
distribusi sapi perah dari NTB
TABLOIDSINARTANI.COM, Lombok --- Menjelang Hari Raya Idul Adha 2025, pemerintah melakukan manuver cerdas untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan hewan kurban di Pulau Jawa.
Salah satunya dengan mengatur ulang jalur distribusi pengiriman sapi dari Nusa Tenggara Barat (NTB) lewat jalur laut dan darat yang melintasi Pulau Bali.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Dalam skema pengiriman terbaru ini, pengangkutan ternak dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, menjaga kesehatan dan kesejahteraan hewan sepanjang perjalanan.
Sebanyak 186 ekor sapi telah diberangkatkan pada Selasa malam (22/4) dari Pelabuhan Gili Mas, Lombok Barat, menggunakan tujuh truk. Rute yang ditempuh yakni Gili Mas – Padang Bai – Gilimanuk – Ketapang. Jalur ini dipilih sebagai alternatif untuk mengurai penumpukan truk di pelabuhan utama NTB.
“Dari 13 kapal ternak yang tersedia, masing-masing hanya bisa memuat 10–12 truk. Padahal, saat ini sudah ada 143 truk yang antre,” jelas Agung Suganda, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, dalam rapat koordinasi di Mataram.
Skema ini merupakan hasil koordinasi antara Kementerian Pertanian, Kementerian Perhubungan, dan Badan Karantina Indonesia, serta didukung penuh oleh pemerintah daerah.
Pertimbangannya? Efektivitas logistik dan mitigasi risiko penyakit hewan.
Semua ternak yang dikirim, tegas Direktur Kesehatan Hewan, Imron, wajib bebas dari penyakit seperti PMK (Penyakit Mulut dan Kuku), LSD (Lumpy Skin Disease), dan antraks.
“Dokumen kesehatan hewan harus lengkap dan diverifikasi di titik keberangkatan maupun tujuan,” ujarnya.
Sesuai aturan dalam Permentan No. 17 Tahun 2023, hewan ternak boleh transit tanpa bongkar muat asalkan dalam pengawasan otoritas veteriner.
Sementara itu, Direktur Standar Karantina Hewan, Wisnu Wasisa, menjelaskan setiap truk akan disegel dan diawasi ketat.
“Segel truk memungkinkan kita memantau apakah selama perjalanan ada pembongkaran. Semua data seperti nomor polisi truk, sopir, jenis dan jumlah ternak, hingga kesehatannya dicek,” jelasnya.
Jika ada ternak yang mati di perjalanan, telah disiapkan fasilitas pemusnahan di Pelabuhan Ketapang.
Tindakan karantina juga dilengkapi dengan proses desinfeksi di pelabuhan, sebagaimana ditambahkan oleh Direktur Tindakan Karantina Hewan, Cicik Sukarsih.
Sebagai salah satu lumbung ternak nasional, NTB setiap tahunnya menyuplai ribuan ekor sapi ke Jawa, terutama untuk keperluan kurban.
Kelancaran distribusi menjadi faktor penting dalam menjaga pasokan dan stabilitas harga.