama kurun waktu 2015-2018 dan itu meningkat sebanyak 270 persen dari 2006-2014 yang hanya 81 perjanjian lisensi.

Lisensi non-eksklusif merupakan perjanjian lisensi dimana pemilik lisensi dapat memberikan lisensi kekayaan intelektualnya kepada pemakai lisensi lainnya sekaligus menambah jumlah pemakai lisensi dalam daerah yang sama. Dalam perjanjian lisensi tersebut juga diatur besarnya royalti atas kemanfaatan inovasi yang diterima oleh peneliti sebagai penciptanya.

Landasan pemberian royalti tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) NO. 72 Tahun 2015 tentang Imbalan Yang Berasal dari PNBP Royalti Paten, serta PMK NO. 06 Tahun 2016 tentang Pedoman Pemberian Imbalan Yang Berasal Dari Royalti Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) Kepada Pemulia Tanaman Dalam Rangka Penggunaan Sebagian Dana PNBP, maka inventor yang menghasilkan paten dan hak PVT yang telah dilisensi berhak mendapatkan royalti dari hasil penelitiannya yang dikerjasamakan dengan dunia usaha.

Sesuai dengan PMK tersebut, besaran royalti untuk inventor berkisar antara 10-40% tergantung dari besaran keseluruhan royalti yang diterima. Jika total royalti di bawah Rp 100 juta, maka besaran yang diterima peneliti adalah 40%. Adapun untuk royalti yang nilanya lebih dari Rp 1 miliar, maka besaran royalti untuk peneliti maksimal 10%. (gsh)

Reporter : gesha
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018