Sabtu, 17 Agustus 2019


Investor Diminta Terapkan Keberlanjutan dan Kemitraan dalam Budidaya Ikan

17 Jun 2019, 16:00 WIBEditor : Yulianto

Ikan nila, punya peluang ekspor | Sumber Foto:Indarto

Regal Springs Indonesia (RSI) menjadi salah satu perusahaan yang bisa menjadi contoh dalam menerapkan budidaya ikan berkelanjutan dan kemitraan

TABLOIDSINARTANI.COM,  Jakarta---Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)  mengajak investor untuk menerapkan prinsif keberlanjutan dan kemitraan dalam usaha budidaya ikan nila.

Regal Springs Indonesia (RSI) menjadi  salah satu perusahaan yang bisa menjadi contoh dalam menerapkan budidaya ikan berkelanjutan dan kemitraan. Perusahaan Swiss yang bergerak budidaya  ikan nila mampu menerapkan secara penuh prinsip-prinsip cara budidaya ikan yang baik (CBIB). 

Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto di Jakarta, Senin (17/6) mengapresiasi komitmen penerapan budidaya berkelanjutan dalam meningkatkan produksi ikan nila yang dilakukan RSI. Melalui anak perusahaannya, PT Aquafarm Nusantara (Aquafarm), RSI melakukan pengolahan limbah dan peningkatan nilai tambah dalam budidaya nila dengan keramba jaring apung (KJA) di Danau Toba, Sumatera Utara dan daerah lainnya di Indonesia.

Kami berharap, komitmen tersebut bisa dilakukan seluruh perusahaan swasta maupun masyarakat yang melakukan usaha budidaya ikan,” katanya.

Atas keberhasilannya dalam mengembangkan budidaya berkelanjutan, RSI akhirnya berhak mengantongi sertikasi Aquaculture Stewardship Council (ASC) dan Best Aquaculture Practice (BAP). Berkat komitmennya menerapkan budidaya berkelanjutan, RSI memproduksi ikan nila premium dengan  sertifikasi dan standar internasional,  sehingga produknya dapat di ekspor ke pasar internasional seperti Amerika Serikat, Jepang, Eropa dan Australia.

Slamet mengungkapkan, RSI juga dikenal sebagai perusahaan yang banyak melibatkan masyarakat di wilayah sekitar usahanya. Sehingga, usaha perusahaan tersebut mampu memberikan peluang bagi masyarakat setempat untuk memiliki pendapatan dan mata pencaharian layak. Tercatat,  RSI  telah menyerap lebih dari 4.000 orang tenaga kerja di seluruh Indonesia.

Slamet berharap kemitraan dengan stakeholder Indonesia tak hanya berbasis corporate based, tapi ada pemberdayaan masyarakat. Sehingga, ada share ekonomi ke masyarakat sekitar yang akan menjamin keberlanjutan usaha perikanan budidaya dan tak memicu kecemburuaan sosial.

RSI menurut Slamet, bisa menjadi contoh bagi perusahaan swasta lainnya. Karena berhasil membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Kami juga berharap agar RSI dapat memberikan pembinaan ke kelompok pembudidaya mitra sehingga pembudidaya mampu memenuhi syarat sertifikasi internasional,” ujarnya.

Jika melihat potensi lahan budidaya air tawar Indonesia, Slamet mengakui, masih sangat besar dan belum termanfaatkan secara optimal. Lahan budidaya air tawar tersebut bisa menjadi peluang usaha. “Namun, untuk melakukan usaha budidaya di Indonesia harus dilakukan secara berkelanjutan, bertanggung jawab dan tidak merusak lingkungan,ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Kurt Kunz. Menurut Kurt, agar RSI selalu menjaga kualitas air serta lingkungan budidaya dan produksi serta ekspornya bisa ditingkatkan. “Kami juga menyampaikan penghargaan atas kerjasama yang baik dengan KKP dalam kegiatan SMART Fish Indonesia,” ujarnya.

Presiden Komisaris Regal Springs Indonesia, Sammy Hamzah menyatakan, bangga atas produk ikan nila Indonesia, karena sangat disukai konsumen luar negeri. Terlihat hampir 90% produk RSI yang diekspor dan diterima dengan baik oleh dunia internasional.

Data KKP menyebutkan, kurun waktu 2015 – 2018, produksi ikan nila nasional mengalami peningkatan sebesar 12,85%.  Tercatat, pada tahun 2015 sebanyak  1,084 juta ton (2015), tahun 2016 sebanyak  1,114 juta ton , tahun 2017 sebanyak 1,265 juta ton  dan tahun 2018 sebanyak 1,185 juta ton (2018). Adapun provinsi yang secara tradisional menjadi sentra budidaya ikan nila adalah, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Sulawesi Utara dan Sumatera Utara (Sumut).

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018