Kamis, 27 Juni 2019


Di Ekspor ke Arab Saudi, Jamaah Haji Indonesia Kini Bisa Nikmati Patin

12 Jun 2019, 15:01 WIBEditor : Yulianto

Ikan Patin Indonesia kini bisa dinikmati di Arab Saudi | Sumber Foto:Indarto

Ikan patin yang diekspor ke Saudi Arabia ini dibutuhkan untuk menunjang pelayanan bagi jamaah haji sebagai sajian menu masakan bercitarasa khas Indonesia

TABLOIDSINARTANI.COM, Sidoarjo---Pemerintah, melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tak hanya mengekspor udang, tuna, dan sejumlah ikan laut lainnya ke sejumlah negara. Kini, Indonesia untuk pertama kalinya ekspor ikan  patin (Pangasius hypophthalmus) ke Kerajaan Arab Saudi. Sesuai rencana, ekspor ikan air tawar tersebut akan dimanfaatkan untuk kebutuhan menu jemaah haji asal Indonesia.

Plt. Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Nilanto Perbowo mengatakan, ekspor perdana ikan patin ke Saudi Arabia. “Selama ini ikan patin hasil budidaya digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Karena produksinya semakin meningkat, ikan patin Indonesia tak lagi hanya untuk kebutuhan konsumsi dalam negeri, melainkan juga dapat diekspor ke Arab Saudi,” kata Nilanto Perbowo, Sidoarjo, Jawa Timur, (12/6).

Ekspor ikan patin perdana tersebut dilepas di Instalasi Karantina Puspa Agro Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim). Ekspor ikan patin tersebut  merupakan bagian kerja sama Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) dan SMART-Fish Indonesia. “Ini salah satu keberhasilan yang patut diapresiasi. Sebab, kita bisa menangkap peluang potensi patin untuk kebutuhan pasar ekspor,” kata Nilanto.

Data APCI menyebutkan, sejauh ini kebutuhan pasokan patin untuk jamaah haji Indonesia diperkirakan mencapai 540 ton. Guna memenuhi kebutuhan tersebut, APCI telah menyiapkan pasokan sekitar 300 ton patin yang terdiri dari 150 ton cut portion dan 150 ton fillet. Pada  ekspor perdana ini dikirim sekitar 3 kontainer  (± 63 ton) patin. “Sisanya akan dikirim secara bertahap,” ujar Nilanto. 

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kementerian Agama, Muhajirin Yanis mengatakan,  ikan patin yang diekspor ke Saudi Arabia ini dibutuhkan untuk menunjang pelayanan bagi jamaah haji sebagai sajian menu masakan bercitarasa khas Indonesia. “Tahun ini sajiannya akan semakin lengkap dengan tersedianya bahan baku ikan patin asli Indonesia,” ujar Muhajirin.

Ia mengatakan, selama jamaah haji Indonesia berada di Arab Saudi, sajian makan kurang lebih sebanyak 75 kali makan sampai mereka kembali. Jamaah haji Indonesia nantinya 5 kali dalam seminggu mencicipi sajian menu ikan, khususnya  ikan patin.

Produksi Meningkat

Ketua Bidang Budidaya Patin APCI, Imza Hermawan mengatakan, budidaya patin yang dilakukan di sejumlah sentra patin di tanah air saat ini sudah cukup bagus dan produksinya pun terus meningkat. Hal tersebut tak lepasa dari upaya KKP melalui Ditjen Perikanan Budidaya yang mendorong pembudidaya menggunakan induk dan benih berkualitas .

Data KKP menyebutkan,  produksi patin Indonesia menunjukkan tren peningkatan. Pada 2018 produksi patin sebanyak 391.151 ton atau meningkat 22,2 persen dibandingkan pada tahun 2017 yang hanya sebesar  319.966 ton .  “Penggunaan induk dan benih berkualitas tersebut selain mamu meningkatkan produksi patin juga bisa menekan Feed Conversion Ratio (FCR) sehingga efisiensi produksi meningkat,” kata Imza Hermawan.

Menurut Imza,  induk dan benih berkualitas ini faktor utama penentu kesuksesan budidaya, utamanya dalam meningkatkan efisiensi pruduksi. FCR bisa ditekan, jika benih yang digunakan berkualitas.

Imza mengatakan, sentra utama produksi patin Indonesia tersebar di sejumlah wilayah. Diantaranya di wilayah Kabupaten Tulungagung, JawaTimur; Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara; Kabupaten Kampar, Riau; Kabupaten Batanghari dan Kabupaten Muaro Jambi, Jambi; Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Kabupaten Banyuasin, dan Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan; Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Lampung Tengah, dan Kabupaten Pringsewu, Lampung; dan Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Menurut Imza pada tahun 2017, permintaan impor catfish global mencapai 640,87 ribu ton. Pasar utamanya adalah Amerika Serikat (17 persen), Meksiko (9 persen), Tiongkok (8 persen), Brasil (7 persen), dan Arab Saudi (5 persen).  Guna memenuhi  kebutuhan pasar ekspor, sebanyak 48 persen dipasok dari Vietnam, 36 persen dari Myanmar, dan sisanya dari negara lainnya. 

Pada 2018, total permintaan impor catfish global meningkat sebanyak 641,31 ton. Negara tujuan utama adalah Amerika Serikat (19,08 persen) dan Tiongkok (18,97 persen). Sedangkan permintaan impor Arab Saudi hanya sebesar 4.503 ton (0,7 persen) atau turun 85 persen dibandingkan tahun 2017 (UN Comtrade, 2019). 

Nilanto juga mengatakan,  karena potensi pasar patin di dalam dan luar negeri cukup bagus, KKP pun mendorong  para pelaku usaha dan pembudidaya patin untuk lebih giat meningkatkan produksi patin di dalam negeri. Dengan produksi yang makin banyak, Indonesia nantinya  bisa turut ambil bagian dalam memenuhi kebutuhan patin global.

“Pangsa pasar ekspor untuk patin sudah sangat jelas. Dengan potensi patin dalam negeri yang sangat tinggi, apabila kita mampu menggenjot produksi, tidak mustahil ke depan kita bisa menjadi pemain utama untuk komoditas ikan patin,”  pungkas Nilanto.

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018