
BRIN memimpin transformasi ekonomi sirkular, menghadirkan inovasi revolusioner untuk ketahanan pangan dan energi Indonesia yang berkelanjutan, inklusif, dan ramah lingkungan demi masa depan bangsa.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- BRIN memimpin transformasi ekonomi sirkular, menghadirkan inovasi revolusioner untuk ketahanan pangan dan energi Indonesia yang berkelanjutan, inklusif, dan ramah lingkungan demi masa depan bangsa.
Dalam menghadapi krisis iklim global, konflik geopolitik, serta kerentanan rantai pasok dunia, Indonesia tengah menghadapi tantangan besar dalam menjaga ketahanan pangan dan energi.
Di tengah kompleksitas ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) hadir dengan strategi ambisius yang mengusung paradigma ekonomi sirkular, sebagai jawaban atas permasalahan ketahanan pangan dan energi secara berkelanjutan dan berkeadilan.
Dr. Tri Martini Patria, Peneliti Ahli Utama Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, menguraikan bahwa strategi BRIN bertujuan mengubah cara produksi dan konsumsi sumber daya dari sistem linier “ambil-pakai-buang” menjadi siklus tertutup yang maksimal memanfaatkan limbah dan bahan sisa.
“Ekonomi sirkular bukan konsep baru, tapi implementasinya masih menghadapi kendala budaya, struktural, dan regulasi di Indonesia,” ujar Tri Martini.
Dalam sistem ekonomi sirkular yang digagas BRIN, limbah tidak lagi dianggap sampah, melainkan bahan baku baru.
Misalnya, plastik diolah menjadi bahan bakar pentasol, limbah organik disulap menjadi pupuk hayati, dan lahan marginal dikembangkan menjadi ladang pangan produktif.
“Ini bukan sekadar inovasi teknis, tapi revolusi paradigma yang menuntut keterlibatan semua elemen masyarakat, terutama petani kecil, pelaku UMKM, dan komunitas akar rumput,” tambahnya.
Ketahanan pangan dan energi dalam pandangan BRIN merupakan dua pilar yang tak bisa dipisahkan.
Pertanian sangat bergantung pada energi untuk irigasi, pengolahan, dan distribusi, sementara bioenergi bergantung pada hasil pertanian dan limbah organik.
Data global memperlihatkan realita memprihatinkan, dimana ratusan juta manusia masih menghadapi kelaparan dan kesulitan akses energi listrik.
Sementara Indonesia menghasilkan lebih dari 50 juta ton limbah pertanian setiap tahun, yang potensi pemanfaatannya belum maksimal.
Paradoks Transformasi
Tri Martini menyoroti tiga paradoks besar yang menjadi hambatan utama transformasi ekonomi sirkular di Indonesia.
Pertama, paradoks inklusi dimana teknologi dan inovasi sirkular seringkali hanya dinikmati korporasi besar dan lembaga riset elit, sementara petani kecil dan pemulung justru kurang terlibat.
Kedua, paradoks infrastruktur yang masih banyak desa di Indonesia belum memiliki akses listrik dan fasilitas pengolahan limbah yang memadai.
Ketiga, paradoks regulasi dimana kebijakan saat ini belum ramah terhadap ekonomi sirkular, dan belum mendorong integrasi lintas sektor energi, pertanian, dan lingkungan.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, BRIN mengusung konsep “Tiga Pilar Sirkular Nusantara” yang menitikberatkan pada kedaulatan bahan baku lokal, pemberdayaan ekonomi mikro seperti BUMDes dan koperasi, serta riset yang aplikatif dan langsung berdampak bagi masyarakat.
“Kita harus berhenti bergantung pada teknologi mahal dari luar negeri, dan mulai mengoptimalkan inovasi lokal, seperti biodigester yang dikembangkan oleh UMKM atau pupuk hayati dari mikroorganisme endemik,” jelas Tri Martini.
Lebih jauh, Tri Martini menegaskan bahwa inovasi dalam ekonomi sirkular harus berpihak pada kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial, bukan hanya sebagai alat pencitraan hijau atau greenwashing.
“Masyarakat sipil harus aktif mengawal, bertanya kritis, dan menuntut transparansi agar transformasi ini benar-benar menjadi gerakan sosial, bukan sekadar kebijakan teknokratik,” ujarnya.
BRIN berharap strategi ekonomi sirkular ini akan menjadi “revolusi hijau generasi kedua” yang tidak hanya mengedepankan efisiensi sumber daya, tetapi juga membangun hubungan harmonis antara manusia dan alam.
“Dalam konteks krisis iklim dan ketimpangan global, kita harus memilih: bertahan dengan sistem lama yang usang, atau memulai perubahan yang membawa keberlanjutan dan keadilan,” tutup Tri Martini mengutip kata-kata Mahatma Gandhi, “Be the change you want to see in the world.”
Dengan komitmen kuat dari BRIN dan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat, Indonesia bisa mewujudkan masa depan pangan dan energi yang tangguh, berkelanjutan, dan inklusif demi generasi mendatang.



