Thursday, 06 August 2020


Mau Untung Budidaya Tomat Monokultur? Tiru Cara Petani Pengalengan Ini

28 Jul 2020, 15:45 WIBEditor : Yulianto

Mau untung budidaya tomat, tiru cara Juhara | Sumber Foto:Humas Ditjen Horti

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung---Usaha tani hortikultura, terutama sayuran tergolong dalam usaha yang bersifat high risk - high return. Artinya, usaha tani tersebut berpeluang menghasilkan untung besar, namun diimbangi dengan risiko kerugian yang juga tinggi. Termasuk, pada usaha tani tomat.

Untuk itu penting diketahui kunci sukses budidaya tomat agar tetap menguntungkan. Tomat biasanya ditanam petani dengan cara tumpangsari bersama tanaman lainnya. Namun tak jarang petani sengaja menjadikan tomat sebagai tanaman budidaya utama.

Meski modalnya terbilang cukup besar untuk budidaya, serta harga jual yang sering fluktuatif, ternyata tak menyurutkan minat petani untuk tetap mengembangkan tomat. Seperti halnya dilakukan Juhara, petani sayuran asal pangalengan Bandung yang kerap menanam tomat dengan sistem budidaya monokultur.

Juhara mengakui, biaya yang dikeluarkankannya untuk menanam satu hektar tomat bisa mencapai Rp 100,8 juta. Hasilnya, bisa mencapai 40 ton tomat segar/ha. "Dengan harga jual normal Rp 3.000/kg, paling tidak saya bisa memperoleh pendapatan Rp 120 juta per hektar atau untung sekitar Rp 19 juta per musim per hektar," ungkapnya.

Ternyata Juhara punya strategi khusus untuk meningkatkan keuntungan dari budidaya tomat yang digelutinya. Caranya dengan menanam di lahan yang sama sebanyak dua kali tanam. Setelah tanam pertama selesai panen dan dibongkar, lahan tersebut ditanami kembali sebanyak pertanaman yang pertama.

Dengan cara itu, Juhara menyebut bisa menghemat biaya saprodi terutama mulsa, ajir, tali, semat, peralatan serta biaya tenaga kerja olah tanah hingga pemeliharaan. Total penghematan hasil perhitungan Juhara bisa mencapai Rp 32 juta.

Dengan produksi per hektar sebanyak 40 ton maka penghematan biaya tersebut menjadi keuntungan tambahan bagi saya," ujarnya.

Dihubungi terpisah, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Tommy Nugraha mengatakan, prospek agribisnis hortikultura sangat menjanjikan, namun perlu kegigihan dan strategi untuk memperoleh keuntungan yang tinggi. "Tidak hanya untung pada saat harga jual tinggi, namun pada harga jual normal petani bisa tetap untung," kata pria yang akrab disapa Tommy tersebut.

Menurut Tommy, strategi yang dilakukan petani tomat guna menghasilkan output sebesar-besarnya dengan input seminimal mungkin bisa terus dikembangkan. Pihaknya berharap semakin petani yang memiliki pola pikir seperti itu, sehingga produk sayuran yang dihasilkannya lebih berdaya saing baik kualitas maupun harganya.

"Penting bagi petani untuk mengupayakan agar ada efisiensi biaya produksi sehingga keuntungan yang diperolehnya menjadi lebih tinggi," kata Tommy.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018