Jumat, 16 Januari 2026


Bentengi Madura dari PMK, Kementan Perkuat Edukasi Peternak

10 Des 2025, 09:43 WIBEditor : Herman

Kegiatan KIE di di Desa Pangolangan, Kabupaten Bangkalan.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bangkalan --- Upaya melindungi Pulau Madura dari ancaman Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kini diarahkan pada satu strategi utama, memperkuat edukasi bagi para peternak.

Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan bahwa pendekatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) menjadi kunci untuk menanamkan kesadaran bahwa vaksinasi bukan sekadar prosedur teknis, tetapi tameng penting bagi keselamatan dan produktivitas ternak.

Melalui kegiatan sosialisasi, pendampingan lapangan, hingga dialog langsung dengan kelompok peternak, Kementan berupaya memastikan pemahaman mengenai bahaya PMK benar-benar tersampaikan. Langkah ini diharapkan mampu memutus rantai infeksi sebelum penyakit tersebut menyebar lebih luas.

Ketua Kelompok Substansi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Armin Riandi, menegaskan bahwa PMK masih menjadi prioritas nasional untuk dikendalikan.

Menurutnya, KIE merupakan pintu masuk penting untuk meningkatkan kesadaran para peternak mengenai urgensi vaksinasi.

“KIE dilakukan untuk meningkatkan pemahaman peternak tentang pentingnya vaksinasi PMK, dampaknya terhadap kesehatan dan ekonomi, serta mendorong percepatan vaksinasi menuju Pulau Madura bebas PMK melalui kolaborasi pemerintah dan masyarakat,” ujarnya, Senin (8/12), saat membuka kegiatan KIE di Desa Pangolangan, Kabupaten Bangkalan.

Armin menambahkan, kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, tokoh masyarakat, perguruan tinggi, hingga para peternak, sangat dibutuhkan agar capaian vaksinasi PMK di Jawa Timur dapat terus meningkat.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Bangkalan, Iskandar Ahadiyat, menyoroti kedekatan emosional masyarakat Madura terhadap ternak sapi. Hal ini, menurutnya, menjadi alasan kuat mengapa pelaporan dini kasus PMK harus menjadi perhatian serius.

“Jika ada kematian sapi, segera laporkan agar bisa kami identifikasi penyebabnya. Dalam 1x24 jam kami akan turun ke lapangan. Itu komitmen kami,” tegas Iskandar.

Dari kalangan akademisi, Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Widya Paramita Lokapirnasari, mengingatkan bahwa kerugian akibat PMK bisa sangat besar jika tidak ditangani cepat. Dampaknya tidak hanya dirasakan peternak, tetapi juga mengganggu rantai produksi secara keseluruhan.

“Kerugian mencakup penurunan produksi, menurunnya tingkat fertilitas, kematian ternak, meningkatnya biaya pengobatan dan pengendalian, hingga turunnya harga jual. Pada akhirnya, PMK dapat mengancam swasembada pangan dari subsektor peternakan,” jelas Widya.

Kegiatan KIE di Bangkalan digelar di tiga titik, yakni Desa Pangolangan (Kecamatan Burneh), Desa Tobaddung (Kecamatan Klampis), dan Desa Petrah (Kecamatan Tanah Merah). Ketiganya dipilih untuk memastikan edukasi menjangkau sentra-sentra peternakan utama di wilayah tersebut.

Reporter : Eko
Sumber : Humas Ditjen PKH
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018