Minggu, 18 Agustus 2019


Nasib Sawah Padi di Jawa yang Akan Krisis Air 2040, Apa Antisipasinya?

08 Agu 2019, 17:35 WIBEditor : Ahmad Soim

Prof Rizaldi Boer | Sumber Foto:Koleksi Pribadi

 

TABLOIDSINARTANI.COM – Salah satu alasan wacana pemindahan Ibukota Jakarta ke Kalimantan pada saat ini adalah karena Pulau Jawa diramalkan akan krisis air pada 2040. Lalu bagaimana nasib persawahan padi di Pulau Jawa? Apa langkah antisipasinya dari sekarang?

 

Badan kerja sama lintas negara, Water Environment Partnership in Asia (WEPA) melaporkan Indonesia merupakan salah satu negara terkaya dalam sumber daya air, yakni  menyimpan 6 persen potensi air dunia, namun pulau terpadat di negara ini terancam kehabisan air.

 

Kajian resmi pemerintah memprediksi Jawa bakal kehilangan hampir seluruh sumber air bersih tahun 2040. Inilah salah satu alasan di balik wacana pemindahan ibu kota. Sebanyak 150 juta penduduk di pulau terpadat Indonesia ini akan kekurangan air, bahkan untuk sekadar makan atau minum.

 

Pakar iklim dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Rizaldi Boer mengatakan status daya dukung lingkungan hidup penyedia air di Pulau Jawa sudah terlampaui.  “Pada saat ini sudah mencapai 45 persen luas Jawa, artinya hampir setengah wilayah pulau Jawa ini sudah menghadapi kekurangan air setiap tahun, terutama wilayah utara Jawa,” jelas Prof Rizaldi Boer kepada tabloidsinartani.com.

 

Pada tahun 2045 kalau pola penggunaan lahan di Jawa berlanjut terus ke depan, terang Rizaldi Boer, maka wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) penting akan terus berkurang tutupan hutannya, maka wilayah yang mengalami kekurangan air akan bertambah luas mencapai hampir 60 persen luas Jawa.

 

Upaya perbaikan wilayah tangkapan hujan khususnya wilayah sungai yang banyak memberikan layanan penyediaan air beberapa wilayah sungai lain seperti Bengawan Solo, Ciliwung,  Cisadane, Citarum, Cimanuk, Cisangarung, Jratuseluna, Welang Rejoso, perlu segera direhabilitasi.

 

Langkah berikutnya jelas Rizaldi Boer, pemanfaatan lahan dari sistem pertanian semusim menjadi pertanian campur (kebun hutan, agroforestry) diperlukan pada wilayah ini. 

 

Menurutnya, kurasakan di wilayah sungai ini akan berdampak besar pada banyak wilayah sungai lainnya.  Pemanenan dan penyimpanan kelebihan air pada musim hujan dengan pengembangan waduk-waduk diperlukan, khususnya untuk mendukung penyediaan air bagi pertanian sawah.

 

 “Keberadaan sawah di Jawa harus tetap dipertahankan karena perannya dalam penyediaan pangan nasional sangat besar dan juga produktivitasnya tinggi,” tegas Prof Rizaldi Boer.  Pengurangan sawah di Jawa lanjutnya akan menyebabkan peningkatan pembukaan lahan di luar jawa lebih besar yang tentu menimbulkan masalah baru.

 

Krisis air itu juga mengancam dunia lainnya, termasuk India. Praktisi perkebunan dan pertanian Soedjai Kartasasmita mengatakan di India sudah berpikir menyiapkan tanaman pengganti padi yang dinilainya boros pada air.

 

“Di India sudah dipikirkan alternatif untuk mengganti padi dengan tanaman pangan lain yang tidak banyak membutuhkan air,” kata Soedjai Kartasasmita kepada Sinar Tani.

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018