Monday, 23 May 2022


Serba-Serbi Makanan Lebaran dan Jajanan Pasar

23 Apr 2022, 05:52 WIBEditor : Gesha

Jajanan pasar kala Lebaran | Sumber Foto:BP Guide

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Apa yang diharap dari Makanan Lebaran? Yang hampir tidak pernah berubah dari masa ke masa. Itu-itu saja, hanya di sekitar ketupat, gulai kambing, opor ayam, sambel goreng ati dan sayur labu. Yang mengherankan, semua orang mendambakannya. Itulah spesialnya makanan lebaran.

Ragam kue-kuenya sedikit beda antara di kampung dan di kota. Biasanya di kampung adalah makanan tradisional daerah yang sangat disukai karena memang spesial. Sedangkan di kota lebih banyak kue-kue dengan nama bau Belanda seperti kue nastar, kastengel, putri salju, lidah kucing yang biasanya paling awet sampai berminggu-minggu belum habis karena kebanyakan orang lebih suka memilih kue lain.

Jangan anggap enteng bisnis kue lebaran, apalagi pada masa pandemi Covid, karena bisnisnya luar biasa booming. Permintaan juga tinggi, karena diperlukan tidak hanya untuk kebutuhan sendiri tetapi juga untuk dikirim berupa hadiah lebaran kepada teman dan handai tolan.

Dalam suasana lebaran penjual kue jajanan pasar juga panen raya karena pemudik ramai beli oleh-oleh. Kue jajanan pasar banyak diminati karena unik, spesial dan serasa bernostalgia. Penjualnya tersebar, banyak ditemukan dalam perjalanan dalam pulang kampung. Jenisnya luar biasa banyak, tiap daerah mempunyai unggulan masing-masing. Peminatnya tidak kurang, terbukti yang menjualnya juga semakin banyak.

Indonesia barangkali mempunyai jenis kue tradisional paling kaya di dunia. Sangat beragam. Masalahnya bentuk, kuallitas dan kemasannya tidak banyak mengalami perubahan. Begitu terus selama berpuluh dan bahkan beratus tahun.

Konsumen sangat permisif. Kualitas tidak banyak dipermasalahkan, banyak yang tidak peduli. Namanya juga kue kampung. Makanan lebaran dan jajanan pasar banyak diproduksi oleh usaha rumahan yang tidak tersentuh kewajiban melaporkan soal kualitas. Apalagi expired date.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan banyak jenis makanan yang terkontaminasi bahan kimia, bakteri dan diproses dengan sanitasi tidak memadai. Penggunaan bahan kimia, pemanis buatan, pengawet, rasa dan aroma, pemutih menjadi pilihan gampang karena murah, dan ini banyak yang tidak mudah diditeksi konsumen. Dalam jangka panjang bisa berdampak pada perkembangan fisik maupun kemampuan berpikir sehingga sungguh memerlukan perhatian yang serius.

Singkatnya, makanan tradisional dan jajanan pasar mempunyai potensi dan peluang untuk berkembang menjadi sumber bisnis di daerah. Peminat dan produsennya sudah berkembang, tetapi diperlukan peningkatan kualitas tampilan, kemasan dan kebersihannya.

Barangkali perlu dipikirkan agar usaha kecil seperti ini diberi pendampingan khusus untuk meningkatkan ragam dan kualitas tanpa buru-buru dikejar pajak. Misalnya lewat program KKN mahasiswa jurusan gizi.

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018