
PPL Coanjur mencoba drumseeder untuk tanam padi PM AAS
TABLOIDSINARTANI.COM, CIANJUR — Semangat jemput bola dan inovasi tiada henti ditunjukkan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Kabupaten Cianjur. Di tengah tantangan geografis lahan yang berterasering, Koordinator Penyuluh BPP Kecamatan Cilaku, Agus Kurniawan.P. SP dan tim bersama UPTD Pelayanan Pertanian Cilaku sukses menggebrak semangat petani melalui penerapan sistem Tanam Padi PM-AAS (Pertanian Modern – Advanced Agriculture System).
Yang membuat gerakan ini kian istimewa adalah kreativitas tanpa batas para penyuluh dan petani setempat. Dengan semangat swadaya yang tinggi, mereka bergotong royong memodifikasi dan membuat alat drumseeder (alat tanam benih langsung) secara mandiri agar bisa diaplikasikan secara optimal di lahan-lahan spesifik lokasi.
Kecamatan Cilaku membawahi 10 desa dan 10 Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang menaungi 124 Kelompok Tani. Guna menyukseskan program strategis Kementerian Pertanian dalam meningkatkan produksi padi, mempertahankan swasembada pangan nasional berkelanjutan, serta mendongkrak kesejahteraan petani, BPP Cilaku mewajibkan setiap poktan untuk membuat demplot sistem PM AAS seluas minimal 2 hektar.
Namun, mengaplikasikan alat pertanian modern di lahan berterasering tentu memiliki tantangan tersendiri. Menjawab kendala tersebut, Maman Sudirman bersama rekan-rekan penyuluh memutar otak dengan memodifikasi ukuran drumseeder dan mata caplak agar pas dan ergonomis di petakan sawah terasering yang relatif kecil.
"Kami menyesuaikan ukuran panjang drumseeder dan mata caplak dengan kondisi lahan di daerah kami yang umumnya berterasering dan berukuran kecil," ujar Maman Sudirman, PPL Kabupaten Cianjur.

"Sebab jika ukuran alat terlalu panjang, kapasitas benih akan semakin banyak dan beban alat menjadi sangat berat saat harus diangkat ketika berpindah barisan baru. Karena itulah drumseeder kami rancang khusus sepanjang 175 cm dengan spesifikasi dua buah drum," jelas Maman menambahkan.
Alat drumseeder modifikasi ini dirancang presisi dengan jarak tanam 25x25 cm, di mana satu alat mampu menghasilkan tiga baris tanaman. Desain cerdas ini juga dilengkapi sistem tutup di sisi kanan dan kiri masing-masing 12,5 cm untuk menciptakan setengah jajar legowo di bagian tepi dan legowo 50 cm di bagian tengah.
"Dengan formulasi ini, begitu berpindah baris, jejak caplaknya akan tetap sama dan presisi dengan jarak 25x25x25 cm, membentuk 6 baris deret tanaman atau Legowo 6," terang Maman secara teknis.
Inovasi swadaya alat drumseeder ini langsung memantik antusiasme luar biasa dari para petani di setiap desa. Bahkan, pergerakan positif ini menular hingga ke tingkat kelompok tani.
"Alhamdulillah, pada setiap desa para poktan sangat merespon positif dan antusias terhadap inovasi tanam padi PM AAS ini. Bahkan ada beberapa ketua poktan yang tergerak ikut berswadaya membuat drumseeder sendiri demi memudahkan pelaksanaan tanam bagi anggota kelompoknya," tutur Maman penuh rasa syukur.
Selain pendampingan intensif dan praktik langsung lewat demplot di titik-titik strategis, para penyuluh juga menyebarkan buku saku panduan sistem tanam padi PM AAS kepada setiap poktan. Langkah ini diambil agar para petani dapat mempelajari petunjuk teknis resmi dari Kementerian Pertanian secara mandiri di rumah.
Meski gerakan swadaya ini berjalan sukses dan mendapat sambutan hangat, para penyuluh di Cilaku tetap menaruh harapan besar kepada pemerintah pusat maupun Kementerian Pertanian agar mendapat dukungan sarana pendukung.
"Harapan kami para penyuluh kepada Pemerintah Pusat dan Kementerian Pertanian, semoga dapat membantu memfasilitasi alat drumseeder bagi setiap penyuluh. Jika semua penyuluh memegang satu drumseeder, kami yakin target akselerasi produksi yang diharapkan pemerintah dapat terealisasi jauh lebih cepat," pungkas Maman.