Selasa, 26 Maret 2019


Peluang Terbuka Ikan Hias Indonesia Rajai Dunia, Asalkan ....

08 Mar 2019, 18:38 WIBEditor : Gesha

Ikan rainbow asal Papua, eksotis dan menggiurkan untuk diekspor. Tinggal inovasi budidaya yang harus ditingkatkan | Sumber Foto:ISTIMEWA

Indonesia sekarang nomor 3 dari nilai perdagangannya (ikan hias). Pertama adalah Singapura dengan 24% market share. Sedangkan Indonesia baru 6-7?ngan jumlah 30 spesies yang diperdagangkan di dunia

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Depok --- Indonesia sebenarnya memiliki potensi menjadi raja perdagangan ikan hias di dunia, menggantikan Singapura yang dikenal sebagai negara transit.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat ekspor ikan hias Indonesia baru sebanyak 1,1 milyar ekor ikan hias yang didominasi arwana, koi, cupang, botia, dan koki. Jumlah tersebut setara dengan nilai 60 juta US$ dan nilai yang paling tinggi adalah arwana.

"Indonesia sekarang nomor 3 dari nilai perdagangannya (ikan hias). Pertama adalah Singapura dengan 24% market share. Sedangkan Indonesia baru 6-7?ngan jumlah 30 spesies yang diperdagangkan di dunia," beber Kepala Badan Riset dan Sumberdaya Manusia Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sjarief Widjaja di Balai Riset Budidaya Ikan Hias di Depok, Jumat (8/3).

Hal tersebut menyedihkan karena Singapura tidak memiliki daerah penghasil ikan hias, bahkan beberapa diantaranya berasal dari Indonesia.

Sjarief optimistis jika Indonesia bisa merajai dunia ikan hias dengan gebrakan inovasi teknologi yang menyeluruh untuk perkembangan ikan hias lokal Indonesia. Inovasi teknologi tersebut mulai dari indukan unggul, proses sertifikasi dan tracebility dengan smart tagging. 

"Misalkan inovasi dikembangkan untuk 30 spesies saja, market share bisa terdongkrak sampai 20 persen dunia. Apalagi sampai 100 lebih species yang dikembangkan dengan serius, sehingga bisa naik sampai 3 kali lipat nilai dan jumlahnya karena dengan mendorong spesies baru, orang punya variasi jenis yang lebih luas," beber Sjarief.

peternak ikan hias biasanya hanya memilih dari ikan-ikan indukan yang mampu bertelur dengan baik. "Tapi ternyata tidak bisa terhenti sampai disitu. Perlu diperkaya dengan teknik rekayasa genetika, DNA dan sebagainya untuk bisa menghasilkan induk unggul yang luar biasa bagi masyarakat. Disitulah baru bisa dikatakan Indonesia sebagai produsen ikan hias terbaik di dunia karena dihasilkan dari induk-induk unggul dengan perbaikan genetik dengan inovasi teknologi," jelasnya.

Sedangkan sertifikasi dan tracebility diperlukan untuk ekspor setiap ekor ikan hias Indonesia yang dipasarkan di luar negeri. "Sehingga suatu saat diklaim negara lain bisa kita tolak (rejected) karena memiliki konsepsi tracebility. Nanti akan dipasang smart tagging yang berisi asal usul ikan seperti dihasilkan dimana, dibiakkan oleh siapa," tukasnya.

Cluster Ikan Hias

Agar banyak dan terlihat skala usahanya, KKP sendiri telah membentuk beberapa cluster ikan hias andalan Indonesia seperti di di Depok, Pontianak (arwana), Blitar (koi), Jambi (Arwana dan Botia). 

"Pengembangan ikan hias  tidak terhenti sampai di akuarium. harus dikembangkan konsep inti (BRBIH) dan plasma (masyarakat sekitar). Kita perkuat masyarakat. KKP juga mengajak pengelola KJA untuk beralih menjadi pembudidaya ikan hias, disamping mengembangkan good culture fisheries di Cirata sebagai mata pencaharian baru," tutur Sjarief.

Sjarief sendiri menargetkan 100 species ikan hias baru harus dihasilkan oleh Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) di tahun 2019 ini "Untuk kita tampilkan ke publik sebagai komoditas baru, sumber mata pencaharian baru, sumber ekonomi baru," tuturnya.

Kepala Balai Riset Budidaya Ikan Hias, Idil Ardi menanggapi target tersebut dengan optimis. Karena beberapa jenis ikan hias baru memang sedang dalam tahap pengembangan di masyarakat. 

Sebut saja Betta channoides (cupang alam) yang berasal dari lembah sungai Mahakam. "Ikan ini sangat mahal, kalau dibandingkan dengan ikan cupang aduan hanya Rp 5 ribu-10 ribu. Sedangkan ikan cupang ini sepasang Rp 300 ribu," beber Idil.

Cupang tersebut sudah bisa dibudidayakan di wadah terkontrol, istilahnya sudah dihasilkan F1 nya . "Ini yang kita besarkan dan dilakukan uji lapang tahun ini di Jakarta Selatan," tuturnya.

Sedangkan species lainnya yang siap launching adalah Rainbow Ayamaru yang serupa dengan species sebelumnya, Rainbow Kurumoi. "Kalau Kurumoi, warnanya orange, sedangkan Ayamaru kebiru-biruan. Total dari 24 jenis ikan hias rainbow endemik Papua, sekarang sudah 5 jenis yang bisa dikembangbiakkan di masyarakat," jelasnya.

Dirinya pun optimis BRBIH bisa menjadi lembaga riset budidaya ikan hias yang mumpuni dengan ketersediaan berbagai laboratorium uji. "Nilai jual dari ikan hias ada pada keunikan (warna dan bentuk). Contohnya ikan arwana platinum yang memiliki harga Rp 5,3 Milyar. Dengan dukungan laboratorium, kami optimis bisa melakukannya," tutup Idil

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018