Wednesday, 17 August 2022


Begini Cara Kementan Hemat Anggaran Negara Rp 1,2 Triliun untuk Pengadaan Alsintan

01 Jul 2019, 06:44 WIBEditor : Ahmad Soim

Petani millenial Belitung dilatih penggunaan Alsintan | Sumber Foto:Joko

“Jadi pembelian apapun langsung ke pabrik, harga murah, dan datang tepat waktu. Semuanya karena e-catalog. Dengan cara ini harga juga turun, kemudian saya akumulasi pertahun penghematan anggaran sangat drastis.”

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -  Selama 4,5 tahun terakhir, pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah melaksanakan pengadaan alsintan dalam jumlah besar dan menggunakan alokasi anggaran yang juga besar.

 

BACA JUGA:

> Mesin mesin Pertanian Canggih Karya Anak Bangsa

 

"Kami sadar anggaran yang dipergunakan sangat besar, untuk itu kami memastikan sistem yang digunakan pun akuntabel dan efisien terhadap keuangan negara. Kami juga terus menjaga integritas petugas yang menangani ini,” ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta (30/6). Dalam tiga tahun berturut turut, bahkan Kementan   telah mendapatkan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). 

Amran mengatakan dengan berpegang amanah Presiden Joko Widodo (Jokowi)  agar anggaran kementerian  dikelola dengan baik dan  mengedepankan efisiensi, maka untuk meningkatkan efisiensi, Kementan  menggunakan e-catalog, yaitu layanan  pengelolaan memfasilitasi pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa berbasis teknologi informasi dan teknologi (TIK). 

 

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Sarwo Edhy memyampaikan e-catalog merupakan bentuk komitmen Kementan dalam melakukan digitalisasi pengadaan. 

 

“Jadi pembelian apapun langsung ke pabrik, harga murah, dan datang tepat waktu. Semuanya karena e-catalog. Dengan cara ini harga juga turun, kemudian saya akumulasi pertahun penghematan anggaran sangat drastis,” ungkap Edhy.

 

Edhy juga menyampaikan bahwa pengadaan barang dan jasa untuk alsintan pra panen dan pasca panen 4 tahun terakhir melalui e-catalog  telah menghemat anggaran negara hingga Rp 1,2 triliun. Penghematan terhadap pengadaan alsintan pra panen yaitu traktor roda 2, traktor roda 4 dan rice transplanter sebesar Rp 1.096 triliun rupiah, serta penghematan pengadaan alsintan pasca panen yaitu combine harvester sebesar Rp 120 miliar rupiah. 

 

Sebagai gambaran pemanfaatan e-katalog untuk alsintan pertanian, sebelum menggunakan e-katalog untuk traktor roda dua per unitnya harganya Rp 26 juta,  tahun 2015, setelah e-katalog harga menjadi Rp 23 juta pada tahun 2016. Begitupula dengan traktor roda empat (35-50hp) pada tahun 2015 tanpa e-katalog Rp. 367 juta- menjadi Rp. 326 juta. Penghematan juga terjadi pada pengadaan rice transplanter dan combine harvester. 

 

“Harga rice transplanter sebelum implementasi e-catalog senilai Rp 76 juta, sementara pada saat pemberlakuan e-catalog tahun 2015, harganya menjadi lebih murah yaitu senilai Rp 63 juta. Begitu pun untuk combine harvester besar, dari Rp 380 juta menjadi Rp 337 juta,” papar Edhy.

 

Dalam proses e-catalog, diungkap Edhy,  terjadi negosiasi harga yang terekam jelas secara elektronik dan transparansi serta akuntabel. Semua pihak dapat mengawasi pengadaan dengan sistem e-katalog, karena sistem tersebut melalui Lembaga Kebijakan Pengadaaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). 

 

Langkah untuk mendigitalkan layanan penyediaan alsintan adalah salah satu jalan yang paling pas untuk dipilih oleh Kementerian Pertanian. Walaupun belum semua layanan mampu ter-cover dengan baik dalam sistem digital yang ada saat ini, setidaknya sistem e-Katalog yang diimplementasikan di Kementerian Pertanian telah membuktikan manfaatnya dengan penghematan biaya belanja pemerintah hingga 40%.

 

Menurut Edhy, sistem tender elektronik yang telah dilaksanakan sejak tahun 2015 memberikan kinerja yang cukup baik dalam hal penghematan. Ia menyebutkan penghematan biaya ini didapat di antaranya lantaran kita tidak perlu lagi harus mengeluarkan budget lebih untuk biaya transportasi dan akomodasi guna menghampiri pihak-pihak yang berminat ikut tender atau lelang.

 

Kebijakan digitalisasi dalam pengadaan alsintan ini turut berpengaruh terhadap peningkatan level mekanisasi pertanian di Indonesia. “Pada tahun 2014, level mekanisasi pertanian hanya 0,14. Pada tahun 2018 kemarin meningkat signifikan menjadi 1,68,” jelas Edhy. 

 

Kementan telah menguji efisiensi lima alsintan yang berbasis teknologi 4.0, yaitu atonomous tractor, robot tanam, drone sebar pupil, autonomous combine, dan panen olah tanah terintegrasi. 

 

“Kelima alsintan berbasis teknologi 4.0 ini bila dibandingkan alsintan konvensional meningkatkan efisiensi waktu kerja berkisar 51 hingga 82 persen. Sementara efisiensi biaya berkisar 30 hingga 75 persen,” beber Edhy.

 

 

Reporter : KaBe
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018