Jumat, 23 Februari 2024


Masifkan Pertanian Organik, Maporina Hadir Di Kabupaten Boyolali

13 Peb 2024, 10:47 WIBEditor : Herman

Tim task force Maporina Jateng diterima Bupati Boyolali | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSIANRTANI.COM, Boyolali --- Masyarakat Petani dan Pertanian Organik Indonesia (Maporina) Provinsi Jawa Tengah terus bergerak. Kali ini Tim Task Force beraudiensi dengan Bupati Boyolali, Jawa Tengah, M. Said Hidayat,SH.

Pada kesempatan tersebut bupati didampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda (Asisten II), Insan Adi Asmono, S.STP, M.Hum, Kepala Dinas Pertanian  Ir. Joko Suhartono, Msi, dan Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam pada Setda Kabupaten Boyolali, Fara Soraya Devianti, S.STP,  .

Kepada bupati. Ketua Tim Task Force, Ir. Agus Purwoko Jati menyampaikan visi dan misi organisasi.

“ Maporina (Masyarakat Pertanian Organik Indonesia atau Organic Farming Society of Indonesia) merupakan wadah organisasi profesi untuk menghimpun potensi berbagai pihak yang terkait dengan pertanian organik yang meliputi Birokrat, Akademisi, Petani, Pengusaha dan Masyarakat luas pemerhati masalah Pertanian di Indonesia khususnya di Jawa Tengah “ kata Agus.

Lebih lanjut diungkapkan Agus, keberadaan organisasi Maporina ialah untuk mensejahterakan rakyat, melestarikan lahan dan lingkungan melalui sistem pertanian organik,

Lebih lanjut Agus Purwoko Jati, yang sehari-hari bekerja sebagai GM Cimori Jateng menyampaikan bahwa, sekarang mulai terasa kecenderungan  masyarakat dunia untuk mengkonsumsi produk pangan yang dianggap lebih aman dan menyehatkan serta ramah lingkungan.

“Pilihan mereka jatuh pada produk yang dihasilkan dari sistem pertanian organik yang dianggap bebas dari residu berbagai bahan kimia dan cemaran lainnya yang berbahaya. Hal ini juga berarti pasar produk pertanian organik makin terbuka lebar” ujar Agus.

Pada kesempatan yang sama Sekretaris Maporina Jateng Fx. Supardiman,SH, MSi, menyampaikan pihaknya tahun ini memfasilitasi pelaksanaan Demfarm Penggunaan Pupuk Organik pada Tanaman Padi seluas 5 Ha.

“Kami membantu dalam bentuk hibah pupuk organik sebesar 10 ton dan pupuk Organik Cair (POC) sebanyak 35 liter.” kata Supardiman

Lebih lanjut, Supardiman mengatakan pihaknya akan menempatkan satu pengurus Maporina, yaitu Sdri Etty Sri Hertini, SP, MSi untuk mendampingi petani Demfarm.

Lebih jauh Supardiman juga menyampaikan himbauan agar pemda dapat membantu  segera membentuk kepengurusan Maporina  di Kabupaten Boyolali,

Bupati Boyolali, M. Said Hidayat merespon sangat positif kedatangan Tim Task Force Maporina tersebut.

“Saya minta Asissten II, Kepala Dinas Pertanian dan Kabag Perekonomian segera memfasilitasi pembentukan pengurus Maporina Kabupaten Boyolali. Pada bulan ini juga harus sudah terbentuk “ tegasnya.

Bupati Boyolali memang pantas bersikap demikian. Karena Kabupaten Boyolali merupakan penghasil pangan potensial di Jawa Tengah. Disitir dari Berita Portal Jawa Tengah, Kabupaten ini mampu surplus tujuh dari 10 komoditas strategis.

Boyolali menurut  Kepala DKP Kabupaten Boyolali, Bambang Purwadi, mampu swasembada pangan untuk padi, jagung, ubi kayu, kacang tanah, daging sapi, daging ayam dan telur ayam..

Dari daerah ini dihasilkan pula buah-buahan aneka.sayur mayur. Selain itu Boyolali punya produk unggulan pangan yaitu papaya dan susu sapi.  Sehingga Boyolali disebut juga sebagai Kota Susu, dimana populasi sapi perah cukup tinggi. Patung Sapi Perah merupakan salah satu ikon disini.

Secara topograffi bentang alam  Kabupaten Boyolali merupakan wilayah dataran rendah yang luas, perbukitan dan pegounungan. Berada pada ketinggian rata-rata 700 meter di atas permukaan laut.

Titik tertinggi berada pada 1.500 meter yaitu di Kecamatan Selo dan terendah pada 75 meter di Kecamatan Banyudono. Sehingga Kabupaten Boyolali merupakan sebuah wilayah pertanian  yang lengkap . Memiliki  dua lereng gunung besar yang subur, yakni gunung Merapi dan Merbabu.

Sebenarnya pertanian organik bukan barang baru di Boyolali. Beberapa kelompok tani bahkan sudah berhasil menjalin kemitraan kerja sama dengan pihak perhotelan untuk mencukupi kebutuhan sayur mayur organik. Misalnya kelompok Tani “Utomo” dari desa Gejayan, kecamatan Cepogo yang bermitra dengan “ Syariah Hotel Solo”.

Dari sisi potensi produksi pupuk organik asak kohe, Boyolali tidak perlu diragukan lagi. Data BPS Jateng tahun 2022 populasi ternak besar ( Sapi perah, sapi potong, kerbau dan kuda) sebesar 204.280 ekor. Sedang ternak kecil (kelinci, babi, kambing dan domba) sebesar 178.340 ekor.

Bisa dihitung diatas meja, apabila ternak besar rata-rata menghasilkan kohe 10 - 15 kg dan urine 10 liter perhari, lalu ternak kecil 0,5 - 1 kg dan urine 2,5 liter per hari. Ternak besar menghasilkan 2.000 ton kohe dan 2.000 liter urine perhari,  Ternak kecil menghasilkan 178 ton kohe dan 445.000 liter urine. Apabila potensi tersebut berhasil di mobilisasi dan di kapitalisasi akan menjelma menjadi pendukung pertanian organik yang luar biasa.

Audiensi kepada Bupati Boyolali kala itu diikuti Tim Task Force yang terdiri dari : Ir. Agus Purwoko Jati (Pengawas), Fx. Supardiman,SH,MSi (Sekretaris Task Force), Edy Darmanto, SP (Wakil Sekretaris) dan Etty Sri Hertini, SP, MSi (Bendahara).

 

Reporter : Djoko W
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018