Kamis, 22 Januari 2026


Arif Satria Tegaskan, Inovasi BRIN Buktikan Pertanian RI Jadi Solusi Perubahan Iklim

08 Des 2025, 10:49 WIBEditor : Gesha

Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan riset dan inovasi BRIN membuktikan pertanian Indonesia ramah iklim, hemat air, tahan hama, dan siap jadi solusi ketahanan pangan nasional.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan riset dan inovasi BRIN membuktikan pertanian Indonesia ramah iklim, hemat air, tahan hama, dan siap jadi solusi ketahanan pangan nasional.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menegaskan komitmen lembaganya untuk menjadi motor penggerak inovasi yang bisa menjawab tantangan pertanian di tengah perubahan iklim global.

Menurut Arif, riset dan inovasi bukan sekadar untuk pencapaian akademis, tapi harus nyata dirasakan petani dan masyarakat luas.

“Kalau kita tidak hadir dengan karya nyata, sulit untuk menyangkal narasi yang salah tentang pertanian. Hanya dengan inovasi kita bisa tunjukkan bahwa pertanian itu penyelamat, bahkan bagi masalah iklim,” kata Arif.

Salah satu langkah strategis BRIN adalah membentuk pusat penelitian perikanan tangkap. Pusat ini akan mendukung program swasembada protein hewani dari ikan, mulai dari penyediaan benih udang hingga ikan, sampai teknik budidaya yang efisien. “Kami ingin petani dan pembudidaya ikan bisa mandiri, dengan dukungan riset yang tepat sasaran,” tambahnya.

Di sektor pertanian darat, inovasi BRIN diarahkan pada pengembangan varietas unggul yang tahan hama, hemat air, dan mampu beradaptasi dengan kondisi iklim ekstrem.

Arif menekankan, penguatan ketahanan pangan kini menjadi kebutuhan mendesak, karena pertanian masih dituding boros air dan berkontribusi terhadap emisi karbon. “Kami hadir dengan temuan-temuan yang membantah tuduhan itu. Pertanian kita ramah lingkungan, rendah emisi, dan adaptif terhadap perubahan iklim,” ujarnya.

BRIN juga membuka pintu kolaborasi luas, mulai dari perguruan tinggi hingga industri swasta. Arif mengungkapkan, lembaganya telah menggelar pertemuan dengan Kadin, BUMN, pengusaha swasta, hingga komunitas petani dan pembudidaya ikan.

Tujuannya sederhana: riset harus langsung bisa diaplikasikan ke lapangan. “Ruang komunikasi harus dibuka. Kalau ide-idenya bagus, kami bebaskan biaya penggunaan fasilitas riset BRIN agar semakin banyak pihak terlibat,” jelasnya.

Selain pangan, BRIN menargetkan riset di sektor strategis lain, termasuk energi, manufaktur, hingga pengembangan Alat Utama Sistem Pertahanan (alutsista). Namun, Arif menekankan bahwa fokus utama tetap pada pangan dan ketahanan nasional.

"Swasembada pangan adalah prioritas. Dengan riset yang tepat, kita bisa dorong pertanian dan perikanan menjadi solusi perubahan iklim sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” katanya.

Arif juga menyinggung program inovasi benih unggul dan teknik budidaya pangan yang tahan perubahan iklim. Benih yang dikembangkan BRIN tidak hanya tahan hama, tetapi juga hemat air dan pupuk. “Ini bukan teori, tapi inovasi yang bisa diterapkan langsung oleh petani. Tujuannya agar produksi pangan meningkat tanpa merusak lingkungan,” ujar Arif.

Arif menekankan bahwa BRIN siap menjadi penghubung antara riset, teknologi, dan praktik di lapangan. Mahasiswa, dosen, peneliti, dan pengusaha bisa memanfaatkan fasilitas riset BRIN untuk mewujudkan ide-ide inovatif.

“Semakin banyak yang datang, semakin banyak inovasi lahir. Dan semua itu akan membuktikan bahwa pertanian Indonesia bukan hanya produktif, tapi juga solutif terhadap perubahan iklim,” tutupnya.

Dengan langkah-langkah ini, BRIN berupaya mengubah persepsi dan realitas pertanian Indonesia: dari sektor yang sering dituding boros air dan penyumbang emisi, menjadi jantung inovasi yang bisa menyeimbangkan produksi pangan, kesejahteraan petani, dan kelestarian lingkungan.

Reporter : Nattasya
Sumber : BRIN
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018