Friday, 18 June 2021


Menjadi Sarjana Pertanian yang Siap Menjadi Petani Milenial

05 May 2021, 10:00 WIBEditor : Ahmad Soim

Sarjana pertanian bertani | Sumber Foto:Suroyo

 

Oleh : Agung Tamrin (Ketua BEM Fakultas Pertanian Untirta)

TABLOIDSINARTANI.COM, Banten -- Sumber daya manusia pertanian mempunyai peran penting dalam membangun pertanian berkelanjutan. Rencana Strategis Kementerian Pertanian pada tahun 2021 memfokuskan pembangunan pertanian melalui konsep pembangunan pertanian berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan daya saing pertanian di pasar global. 

Paradigma pembangunan pertanian berkelanjutan pada hakekatnya adalah sistem pembangunan pertanian melalui pengelolaan secara optimal seluruh potensi sumber daya, baik sumber daya alam, sumber daya manusia, kelembagaan, dan teknologi, untuk menjaga agar suatu upaya terus berlangsung dan tidak mengalami kemerosotan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Oleh karenanya, sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki komitmen membangun sektor pertanian merupakan salah satu faktor keberhasilan pembangunan pertanian berkelanjutan. 

BACA JUGA:

Peran tenaga kerja pertanian Indonesia dalam penyerapan tenaga kerja nasional tidak terbantahkan memiliki kontribusi terbesar. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut bahwa jumlah penduduk yang bekerja per Agustus 2020 sebanyak 128,45 juta orang. Dari angka tersebut, terbanyak bekerja di sektor pertanian dengan 38,23 juta orang tenaga kerja atau sekitar 29,76 persen. Meskipun terjadi peningkatan serapan tenaga kerja sebesar 2,23 persen pada awal tahun 2021 tetapi jumlah tersebut sebetulnya tetap menurun selama kurun lima tahun terakhir sehingga menurunnya angkatan tenaga kerja di sektor ini perlu menjadi perhatian. 

Hal itu perlu disoroti mengingat dari Bappenas sempat merilis hasil kajiannya yang menyatakan bahwa Indonesia pada tahun 2063 tidak akan ada yang menjadi petani. Pernyataan itu dilandasi oleh tiga akar permasalahan yaitu masalah regenerasi, alihfungsi lahan serta urbanisasi masyarakat desa ke perkotaan yang sampai saat ini selalu menjadi polemik.

Artikel ini akan terfokus terhadap hal yang sangat fundamental terlebih dahulu, yaitu regenerasi petani. Masalah regenerasi petani sangat serius bagi kemajuan atau pun kemunduran di bidang ketenagakerjaan pertanian. Hari ini telah terjadi perubahan struktur demografi yang kurang menguntungkan bagi sektor pertanian, yaitu petani berusia tua (lebih dari 55 tahun) jumlahnya semakin meningkat, sementara tenaga kerja usia muda semakin berkurang. 

Fenomena semakin menuanya petani (aging farmer) dan semakin menurunnya minat tenaga kerja muda di sektor pertanian tersebut menambah permasalahan klasik ketenagakerjaan pertanian selama ini, yaitu rendahnya rata-rata tingkat pendidikan dibandingkan dengan tenaga kerja di sektor lain.

Rilis dari BPS menyebutkan bahwa Hanya 0,1  persen yang bekerja di sektor ini yang berpendidikan sarjana, lebih tinggi sedikit yaitu sekitar 0,2 persen pekerja menamatkan jenjang diploma, dan hanya sekitar 7 persen di antara pekerja pertanian yang tamat sekolah menengah atas. Sisanya didominasi oleh tingkat pendidikan smp dan tamatan sekolah dasar yang masing - masing berada di angka 28 persen dan 40 persen. 

Data tersebut sangat memprihatinkan karena sebetulnya setiap tahunnya terdapat ribuan sarjana pertanian yang lulus dan siap untuk menjadi generasi petani selanjutnya, tetapi hanya sekitar 12,2 pemuda yang terjun di bidang pertanian. Menurut hasil rilis kajian maupun survei dari beberapa media ternama, hal ini disebabkan karena bekerja di sektor pertanian tidak dapat mencukupi keperluan rumah tangga serta Diindikasikan pula dari motivasi utama dalam menentukan pilihan tersebut adalah keinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang baik dan adanya peluang untuk berwirausaha disektor lainnya sehingga para generasi muda ini meninggalkan sektor pertanian. 

Terlepas dari reputasi akademik perguruan tinggi yang menciptakan kader calon regenerasi pertanian milenial yang gagal ini. Dari fakta empirik tadi, patut menjadi pertanyaan, sejauh mana bidang pertanian mempunyai prospek bagi para sarjana untuk menggelutinya ?

Mari ambil beberapa sampel dari beberapa bidang ilmu yang terdapat dalam studi pertanian, misalnya sarjana Peternakan dan Perikanan Budidaya yang memilih bekerja di sektor lain, sebenarnya bisa sangat prospektif. 

Beberapa tahun yang lalu Para pimpinan daerah berbondong – bondong datang ke Solo, guna menyaksikan bisnis sukses di bidang peternakan yang dilakukan oleh seorang mantan dosen UGM. Meksipun komoditi utamanya sapi perah, namun core business-nya adalah biogas, pupuk organik, yang diintegrasikan dengan budidaya ikan patin, sehingga dengan luasan lahan sekitar 13 hektar, ia mampu meraih omset tidak kurang dari seratus milyar rupiah per bulan. 

Atau contoh lainnya ialah seorang sarjana ilmu perikanan dapat menjadi pengusaha ikan hias karena dibekali ilmu menyilangkan berbagai jenis, atau menjadi pemasok bibit ikan yang beromset milyaran rupiah. 

Memang benar bahwa untuk bisa mendapatkan hal tesebut tidaklah mudah mengingat dalam melakukan usahatani banyak faktor yang menentukan serta membutuhkan proses yang panjang, tetapi bila semuanya diawali dari optimism semuanya pasti ada jalannya atau seminimalnya jangan sampai idealisme seorang sarjana pertanian luntur hanya karena keadaan semata

Di sisi lain, perguruan tinggi memang harus dapat meyakinkan dan membantu calon sarjana untuk mewujudkan niat mereka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik setelah jadi sarjana. 

Beberapa ilustrasi di atas menunjukkan pentingnya jiwa kewirausahaan dalam berbagai bidang kuliah di pendidikan tinggi pertanian. Syukur saat ini banyak perguruan tinggi sudah menekankan pentingnya kewirausahaan sebagai pelengkap bekal ilmu bagi calon sarjana seperti program merdeka belajar dari Kemdikbud dan program lainnya. Tekad yang keras dan keberpihakan sangat diharapkan dari setiap pemimpin perguruan tinggi, sehingga menjadikan anak didiknya wirausahawan menjadi karakter yang melekat dalam misinya.

=== 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018