Sunday, 24 October 2021


KWT Banna Tani Dilatih Aplikasi Pupuk Organik untuk Tabulampot

19 Jun 2021, 07:33 WIBEditor : Ahmad Soim

Aplikasi pupuk organik di Tabulampot | Sumber Foto:Abda

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh -- Penemu dan juga praktisi pupuk organik Super Se 7 Aceh, Safaruddin melakukan pelatihan aplikasi pupuk pada KWT Banna Tani Gampong Kota Baru, kecamatan Kuta Alam Banda Aceh (17/6/21).

Safaruddin mengatakan pupuk yang ditemukan dapat berfungsi baik serta mampu bekerja dalam yang cepat. Terbukti dari hasil beberapa tanaman yang disemprot pupuknya tampak lebih segar. Padahal sebelumnya terlihat seperti kekurangan vitamin dan juga ada terserang penyakit kutu putih.

Pelatihan dilakukan melalui treatmen beberapa tanaman buah dalam pot (Tabulampot) seperti mangga, jambu  jeruk dan jenis tanaman sayuran lainnya.

Safaruddin menambahkan bahwa pupuk Se 7 nya juga dapat mengembalikan kesuburan tanah. Selain itu juga mengandung hormon Auxin.

Sebelum dicoba pada Tabulampot, pupuknya dan beberapa pupuk kimia serta air mineral diuji terhadap daya hantar listrik untuk setiap sampel. Pupuk hasil racikannya terbuat dari bahan tanaman non ekonomis.

Pupuk organik katanya, bukan pupuk lemah, terbukti ketika disemprotkan pada batang dan daun airnya tidak hilang, bahkan melekat pada daun.

Begitu juga yang terjadi reaksi pada daun, dengan cepat terjadi perubahan menjadi segar dibanding sebelumnya. Uniknya semua daun yang disemprot bereaksi seperti terjadi getaran.

BACA JUGA:

Produk pupuknya diklaim dapat juga dijadikan sebagai pestisida dan pengurai tanah serta memperbaiki jaringan tanaman. Dengan menuang beberapa tetes pupuknya dalam 3/4 timba berisi air, langsung berubah lebih merasuk dan terasa dingin.

Dosis pupuk yang digunakan untuk sayuran cukup 2 sendok makan dilarutkan dalam 200 liter air. Sedangkan untuk tanaman keras diberikan 200 ml kemudian dicampur dalam 20 liter air.

Petani hendaknya tidak lagi tergantung pupuk kimia yang mahal dan merusak lahan. Pupuknya lebih hemat, karena murah, efektif serta efisien. "Kalau pupuk organik hanya menghabiskan biaya Rp 400.000 per hektar," ujarnya promosi.

Pupuk yang dibuatnya sejak tahun 2013, sudah beredar di beberapa kabupaten di Aceh hingga sebagian daerah di Jawa.

Cut Yusminar, A.Pi., MSi, Kepala Dinas Pangan Aceh memberikan apresiasi dan kagum atas temuan yang baru dikenalnya. Selama ini pihaknya, hanya mengetahui pupuk yang beredar di pasaran saja. 

Untuk itu, ia akan mencoba efektivitas pupuk organik Se7 dalam skala demplot. Jika terbukti unggul, kedepannya tidak menutup peluang untuk mengaplikasikan pada skala lebih luas.

"Pupuk organik tidak hanya menyehatkan tanaman saja, tapi juga menjaga kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat," pungkasnya.

Selain didampingi ketua kelompok dan penyuluh, peneliti BPTP Aceh, acara tersebut dihadiri Kepala Dinas Pangan Aceh dan Penasehat Khusus (Pensus) dan lima mahasiswa praktek Prodi THP fakultas pertanian USK Banda Aceh.

=== 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter : Abda
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018