Friday, 07 August 2020


Begini Cara Barantan Agar Melati Indonesia Masuk Ekspor

20 Feb 2019, 14:44 WIBEditor : Gesha

Petani menunjukkan melati yang siap diekspor | Sumber Foto:HUMAS BARANTAN

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Tegal --- Badan Karantina Pertanian (Barantan) terus mendorong bisnis non migas agar mampu meraup untung devisa negara hingga triliunan rupiah. Salah satunya adalah meningkatkan nilai ekspor bunga melati melalui penjaminan kesehatan komoditas melati.

"Dengan memperketat pengawasan kesehatan supaya bebas dari hama dan penyakit tumbuhan, seperti serangga hidup," kata Kepala Barantan, Ali Jamil  yang didampingi anggota komisi IV DPR RI KRT H Darori Wonodipuro saat meninjau lokasi sekaligus me-launching perdana ekspor bunga melati ke Malaysia via Singapore lewat Bandara Ahmad Yani di UD Barokah Melati Jaya, Tegal,Jawa Tengah.

Dari Jawa Tengah (Jateng), nilai ekspor bunga selama Agustus sampai Januari 2019 mencapai Rp 200,55 miliar. Bahkan, Komoditas bunga unik ini diekspor ke beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan Arab Saudi.

Bunga ini biasanya digunakan masyarakat yang beragama Hindu dan Budha untuk prosea ibadah sembahyang. Atau bagi kalangan umat Muslim digunakan sebagai tanaman hias karena memiliki aroma yang baik untuk penyegar.

Melihat peluang pasar yang menggiurkan ini, karenanya kualitas ekspor dari melati harus terus dijaga. Beberapa bentuk perawatan ini diantaranya perlakuan pencelupan insektisida (dithane) dan pendinginan. Hal tersebut dilakukan agar eksportasi melati dapat memenuhi persyaratan sanitary dan phytosanitary (SPS) negara tujuan.

"Jadi, ini kita pastikan tidak mengandung serangga dan lain-lain, biar nanti aman sampai sana, kemudiam tidak ditolak juga oleh negara tujuan," jelas Jamil.

Sebaran petani bunga melati di Jateng terutama ada di Kabupaten Tegal, Pemalang, Batang dan Pekalongan. Luas area tanam di sana mencapai 600 ha. Sementara untuk harga bunga potong melati di tingkat petani sebesar Rp 30 ribu - 50 ribu/kg.

"Sedangkan untuk tujuan ekspor, harga ditingkat petani bisa mencapai Rp 100 ribu/kg. Keuntungan petani dapat meningkat hingga 100 persen lebih," katanya.

Hingga saat ini, di Jawa Tengan sendiri hanya terdapat 9 eksportir bunga melati, yang sebagian besar eksportasinya lewat Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.

Dalam kesempatan itu, Anggota Komisi IV KRT Darori Wonodipuro, Bupati Tegal yang diwakili oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Khofifah turut serta dalam acara tersebut melakukan mediasi dengan Angkasa Pura, Asperindo dan Garuda Indonesia agar eksportasi dapat dilakukan langsung via Bandara Ahmad Yani, Semarang.

Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan bincang santai bersama 200 petani bawang merah, bawang putih dan beras merah organik. Para petani dihadirkan guna mengikuti program Agro Gemilang di Karantina Semarang.

Melalui program ini, Kementan melalui Barantan bisa secara langsung melakukan pendampingan kepada petani dan calon eksportir, khususnya para pemuda millenial, agar dapat ikut terjun meningkatkan eksportasi komoditas pertanian.

"Pembinaan kepada kelompok tani diantaranya bimbingan teknis cara pengendalian organisme pengganggu tumbuhan dilapangan saat budi daya, pembinaan saat processing ekspor dengan penerapan higiene dan sanitasi di area processing. Ini salah satu upaya meningkatkan neraca perdagangan kita, lewat eksportasi non migas," tukasnya. 

 

Reporter : Tiara
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018