Sunday, 24 October 2021


Bersaing Ekspor Barang Berkelas

18 Jun 2021, 20:03 WIBEditor : Ahmad Soim

Bunga yang berkelas | Sumber Foto:Memed Gunawan

  

Oleh: Memed Gunawan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Sophisticated  pada umumnya berkonotasi positif, anggun, berkelas, bercitarasa tinggi, spesifik, detil, beda dan istimewa. Jangan disamakan dengan complicated, yang umumnya terkait dengan jelimet dan kesulitan. Kalau bicara citarasa atau kultur, misalnya, sophisticated pasti tidak jauh dari gaya tata cara yang tidak kodian. 

Contohnya soal makanan.  Penyediaan bahan pangan tidak cukup untuk tujuan mencukupi kebutuhan nutrisi, gizi dan menjaga kesehatan saja. Itu hanya kelas biasa. Generik. Tampilan yang berkelas itu memperhatikan citarasa tinggi, cara penyajian yang spesial sehingga rasa, bentuk, warna, waktu, kondisi disesuaikan dengan event atau situasi. Itulah konon, yang perlu diperhatikan para pelaku bisnis karena arah perkembangan permintaan ekspor berbagai komoditas masa depan menuju ke sana. Pola konsumsi yang sophisticated dan spesifik. Bukan barang curah murah meriah, tapi untuk meraihnya tetap harus kompetitif. Tidak mudah, kan!

Sebenarnya, standar baku dalam perdagangan saat ini, sebagian sudah mencakup masalah ini. Telur tidak dijual curah atau berdasarkan ukuran berat tetapi ada standar yang telah ditetapkan. Harus bersih tidak ada kotoran, tidak ada bercak darah di dalamnya, kedalaman warna kuning telur, ketebalan kulit telur, dan keseragaman ukurannya.  Itulah makna adanya Grade AA dan A.

Jepang tidak hanya menerapkan standar umum, tetapi memang terkenal mempunyai citarasa yang sangat sophisticated dalam banyak hal, khususnya dalam soal makanan. Kalau ekspor bahan makan ke Jepang sudah tembus, itu adalah satu prestasi luar biasa. Oleh karena itu prestasi harus betul-betul dijaga jangan sampai dicederai.

Minum teh di Jepang itu ada caranya, mirip-mirip upacara tradisional yang baku dan tidak boleh disepelekan.  Mulai dari pakaian, peralatan, cara menyeduh, menyajikan sampai dengan minum dan memutar cawan untuk menentukan sisi cawan yang akan menyentuh bibir dan kemudian menghirupnya. Inilah sophisticated, anggun, penuh hormat dan juga sedap dipandang. Cara duduk, minum dan memegang cangkir dengan dua tangan itu tidak berubah sejak dulu, dan budaya itu tetap dipertahankan. Budaya Jepang memang sophisticated dan tidak berubah. Itu baru cara minum teh saja. Masih banyak yang lainnya. Memotong ikan tuna utuh sampai dengan mengiris dagingnya untuk sashimi itu ternyata tidak sembarangan. Ada tata caranya.

BACA JUGA:

Semua itu ada dampak ekonominya. Bagi produsen, apa pun yang diminta konsumen ke sanalah arah perkembangan pola pemasarannya. Oleh karena itu, ketika perkebunan teh menggunakan teknologi petik pucuk teh dengan mesin agar cepat dan efisien, pimpinan perusahaan harus juga menyadari ada sesuatu yang dikorbankan di sisi lain, yaitu kualitas daun teh dan dampaknya terhadap peluang memasok permintaan teh kualitas khusus. Pemetikan daun teh dengan tangan bisa langsung memisahkan pucuk teh kualitas white tea, broken pecco, pecco dan kualitas di bawahnya. Konsumen tertentu ada yang meminta kualitas premium, jauh di atas selera umum pasar. Tidak hanya rasa tetapi juga penampilan, kepekatan, warna, status dan entah apa lagi yang tidak dimengerti oleh orang kebanyakan. Harga kualitas premium ini jauh lebih tinggi tetapi untuk mencapainya diperlukan effort yang juga lebih tinggi.

Sebuah restoran eksklusif langganan pebisnis kelas atas di Jakarta menyajikan makan malam istimewa dengan tatacara yang unik. Makanan disajikan satu demi satu itu memerlukan banyak pramusaji, dan bahan pangannya pilihan, berkualitas tinggi walau kadang nama masakan lokal seperti sayur asam atau gudeg tetap dipertahankan. Buah mangga harumanis yang dipotong membentuk burung begitu indah dan enak, tetapi hanya dua potong kecil saja, sehingga menyisakan penasaran di lidah dan tentu sangat menjengkelkan tukang makan kelas kaki lima. Tetapi inilah salah satu cara eksklusif dan beda yang bagi sebagian orang sangat berarti. Dan mereka pun mau membayarnya dengan harga tinggi. 

Bagaimana soal bunga? Kebersihan dan bebas dari hama penyakit tentu menjadi persyaratan nomor satu. Tetapi wangi, yang menjadi standar kualitas bunga bagi orang kebanyakan sejak dahulu kala, sudah banyak bergeser ke keindahan, warna, penampilan, ukuran, waktu dan kesesuaian dengan kultur dan kejadian yang akan diwakilinya.  Melati, kenanga dan sedap malam yang jadi inspirasi lagu dan puisi berbeda pasarnya, tidak perlu indah, yang penting wangi. Yang merajai bisnis bunga hiasan di dunia antara lain krisant, mawar, anggrek, dan tulip merupakan jenis-jenis bunga yang paling populer karena keindahannya. 

Permintaan terhadap bunga akan sangat spesifik, apa jenisnya, bunga potong atau bibit yang akan dibesarkan, kapan harus sampai, kondisi bunga pada saat sampai di tujuan, jenis dan warna bunga yang sesuai untuk musim tertentu, ukurannya yang tepat untuk dibuat karangan bunga atau diberikan sebagai hadiah dalam bentuk satuan. Sanitary dan Phytosanitary sudah tentu merupakan persyaratan umum, sekali dilanggar maka aturan yang lebih berat akan dijatuhkan pada komoditas ekspor lainnya.

Aturannya memang ketat dan kaku tak bisa ditawar. Dalam hal ini pelaku usaha seharusnya tidak merasa terbebani dengan aturan itu, karena memang itulah perkembangan permintaan. Pemeo konsumen adalah raja masih tetap berlaku. Penuhi saja keinginan konsumen dan aturan jika ingin menangguk keuntungan. Kita harus siap dan patuh dengan aturan.  

=== 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018