Rabu, 24 Juli 2019


Yuk Belajar Budidaya 'Microgreens'

28 Jan 2019, 12:08 WIBEditor : Yulianto

Peserta sedang mendapatkan pelatihan microgreens di BBP2TP | Sumber Foto:Putri Yudhia

Microgreens merupakan bibit tanaman sayuran yang dipanen masih sangat muda, berkisar 7-14 hari setelah mulai berkecambah dan muncul daun muda

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor--- Inovasi pangan sehat kini semakin banyak dilirik masyarakat. Microgreens menjadi salah satu inovasi pangan yang hadir di pertanian Indonesia. Bibit tanaman sayuran yang sudah siap konsumsi diklaim sebagai tanaman mungil yang mempunyai kandungan gizi lebih tinggi serta nilai estetika.

Ingin belajar micogreens, yuk belajar ke Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP), Bogor. Seperti Kelompok Wanita Tani (KWT) Kenanga serta karang taruna di Kecamatan Bogor Tengah yang telah mengikuti pelatihan microgreens.  Acara ini bekerja sama dengan mahasiswa magang yang berasal dari Fakultas Pertanian UNS. mereka sebelumnya telah mendapat pembekalan mengenai microgreens tersebut.

Microgreens merupakan bibit tanaman sayuran yang dipanen masih sangat muda, berkisar 7-14 hari setelah mulai berkecambah dan muncul daun muda. Masyarakat bisa langsung mengonsumsi dan tidak perlu memasak dengan tumis atau olahan sayur lainnya.

 

Indra salah satu pendamping acara ini dari BBP2TP, Bogor mengakui, peserta pelatihan awalnya menyangsikan tanaman yang masih kecil, berupa bibit namun harus dikonsumsi langsung, tanpa dimasak. Terlebih mindset masyarakat saat ini menyukai sayuran atau hasil produksi pertanian yang besar dan mengenyangkan.Namun, setelah diberi penjelasan mengenai kandungan gizi microgreens ini mereka tentunya mulai tertarik,” katanya.

Microgreens ini menurut Indra, adalah satu tanaman yang kecil tapi gizinya sama dengan satu tanaman besar. Mislanya, sayur sawi seikat isi 10, tapi tidak mungkin kita makan semua. Sedangkan dengan sayur yang bentuk kecil ini kita mampu makan 10 tanaman dengan kandungan gizi yang diperoleh juga sama dengan sayur ukuran besarnya,” jelas Indra.

Indra mengakui, konsumsi microgreens saat ini masih dalam skala mikro. Karena itu, aspek manfaat lebih ditekankan kepada masyarakat yaitu pemenuhan gizi keluarga sesuai target program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Apalagi target pasar di Indonesia masih sulit, hanya di kota-kota besar seperti di Jakarta yang konsumennya juga seperti restoran atau hotel ternama yang sudah menggunakan hasil panen microgreens.

Pemenuhan Gizi

Nurul Wahidah Rahmatika, salah satu pemateri dari mahasiswa magang menuturkan, KWT Kenanga ini anggotanya sudah menerapkan KRPL, baik itu budidaya maupun pengolahan, termasuk untuk konsumsi sendiri maupun sebagian untuk dijual.

“Harapannya dengana adanya microgreens ini penerapan KRPL mereka dapat meningkat, pemenuhan gizi keluarga juga lebih baik. Karena target microgreens belum sampai pada target pasar, maka kita mengharapkan setidaknya mereka sudah bisa menanam sendiri di rumah dan di konsumsi keluarga,” ujarnya.

Tidak hanya pemaparan materi, pelatihan untuk pembuatan dalam pot ukuran kecil juga dilakukan oleh BBP2TP kepada KWT “Kenanga” serta karang taruna, sehingga mereka dapat lebih mudah mengerti dengan pengaplikasian secara langsung.

“Awalnya kita bingung, tanaman kecil tapi kandungannya lebih banyak. Penjelesan bahan, media, tekniknya memang sedikit rumit untuk dipahami, namun setelah praktik langsung ternyata mudah juga,” ujar Tina, salah satu anggota KWT “Kenanga” yang hadir dalam acara tersebut.

Tina juga mengungkapkan, konsumsi microgreens memang untuk sebagai makanan pelengkap seperti salad atau burger dan tidak ditumis seperti sayur yang biasa dimasak. Namun, dengan konsumsi langsung setelah panen cita rasa segar dari sayurnya lebih terasa.

Setelah mencicipi hasil panen microgreens, media tanam yang sudah dibuat dapat dibawa pulang untuk kemudian setelah 2 minggu akan dilakukan panen bersama sekaligus pelatihan cara pengolahannya. Microgreens dapat diolah menjadi pelengkap isi burger, salad, garnis serta untuk hiasan karena memang bentuknya kecil berumpun serta penempatannya di pot.  Putri Yudhia

 

Reporter : Putri Yudhia
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018