
Pemerintah menyiapkan deretan ikan budidaya lokal seperti gurame, nila, lele, hingga bandeng untuk menembus pasar Arab Saudi. Komoditas ini ditargetkan memenuhi kebutuhan konsumsi jamaah haji Indonesia pada 2026.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Pemerintah menyiapkan deretan ikan budidaya lokal seperti gurame, nila, lele, hingga bandeng untuk menembus pasar Arab Saudi. Komoditas ini ditargetkan memenuhi kebutuhan konsumsi jamaah haji Indonesia pada 2026.
Pemerintah Indonesia membidik ekspor ikan budidaya nasional ke Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji dan umrah asal Indonesia pada 2026. Komoditas unggulan seperti gurame, nila, lele hingga bandeng disiapkan menjadi “amunisi” baru ekspor perikanan nasional.
Langkah ini menjadi bagian dari penguatan ekosistem pangan haji dan umrah yang melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga. Pemerintah menargetkan produk ikan budidaya lokal mampu menembus pasar Saudi setelah seluruh persyaratan standar keamanan pangan dipenuhi.
Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan, Ishartini, mengatakan pemerintah saat ini masih dalam tahap negosiasi dengan Saudi Food and Drug Authority (SFDA) terkait izin masuk produk ikan budidaya Indonesia.
“Memang kita belum mendapatkan persetujuan, tetapi ini sudah dalam proses. Seluruh persyaratan yang diminta SFDA sudah kami penuhi,” ujarnya dalam jumpa pers di Jakart.
Ishartini menjelaskan, pihaknya terus melakukan komunikasi intensif dengan otoritas Saudi untuk memastikan standar mutu dan keamanan pangan produk perikanan Indonesia sesuai ketentuan internasional.
Menurutnya, pembentukan tim terpadu ekosistem pangan haji dan umrah di bawah koordinasi pemerintah menjadi dorongan penting untuk mempercepat proses persetujuan ekspor.
“Dengan adanya tim terpadu ini, kami berharap produk perikanan budidaya Indonesia bisa segera memasuki pasar Saudi,” katanya.
Ekspor ikan budidaya dinilai strategis karena jumlah jemaah haji dan umrah Indonesia yang besar setiap tahun membuka peluang pasar yang stabil dan berkelanjutan.
Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat produksi ikan budidaya nasional pada 2024 mencapai 15,75 juta ton. Komoditas terbesar berasal dari rumput laut sebesar 9,85 juta ton.
Selain itu, produksi ikan nila tercatat 1,56 juta ton, lele 1,15 juta ton, bandeng 792.864 ton, ikan mas 523.796 ton, serta patin 381.969 ton. Tingginya produksi ini menjadi modal kuat Indonesia untuk memperluas pasar ekspor perikanan.
Rencana ekspor ikan budidaya merupakan kelanjutan kerja sama pangan Indonesia dengan Arab Saudi. Sebelumnya, pemerintah telah memperoleh persetujuan ekspor beras ke negara tersebut.
Menteri Haji dan Umrah Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, sebelumnya juga mendorong komoditas ikan nasional, termasuk patin dan produk budidaya lainnya, masuk ke pasar Saudi guna mendukung kebutuhan konsumsi jemaah.
Jika proses negosiasi berjalan lancar, ekspor ikan budidaya Indonesia ke pasar haji dan umrah diproyeksikan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan jemaah, tetapi juga membuka peluang besar bagi industri perikanan nasional dan meningkatkan daya saing produk lokal di pasar global.