Saturday, 26 September 2020


Helen Soegandhi, Geluti Pasar Afrika Sejak 26 Tahun Lalu

29 Apr 2020, 09:48 WIBEditor : Yulianto

Helen Soegandhi saat menemani Ketua Dewan Kopi Indonesia, Anton Apriyantono | Sumber Foto:Dok. Helen Soegandhi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Banyak pebisnis kita enggan ketika harus berdagang melayani pasar Afrika. Alasannya banyak, diantaranya karena Afrika dianggap tidak punya uang, L/C (letter of credit) kurang dipercaya, pembayaran dengan L/C dianggap terlalu merepotkan, pebisnis Afrika tidak bisa dipercaya, transportasi kapal laut ke Afrika sulit, dan banyak alasan lain.

Tapi bagi seorang Helen Soegandhi, pasar Afrika adalah peluang bisnis. Karena itu ia telah berbisnis dengan Afrika, terutama negara Afrika Barat (antara lain The Gambia, Ghana, Pantai Gading, Mauritania, Niger, Nigeria dan Senegal) sejak 26 tahun lalu.

Bisnis wanita kelahiran Surabaya itu, dengan pedagang Afrika Barat dimulai sekitar tahun 1994. Awalnya, transaksi kecil-kecilan dengan pedagang Afrika yang datang ke Jakarta untuk mencari dan membeli barang produksi Indonesia yang beredar di pasar, seperti pakaian jadi (garment) dan bahan kain (textile) untuk dikirim ke negaranya. 

Sekarang produk yang diekspor ke negara-negara Afrika Barat tersebut semakin bervariasi. Diantaranya, bahan bangunan, biskuit, permen, kosmetik, jamu, aneka makanan dan lain-lain.  Nilai barang yang dikapalkan dari Jakarta ke Nigeria, bervariasi mulai sekitar 20.000 dollar AS hingga lebih dari 200.000 dollar per 20ft FCL (kontainer 20 feet, full container load).

Setelah lebih jauh mengenal resiko dan potensinya berbisnis dengan pedagang Afrika, sekitar tahun 2011, Helen memberanikan diri menggaet mitra bisnisnya di Afrika untuk membuka kantor di Lagos, Negeria. Guna mempererat dan memperlancar bisnisnya, di Jakarta, Helen memfasilitasi mitra bisnis Afrikanya dengan menyediakan fasilitas kantor di Kawasan Tanah Abang.

Karena namanya sudah cukup dikenal terutama di Nigeria, bila ada pedagang Afrika lain yang membutuhkan barang-barang dan mengontak perusahaannya,  Helen akan berkomunikasi, transaksi serta mencarikan barang-barang yang diminta.

Bila transaksi mengenai jenis, jumlah dan harga telah disepakati, Helen akan meminta pelanggannya itu menghubungi kantornya di Lagos untuk menyelesaikan pembayaran dan juga mengambil barang pesanan ketika barang telah tiba.  Hasil jerih payah dan pengalamannya yang relatif panjang berbisnis dengan pedagang Afrika, kini Helen dapat mengapalkan beberapa kontainer barang setiap bulan, terutama menjelang hari-hari besar seperti Idul Fitri, Natal, Tahun Baru. 

Kelola Perkebunan

Karena terlahir dari keluarga pemilik perkebunan yang berpengalaman mengelola kebun luas secara turun temurun sejak jaman penjajahan Belanda, di daerah Banyuwangi, Helen pun kembali ke usaha perkebunan.

Kondisi kebun keluarganya seluas sekitar 850 ha di Kawasan Kebunrejo, Kalibaru, Banyuwangi, Jawa Timur, sempat terlantar. Pada tahun 2005 Helen memutuskan terjun langsung mengelola kebun yang ditanami karet dan kopi. 

Helen mengelola PT Perkebunan Glen Nevis Gunung Terong, harus memutar otak untuk dapat mempertahankan perkebunannya dan juga menghidupi ratusan pegawai. Harga karet yang semakin rendah akibat kalah bersaing dengan karet sintesis, menyebabkan kebun karetnya benar-benar kolaps. “Harga karet bahkan lebih rendah dari biaya sadap,” ujar Helen.

Sementara di bidang perkopian, Helen juga dan prihatin mengingat masuknya kopi impor asal Vietnam yang dijual dengan harga murah, sehingga mengancam harga kopi dalam negeri. Karena itu Helen berharap impor produk pertanian yang dapat mengancam kelangsungan hidup petani di Indonesia, benar-benar dihentikan.

Helen aktif mempromosikan kopi Fine Robusta, Banyuwangi, produk hasil perkebunannya, di ajang pameran lokal dan luar negeri. Namun Helen berharap pemerintah lebih serius dalam upaya meningkatkan daya saing pertanian Indonesia dengan menciptakan iklim usaha yang kondusif.

Dengan demikian, pelaku usaha bisa menjalankan usaha dengan tidak banyak mengalami gangguan di lapangan.  Fasilitasi pemerintah dalam penerapan inovasi teknologi sangat diperlukan, khususnya melalui lembaga litbangan. Baik di bawah Kementerian maupun Perguruan Tinggi.  Menurutnya, banyak hasil riset yang bagus namun tidak sampai ke pengguna.

Helen juga berharap agar buruh perkebunan mendapat perhatian yang sama dengan mereka yang dikategorikan sebagai petani (petani pemilik lahan pangan, petani penggarap, buruh tani). Karena menurutnya, program pemerintah kurang banyak menyasar buruh perkebunan. Sementara pemilik kebun masih harus berjibaku untuk bisa bertahan dalam kondisi persaingan harga di pasar internasional. 

 

 

Reporter : Gayatri K.R
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018