Rabu, 24 Juli 2019


Menyusuri Potensi Kencur Gunung Muria di Kota Kretek

14 Mei 2019, 13:12 WIBEditor : Yulianto

kencur Gunung Muria | Sumber Foto:Suprapto

agi masyarakat, khususnya petani, di lereng Gunung Muria banyak mengusahakan tanaman kencur Kencur (Kaempferia galangal L). Terutama di wilayah Kecamatan Dawe dan Gebog

TABLOIDSINARTANI.COM, Kudus---Kabupaten Kudus, Jawa Tengah selama ini lebih dikenal sebagai Kota Kretek. Namun di balik industri rokok yang berkembang di wilayah tersebut, Kudus memiliki potensi kekayaan alam tanaman obat yakni kencur.

Salah satu desinasi wisata yang cukup terkenal di Kabupaten Kudus adalah Gunung Muria. Bukan hanya dikenal karena terdapat makam Sunan Muria, di Gunung Muria juga terdapat air terjun Montel.

Bagi masyarakat, khususnya petani, di lereng Gunung Muria banyak mengusahakan tanaman kencur Kencur (Kaempferia galangal L). Terutama di wilayah Kecamatan Dawe dan Gebog.

Sebagian  besar lahan pertanian di Kecamatan Dawe yang tersebar di 13 desa saat ini tengah ditanami kencur. Sedangkan di wilayah Kecamatan Gebog  yang terdiri 11 desa, tanaman kencur hanya terlihat di sejumlah desa. Terutama di Desa Rahtawu dan Desa Menawan.

Kabupaten Kudus tercatat sebagai penghasil kencur terbesar di Jawa Tengah nomor dua setelah Kabupaten Wonogiri.  Selain itu Kabupaten Kudus juga termasuk penghasil lengkuas terbesar setelah Wonogiri dan Rembang. Kemudian diikuti Kabupaten Jepara dan Blora. Kencur dan lengkuas  adalah dua diantara empat  jenis empon empon yang banyak ditanam masyarakat Jawa Tengah. Dua jenis jenis lainnya adalah jahe dan kunyit .

Kencur berbatang lunak, Susunan daunnya saling berhadapan, tumbuh tergeletak di atas permukaan tanah. Tanaman ini memiliki kuntum bunga yang tersusun atas bunga majemuk, dan  jumlahnya 4-12 buah. Bagian bibir bunganya berwarna lembayung yang didominasu  warna putih. Daging buahnya memiliki warna putih serta kulit luarnya berwarna berwarna cokelat.

Menurut Suyono, salah satu petani di Kudus, harga empon empon ditingkat  petani cukup bagus. Seperti  jahe gajah Rp 6.000, jahe emprit Rp 15.000, jahe merah Rp 30.000  kunyit kunig Rp 3.000, kunyit putih Rp 2.500  temu lawak Rp 2.500 lempuyang Rp 700 , lengkuas/laos Rp 2.000 , bengle Rp 700  dan  kencur Rp 40.000 per kilogram. ““Harga kencur sangat mahal karena permintaan cukup tinggi, sementara produksinya relatif masih rendah, ujarnya.

Menurut Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Suwandi, pihaknya terus mendorong daerah dan petani untuk memanfaatkan lahan agar ditanami tanaman obat-obatan (herbal) atau yang dikenal biofarmaka.

Sebab, pemasaran (pasarnya) tidak hanya di dalam negeri, namun juga di luar negeri. Seperti Bangladesh, Jepang, Belanda dan Amerika Serikat. Selama ini bisnis biofarmaka lebih maju seiring berkembangkan industri herbal dan gaya hidup back to nature (kembali ke alam).

Karena itu sepanjang tahun 2018, kinerja ekspor komoditas biofarmaka cukup menggembirakan. Berdasarkan data BPS, ekspor jahe mencapai 2.000 ton, saffron 1.000 ton, turmeric 7.000 ton, kapulaga 6.000 ton dan tanaman biofarmaka lainnya 1.000 ton.

“Produk tanaman empon empon ini sebagai pemasok untuk industri herbal, rumah sakit herbal, salon kecantikan, bahan kosmetik, spa, dan untuk kebutuhan kesehatan lainnya. Sedang “kuncinya” berada  di teknologi pengolahan, manajemen industri, pengemasan dan jaringan pemasaran,” tutur Suwandi.

Reporter : Suprapto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018