Jumat, 13 Desember 2019


Inilah Teknik Budidaya Padi Sehat

09 Sep 2019, 10:39 WIBEditor : Yulianto

Petani tengah mempersiapkan bibit untuk tanam | Sumber Foto:Julian

Pembibitan dilakukan sebelum pengolahan tanah. Hal tersebut agar masa pembungaan tanaman refugia bersamaan dengan masa persemaian atau penanaman padi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Budidaya padi sehat menjadi sebuah alternatif bagi petani untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Selain lebih efisien, cara ini diklaim lebih ramah lingkungan.

Bagi petani atau penyuluh pertanian yang ingin mengembangkan budidaya padi sehat, beginilah cara budidaya padi sehat. Berikut ini tekniknya.

 

No

Tahapan

Keterangan

1

Pra Tanam

a. Pembibitan dan penanaman refugia

Pembibitan dilakukan sebelum pengolahan tanah. Hal tersebut agar masa pembungaan tanaman refugia bersamaan dengan masa persemaian atau penanaman padi. Tanaman refugia dapat ditanam setelah pengolahan tanah selesai, dengan kombinasi jenis tanaman berbunga dan kedelai.

 b. Pengolahan tanah

Pengolahan tanah dibagi dalam tiga tahapan.

-     Pengolahan tanah I, dilakukan dengan bajak/singkal. Proses pembajakan dengan cara membalikkan lapisan tanah agar sisa tanaman (jerami) dan rumput dapat terbenam. Setelah tanah dibajak dibiarkan beberapa hari agar terjadi proses fermentasi untuk membusukkan sisa tanaman di dalam tanah.

-       Pengolahan tanah II. Dilakukan proses penggemburan atau proses pencampuran antara bahan organik dengan tanah. Proses ini agar bahan organik dapat menyatu dengan lapisan tanah. Pada proses pencampuran ini, air di lahan harus mencukupi, macak-macak. Proses pencampuran ini dilakukan sampai bahan organik menyatu dengan lapisan olah tanah dan membentuk lumpur. Proses ini dilakukan sekitar 1 minggu. Pada pengolahan tahap ini diaplikasikan pupuk organik dan kapur dolomit.

-       Pengolahan tanah III, dilakukan proses perataan permukaan tanah dengan bantuan garu. Proses ini bertujuan agar lapisan tanah benar-benar siap untuk ditanami padi pada saat tanam dilaksanakan. Proses pengolahan tanah secara keseluruhan, waktunya berkisar antara 15 – 21 hari.

c. Persemaian

-       Hindari membuat persemaian di lahan yang pada musim tanam sebelumnya terserang penyakit virus dan nematoda.  Lahan untuk pesemaian harus diolah terlebih dahulu.

-       Pengolahan dengan cara dicangkul hingga tanah menjadi lumpur dan pastikan tidak terdapat bongkahan tanah. Lahan yang sudah halus lumpurnya, dibuat petak. Antar petak dibuat parit untuk memudahkan pengaturan air. Waktu semai berkisar 15-21 HST.

-       Benih yang direkomendasikan untuk tanam pada lahan seluas 1 ha sebanyak 25 kg dengan varietas padi yang tahan/toleran terhadap WBC dan bersertifikat.

-       Benih yang akan disemai dianjurkan untuk diseleksi. Benih hasil seleksi kemudian direndam dengan air bersih semalam, dan diperam selama satu hari sampai tumbuh calon batang serta akar.

-       Benih yang telah keluar calon batang dan akardianjurkan direndam dengan APH selama 10-15 menit. Benih disebar di bedengan. Penyebaran benih harus merata agar benih tidak terjadi penumpukan.

-       Penggunaan pupuk anorganik disarankan sesuai kebutuhan. Pemupukan lahan pesemaian dilakukan satu minggu setelah benih disemai.

-   Amati keberadaan OPT di pesemaian secara rutin. Lakukan aplikasi dengan APH jika ditemukan populasi hama di bawah ambang pengendalian. Jika populasi hama sudah di atas ambang pengendalian dapat digunakan insektisida kimia.

-      Khusus daerah endemis WBC, PBP, kerdil rumput/kerdil hampa dianjurkan diaplikasikan karbofuran.  Khusus daerah endemis penyakit blas dan kresek, dianjurkan diaplikasikan APH (Paenibacillus polimixa). Pengendalian mekanik dilakukan untuk mengendalikan PBP dengan mengumpulkan kelompok telur dan dimusnahkan.

2

Tanam

Bibit ditanam pada umur 15-25 hari setelah sebar (HSS). Saat mencabut bibit, pastikan akar tidak putus (tidak rusak). Pengaturan jarak tanam dianjurkan menggunakan sistem tanam jajar legowo 2:1 atau 4:1.

3

Pasca Tanam

-       Penggunaan pupuk organik dan anorganik disesuaikan dengan kebutuhan tanaman, ketersediaan hara dalam tanah dan rekomendasi setempat. Aplikasikan APH dianjurkan pada saat tanaman berumur 2, 4 dan 6 minggu setelah tanam.

-      Pengamatan secara rutin dilakukan agar keberadaan OPT diketahui sejak awal. Pengendalian OPT dilakukan sesuai dengan Prinsip PHT. Jika populasi rendah, aplikasi menggunakan APH atau pestisida nabati. Jika populasi sudah di atas ambang pengendalian, dapat digunakan insektisida kimia.

-     Penyiangan gulma dilakukan sesuai dengan kondisi pertanaman.

 

 

Reporter : Julian
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018