Wednesday, 21 October 2026


Sambung Pasar dari Presiden Joko Widodo

13 Dec 2018, 16:09 WIBEditor : Ahmad Soim

Presiden Joko Widodo saat menghadiri Rapat Kerja Nasional Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (Asparindo) Tahun 2018 di Hotel Aryaduta – Jakarta, (11/12).


TABLOIDSINARTANI.COM - Sambung pasar. Istilah baru itu dilontarkan Presiden RI  Joko Widodo (Jokowi)  saat memberikan sambutan pembukaan Rapat Kerja Nasional Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (Asparindo) Tahun 2018 di Hotel Aryaduta – Jakarta, (11/12).


Revitalisasi pasar yakni mengubah pasar becek menjadi pasar yang lebih tertata telah banyak dilakukan Jokowi sejak menjadi Walikota Solo hingga menjadi Presiden sekarang. Jumlahnya hingga sekarang telah mencapai 2.660 pasar rakyat di seluruh Indonesia, plus pasar desa jumlahnya saat ini telah terbangun 6.500 pasar.

 

Tetapi Beliau wanti-wanti, karena sekarang pasar tradisional itu harus bersaing dengan pasar modern, pasar tradisional harus dikelola dengan baik menyangkut kebersihan, tempat parkir yang teratur dan aman. Ini menjadi tugas pemerintah, BUMD dan swasta untuk penataan dan pengelolaan pasar tradisional itu menjadi menarik. Soal produk dan daya saing, Presiden mengatakan bahwa produk di pasar tradisional bisa bersaing dengan pasar modern.


Dengan berkembangnya teknologi digital, kepada para peserta Rakernas Asparindo   Jokowi menyodorkan istilah baru yakni “sambung pasar”. Intinya, karena sekarang ini teknologi digital telah berkembang pesat, maka Jokowi mengatakan : “perlu dibangun sebuah ekosistem (system, agar) yang online dan offline ini bisa sambung. Kalau sambung pasar ini (dapat terbangun) pasti (pasar tradisional) akan cepat berkembang”.


Sambung pasar maknanya adalah system, atau dalam bahasa yang lebih simpel adalah jaringan. Inilah masalah penting dalam pemasaran produk-produk apapun di pasar tradisional kita. Pasar tradisional, pada umumnya lebih banyak memasarkan produk kebutuhan rumah tangga, mulai dari bahan pangan, pakaian serta kebutuhan rumah tangga lainnya. Untuk bahan pakaian, alat rumah tangga, obat-obat kesehatan dan semua barang industri lainnya penyelenggaraan pemasarannya sudah lebih baik. Dalam arti telah terjadi “sambung pasar” antara produsen – distributor – pengecer dengan baik.

 

Dengan majunya system digital dan komputer, tata hubungan bisnis antara hulu hingga hilir telah dan mudah dibangun.
Namun bagi produk pangan yang bersumber dari alam yang dihasilkan petani, tetapi sangat dibutuhkan oleh seluruh masyarakat dan tidak dapat tergantikan, sangatlah memprihatinkan kondisinya. Kalau sekarang system digital atau pemasaran secara online produk pangan itu sudah mulai berjalan, tetapi volumenya masih sangatlah kecil. Angka penelitian belum ada, tetapi kalau kita perbandingkan secara kasar untuk komoditi cabe saja, kebutuhan nasional Cabe kita sekitar 75ribu ton/bulan.

 

Produk Cabe yang dipasarkan secara online saat ini baru sekitar 20 ton/bulan. Artinya baru 0,026% saja produk Cabe yang dibeli masyarakat melalui belanja online. Artinya masih 99,97% produk Cabe masih dijual secara offline, baik melalui pasar modern maupun pasar tradisional. Kalau kita perdalam penjualan Cabe offline melalui pasar modern, agaknya saat ini besarnya masih dibawah 100 ton/bulan, atau kurang dari 0,13% saja. Artinya, 99,84?be masih dipasarkan melalui pasar tradisional. Mungkin untuk komoditi pangan lain seperti Bawang merah, Bawang putih hingga beras, daging, telur, gula juga tidak jauh berbeda situasinya. Inilah, potret dan peranan pasar tradisional kita yang harus memainkan pemasaran produk-produk pangan strategis kita.

 

BACA JUGA:

> Selama 4 Tahun 385.170 Unit Alsintan Digelontorkan ke Petani

> Menteri Amran Pertanian Alami Transformasi Besar Dalam 4 Tahun

> Inilah hasil program terobosan Kementerian Pertanian dalam 4 Tahun Terakhir

 


Pembenahan 6.500 pasar tradisional saat ini pada umumnya masih terbatas pada pembenahan fisik saja, agar masyarakat konsumen merasa nyaman belanja di pasar “tradisional”. Namun pada kenyataannya, setelah pasar tradisional itu selesai dibangun, baik di kota besar maupun di kota kecil hingga ke desa, lalu dioperasionalkan, tidak lama kemudian suasananya akan menjadi “kumuh” kembali. Hal itu dapat dilihat di berbagai pasar tradisional di berbagai kota. Pasar Legi – Solo, Pasar Minggu di Jakarta Selatan, Pasar Projo di Ambarawa, Pasar Rejowinangun di Magelang, Pasar Flamboyan di Pontianak hingga pasar-pasar di dalam Kota Surabaya, semuanya masih nampak kotor dan semrawut.

 

Ada dua faktor utama yang menyebabkan kondisi pasar tradisional kita masih di bawah harapan. Pertama adalah kemampuan pengelolanya dan kedua adalah perilaku pelaku pasar. Itulah pekerjaan besar berikutnya yang mesti kita bangun bersama. Pemerintah pusat sudah banyak berbuat, namun kalau sudah sampai pada pengelolaan, pasti semua menjadi tugasnya pemerintah daerah. Itulah hakikinya otonomi daerah.

 

 



 

Reporter : Soekam Parwadi - Direktur Paskomnas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018