Kamis, 23 Mei 2019


Mudik ! Mampir Yuk ke Warung Mbak Yati, Ada Sega Jagung dan Iwak Peyek

14 Mei 2019, 13:35 WIBEditor : Yulianto

Mbak Yati sedang menyediakan menu utama ke konsumen | Sumber Foto:Suprapto

Bersama suaminya, Mbak Yati membuka warung dengan menu utama sega jagung. Lokasinya di tengah persawahan wilayah Desa Undaan Lor Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Kudus---Mudik saat lebaran menjadi ajang yang tak bisa dilewatkan masyarakat yang hidup di perkotaan. Salah satu rutinitas saat mudik adalah mencicipi kuliner khas daerah.

Nah jika Anda mudik dan melewati Kudus, Jawa Tengah, coba sempatkan berwisata kuliner di kota yang terkenal dengan industri kretek itu. Selama ini memang Kudus dikenal dengan Soto Kudus atau Garam Asem.

Namun tidak salah menyempatkan mampir ke Rumah Makan Mbak Yati, panggilan akrabnya Sumiyati. Bersama suaminya, ia  membuka warung dengan menu utama sega jagung. Lokasinya di tengah persawahan wilayah Desa Undaan Lor Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Warungnya sederhana, tetapi terjaga kebersihannya. Berukuran sekitar  3-4 meter dilengkapi dengan dapur. Di bagian samping kanan terdapat sebuah bangunan kecil untuk tempat istirahat dan ngobrol petani. Sedang di seberang depan terlihat sebuah sungai berair jernih dengan kedalaman  sekitar satu meter. Lebar rata-rata-rata sekitar empat meter.

Selain itu warung Mbak Yati mudah dijangkau. Dari jalan raya Undaan-Purwodadi sekitar dua kilometer. Lewat samping kiri Kantor-Balai Desa Undaan Lor  dengan jalan beton dengan kondisi mulus. Hanya saja  sedikit sempit, sehingga agak susah saat mengendarai dan berpapasan dengan mobil. Sebagian besar kanan kiri jalan merupakan persawahan yang umumnya hampir sepanjang tahun ditanami padi.

Mbak Yati yang semula dikenal sebagai buruh industri rokok di kota Kudus sengaja banting “stir” menjadi penjual sega jagung. Ini terkait erat dengan upaya melestarikan sega jagung  yang pernah dirintis kedua orang tuanya. Lokasi warungnya  masih tetap sama. Hanya ada perbaikan ringan dan tambahan menu makanan dan minuman,” ujarnya saat ditemui Sinar Tani.

Menurut perempuan berkulit bersih dan berbadan subur ini, untuk memperoleh bahan baku tidak sulit. Bisa membeli dalam bentuk kemasan dalam bentuk pipilan atau glondongan.

Bagi mbak Yati lebih senang dalam bentuk pipilan, karena tinggal ditumbuk agar halus. Kemudian didang  (seperti menanak nasi dengan menggunakan kukusan- terbuat dari anyaman bambu berbentuk kerucut  dan dimasukkan dalam dhandhang/kuali yang telah terisi air) . Proses pemasakan ini paling tidak butuh waktu paling cepat setengah jam.

Lidah Bergoyang

Setelah itu siap disantap. Agar lidah “bergoyang-goyang”. ibu dari dua orang anak ini memberikan lauk berupa  sayur bening dalam sebuah mangkuk. Di dalamnya terdapat beberapa keong  sawah  yang telah dimasak dan beberapa lembar daun singkil.

Cara  memakan daging  keong dengan menggunakan alat bantu berupa tusuk gigi. Caranya  setiap rumah keong diambil dengan jari tangan, lalu diangkat dari dalam mangkuk, kemudian dicungkil dengan tusuk gigi. Selain kuah keong daun singkil,  mbak Yati juga melengkapi dengan keripik dari ikan kecil-kecil. Masih ditambah lagi dengan  sambal.

“Dijamin setelah makan sega jagung, kuah keong daun singkil, keripik dan sambal badan menjadi hangat, berkeringat. Selain itu daging keong juga tidak beracun.” tegasnya.

Jaminan  itu memang terbukti. Sebab, selama dia menekuni kuliner ini tidak ada satu pun konsumennya yang komplin keracunan. Konsumen utamanya adalah petani dan buruh tani. Terkadang warga “kota”, aparat pemerintah desa, pemerintahan kecamatan dan kabupaten Kudus,  terutama saat hari libur. Warung  dibuka pukul 08.00 hingga sore hari.

Mbak Yati memperoleh hasil penjualan kotor paling sedikit Rp 1 juta/hari. Bila hari libur atau saat musim tanam, apalagi musim panen penghasilannya meningkat 2-3 kali lipat. Selain menu utama sega jagung iwak peyek, suami isteri yang cukup ramah ini juga menyediakan aneka jenis makanan kecil maupun minuman. Semuanya dengan “harga petani” alias murah meriah, enak dan bergizi pula.

Bila disimak lebih dalam keberadaan  warung mbak Yati merupakan cermin kehidupan keseharian petani. Khususnya petani, buruh tani, buruh kecil lainnya di Kabupaten Kudus. Utamanya di wilayah Kecamatan Undaan yang memiliki lahan sawah baku sekitar 6.500 ha dan ditopang irigasi teknis dari waduk Kedungombo, waduk terbesar di Jawa Tengah dengan daya tampung 723 juta meter kubik. Meski sebagian besar diantara mereka ditunjang dengan hasil kerja isteri yang umumnya bekerja di sektor industri- khususnya industri rokok kretek.

Kondisi seperti itulah yang menjadikan Kecamatan Undaan yang tediri dari 13 desa merupakan lumbung pangannya warga Kota Kretek. Cerminan masyarakat desa sejahtera. Warung sega jagung iwak peyek, keong sawah dan daun singkil, juga ditemukan  di wilayah Kabupaten Grobogan.

Reporter : Suprapto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018