Senin, 18 Februari 2019


Budidaya Udang Masih Potensial Dikembangkan

17 Des 2018, 15:29 WIBEditor : Gesha

Pekerja tambak sedang panen udang vaname | Sumber Foto:INDARTO

Tapi, pengelolaan proses produksi budidaya udang harus benar-benar dilakukan secara bertanggungjawab dengan menerapkan prinsip budidaya berkelanjutan (sustainable aquaculture).

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Budidaya udang yang sudah dilakukan sejumlah petambak di tanah air masih potensial dikembangkan, karena sumberdaya akuakultur Indonesia sangat besar, dengan luas lahan indikatif mencapai 17,2 juta hektar (ha) yang diperkirakan memiliki nilai ekonomi sebesar USD 250 miliar per tahun.

“Dari potensi itu, khusus untuk pengembangan budidaya air payau memiliki porsi potensi seluas 2,8 juta hektar. Namun pemanfaatannya diperkirakan baru sekitar 21,64 % atau seluas 605.000 hektar (ha). Dari luas lahan tambak tersebut, pemanfaatan lahan tambak produktif untuk budidaya udang diperkirakan baru mencapai 40 persen atau sekitar 242.000 ha,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, saat memberikan sambutan pada pembukaan pelatihan bertema “Bisnis Budidaya Udang Vannamei di Era Revolusi Industri 4.0,

Menurut Slamet, budidaya udang sangat bagus untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, penyerapan tenaga kerja dan sumber devisa negara.  Potensi yang sangat besar itu,  kalau dimanfaatkan semuanya secara optimal akan memberi konstribusi terhadap PDB Indonesia lebih besar lagi.

“Tahun 2017 kontribusi sektor ini baru mencapai 2,57 persen terhadap PDB nasional,” ujar Slamet.

Slamet juga menuturkan, berdasarkan volume produksi, dalam 5 (lima) tahun terakhir produksi udang nasional memperlihatkan tren positif dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 15,7 persen per tahun. Sebagai komoditas unggulan ekspor perikanan nasional, komoditas udang selama 5 (lima) tahun terakhir (2013 -2017) tumbuh rata-rata 6,43 persen per tahun.

Berdasarkan catatan KKP, volume ekspor udang hingga akhir tahun 2018 ini diyakini mampu mencapai 180 ribu ton, atau naik dari 147 ribu ton pada tahun 2017. Sedangkan nilai ekspor naik dari USD 1,42 miliar menjadi USD 1,80 miliar.

Kendati begitu,  Slamet mengingatkan agar pengelolaan proses produksi budidaya udang harus benar-benar dilakukan secara bertanggungjawab dengan menerapkan prinsip budidaya berkelanjutan (sustainable aquaculture).

”Kita tidak ingin, masa kelam ambruknya bisnis udang windu beberapa dekade yang lalu terulang kembali akibat pola pengelolaan yang tidak terukur dan sporadis. Pola pengelolaan tersebut antara lain lemahnya penerapan biosecurity, penggunaan input produksi yang tidak terukur dan minimnya pengendalian terhadap limbah budidaya,” tegas Slamet.

KKP telah menyiapkan regulasi pengelolaan budidaya udang dilakukan secara berkelanjutan. Aspek keberlanjutan menjadi keniscayaan dalam menjamin kesinambungan bisnis perudangan nasional yakni dengan memadukan pertimbangan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial dalam pendekatan pengelolaannya.

Diantaranya KKP telah mendorong pengembangan budidaya berbasis klaster, melalui perbaikan tata letak, dan penerapan biosecurity secara ketat. Pendekatan klaster juga memungkinkan manajemen yang lebih terintegratif dalam seluruh tahapan proses produksi, mempermudah dalam management usaha, meningkatkan efisiensi usaha, serta mengurangi dampak penyakit.

Slamet juga mengatakan, KKP mendorong pengembangan budidaya udang berbasis ekosistem (Ecosystem Approach for Aquaculture).

Pendekatan ini penting untuk memastikan bahwa pengelolaan budidaya udang tidak hanya menghasilkan produktivitas optimum. Namun budidaya udang tetap menjamin kualitas lingkungan, fungsi dan layanan ekosistem.

“Karena itu, kami ingin menekankan pentingnya melakukan penilaian dampak lingkungan sebagai bagian dari upaya antisipasi dini (early warning) yakni melalui pemenuhan analisis dampak lingkungan (Amdal) khususnya bagi industri udang yang memiliki dampak penting terhadap lingkungan. Semua unit usaha budidaya udang harus dipastikan memiliki unit/instalasi pengelolaan limbah (IPAL) yang efektif,” kata Slamet Soebjakto.

 

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018