
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda Saat Konferensi Press di ILDEX 2026
TABLOIDSINARTANI.COM, Tangerang --- Pameran ILDEX Indonesia 2026 bukan sekadar menjadi etalase teknologi peternakan. Ajang yang mempertemukan pelaku usaha, pemerintah, peneliti hingga mitra internasional itu membuka peluang baru bagi pengembangan industri peternakan Indonesia, mulai dari investasi, hilirisasi hingga perluasan pasar global.
Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong momentum tersebut untuk mempercepat transformasi subsektor peternakan nasional. Penguatan produksi dalam negeri dinilai perlu berjalan beriringan dengan pemanfaatan teknologi, peningkatan produktivitas, investasi, hilirisasi dan akses pasar.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda mengatakan ILDEX menjadi ruang penting untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan peternakan.
“ILDEX merupakan ajang pertemuan antara para pelaku usaha di bidang peternakan, baik komoditas perunggasan, ruminansia besar dan lainnya, dengan para peneliti, pelaku usaha dari luar negeri serta pemerintah untuk membangun kolaborasi dan sinergi,” ujar Agung di ICE BSD, Tangerang, Rabu (16/9).

ILDEX Indonesia 2026 berlangsung 16-18 September 2026 dan menjadi bagian dari rangkaian Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190.
Menurut Agung, interaksi langsung dalam pameran dapat membuka peluang bisnis baru. Pelaku usaha tidak hanya memperkenalkan produk, tetapi juga dapat bertukar informasi, membangun jejaring, melakukan transaksi serta menemukan inovasi yang dapat diterapkan di lapangan.
“Dengan eksibisi seperti ini para pelaku usaha dapat berinteraksi dan bertemu langsung. Di situlah terjadi diskusi, transaksi dan banyak inovasi yang tersampaikan, sekaligus membuka peluang-peluang usaha baru,” katanya.
Besarnya jumlah penduduk Indonesia menjadi salah satu peluang pengembangan pasar peternakan. Kebutuhan protein hewani yang terus meningkat dinilai harus diikuti kemampuan industri dalam menyediakan produk yang aman, sehat, berkualitas dan kompetitif.

“Indonesia adalah negara besar. Kita punya penduduk 280 juta lebih, dan penduduk Indonesia pasti membutuhkan makanan. Bagian dari makanan itu adalah protein hewani dari komoditas peternakan,” ujar Agung.
Karena itu, ia mendorong peternak dan pelaku usaha tidak hanya berorientasi memenuhi kebutuhan domestik, tetapi mulai melihat peluang pasar internasional.
“Saya mengajak seluruh mitra kita, seluruh peternak untuk terus bersemangat menyiapkan protein hewani untuk kebutuhan di dalam negeri dan juga untuk mengisi pasar global,” katanya.
Peluang ekspor tersebut mulai terlihat dari ketertarikan pelaku usaha luar negeri terhadap produk peternakan Indonesia. Agung mengungkapkan, salah satu pelaku usaha asal Malaysia bahkan telah menyatakan minat untuk mendatangkan kambing dan domba dari Indonesia.
“Indonesia bukan hanya siap menyediakan protein hewani yang aman, sehat, utuh dan halal untuk kebutuhan dalam negeri, tetapi juga mendorong untuk menyuplai kebutuhan global,” ujarnya.

Di sisi lain, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan Makmun menekankan bahwa capaian produksi dalam negeri harus menjadi pijakan untuk meningkatkan kelas industri peternakan.
Menurutnya, swasembada sejumlah komoditas strategis, termasuk daging ayam dan telur ayam, bukan merupakan titik akhir. Capaian tersebut justru menjadi modal untuk memperkuat produktivitas, nilai tambah dan kesejahteraan peternak.
“Swasembada bukan garis akhir, tetapi titik awal untuk naik kelas. Kita harus terus meningkatkan produksi, produktivitas, investasi, hilirisasi dan membuka peluang pasar yang lebih luas,” ujar Makmun.
Makmun menilai pembangunan peternakan tidak cukup hanya mengejar peningkatan produksi. Ekosistem usaha yang menghubungkan peternak, industri, teknologi dan pasar perlu diperkuat agar pertumbuhan memberikan manfaat yang lebih luas.
“Peternakan bukan hanya tentang produksi, tetapi bagaimana menciptakan ekosistem yang membuat peternak semakin kuat, industri berkembang dan masyarakat mendapatkan akses protein hewani berkualitas,” katanya.
Pesan serupa datang dari dunia usaha. Direktur Komersial Bisnis PT Berdikari Agus Wahyudi mengatakan pengembangan industri perlu berjalan bersamaan dengan penguatan peternak rakyat.
Menurut Agus, pembangunan infrastruktur usaha dan pengembangan peternak merupakan dua hal yang saling melengkapi.
“Dua-duanya penting; tidak ada yang lebih penting,” kata Agus.
Ia menambahkan, keberhasilan peternak tidak semata-mata diukur dari kemampuan menghasilkan produk lebih banyak. Kapasitas peternak dalam memahami usaha, mengelola risiko dan menentukan arah pengembangan juga menjadi bagian penting.
“Bertumbuh bukan sekadar menghasilkan lebih banyak, tetapi tentang peternak yang semakin mampu memahami usahanya, mengelola risikonya dan menentukan langkah untuk masa depan,” ujarnya.
ILDEX Indonesia 2026 turut memperlihatkan besarnya minat industri global terhadap pasar peternakan Indonesia. Pameran tersebut menghadirkan 192 perusahaan dari 22 negara, terdiri atas 83 perusahaan Indonesia dan 109 perusahaan internasional.
Kehadiran perusahaan dari berbagai negara membuka ruang untuk pertukaran pengetahuan, transfer teknologi, penjajakan investasi dan pengembangan jaringan bisnis.
Teknologi yang ditampilkan mencakup berbagai aspek, mulai dari produksi peternakan, pakan, kesehatan hewan, manajemen usaha hingga pengolahan hasil. Perkembangan tersebut memberikan pilihan bagi pelaku usaha untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas sesuai kebutuhan.
Dari sisi daerah, Pemerintah Provinsi Banten juga melihat peluang untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai produksi dan distribusi pangan nasional.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten sekaligus Plt. Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten mengatakan posisi Banten yang didukung kawasan industri, infrastruktur transportasi, pelabuhan serta kedekatan dengan pusat konsumsi menjadi modal penting.
“Banten tidak ingin hanya menjadi pasar, tetapi menjadi bagian dari rantai produksi dan investasi pangan nasional,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur VNU Exhibition Asia Pacific Duangdej Yuaikwarmdee menilai pertemuan antara peternak, pelaku usaha dan penyedia teknologi penting agar inovasi tidak berhenti di ruang pamer.
“Ketika peternak, pelaku usaha dan penyedia teknologi bertemu, inovasi dapat bergerak dari ruang pamer menuju peternakan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.
Direktur Permata Kreasi Media Fitri Nursanti menambahkan, ILDEX juga menjadi ruang untuk membangun koneksi antara pemerintah, peternak, industri, akademisi dan mitra internasional.
“ILDEX bukan hanya tempat melihat teknologi, tetapi ruang untuk membangun koneksi dan kolaborasi. Di sini pemerintah, peternak, industri, akademisi dan dunia internasional bertemu untuk mencari solusi bagi masa depan peternakan,” ujarnya.