Wednesday, 28 October 2026


Dengan Filosofi 103, Zam Bina Peternak di Pedalaman Bima

12 Jul 2021, 09:11 WIBEditor : Yulianto

Zamaluddin dengan ternak sapinya

TABLOIDSINARTANI.COM, Bima---Gigih, dinamis, berjibaku, pantang menyerah, merupakan ciri-ciri sukses dalam berusaha. Hal itu terbukti pada diri Zamaluddin atau kerap disapa Zem, milenial dari pedalaman Desa Pesa, Kecamatan Wawo, Bima, NTB.

Alumni Peternakan Universitas Mataram yang pernah magang di PT Karya Anugerah Rumpin Bogor tahun 2014 dan PT. Sadhana Arifnusa 2015 Lombok tak ragu terjun langsung usaha agribisnis (bertani jagung) dan trading ternak sapi bali. Usaha tersebut ia rintis sejak 28 Februari 2016

“Semenjak diwisuda, saya bertekad untuk memanjukan peternakan Indonesia, khususnya di daerah kelahirannya. Karena saya memiliki visi bersama untuk memajukan negeri,” kata milenial berusia 27 tahun ini kepada Sinartani.

Saat pengangguran terdidik semakin banyak di negeri ini, Zam justru menerobos rintangan. Ia berjibaku dengan bermodalkan kegigihan yang dimilikinya. Bahkan setamat kuliah, ia langsung mengabdikan keilmuan di UPT Peternakan Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima. Zam juga membina petani dan peternak di sekitar kawasan Bima.

Dengan filofosi 103, Zam bermitra dengan petani dan peternak mencetak sapi 103 Ekor dan jagung 103 ton dari segi kualitas dan kuantitas. “Kami punya filosofi 103 dalam menempuh jalur hidup pada awalnya lurus (angka 1), boleh tidak mendapatkan hasil apa-apa (angka 0) dan menjadi motivasi selanjutnya mesti dikembangkan lebih giat lagi (angka 3),” tuturnya,

Zam mengaku, saat ini masih mengelola peternakan sapi sendiri, karena masih tahap merintis dan belum terbentuk team yang solid dari sisi (SDM dan Visi yang sama), pendanaan pun masih sangat kecil (pengerjaan buruh sampai pelaku usaha rangkap). Bahkan pendampingan pemerintah belum ada.

Namun ke depan, Zam berniat bermitra dengan peternak dan petani di Bima. Di lapangan diirnya melihat banyak masyarakat sambil bertani dan beternak, namun belum terkelola secara sistematis maupun terkonsep. “Sifatnya masih sebatas usaha rumah tangga. Pola tersebut diulang terus dari masa ke masa,” ujarnya.

Dengan modal 4 ekor sapi, Zam kini sudah bisa mengirim sapi keluar daerah hingga 12 ekor tahun lalu. Tahun ini  permintaannya mencapai 21 ekor. Untuk harganya, ia menjual Rp 11 juta/ekor.

Selain usaha ternak sapi, Zam juga memiliki lahan jagung. Bagi masyarakat, jagung memang primadona usaha tani. Beberapa tahun terakhir, banyak petani mengganti tanaman tradisional kacang hijau yang perawatannya dinilai sulit dan memiliki risiko kegagalan tinggi.

“Untuk Jagung sendiri sekali panen bisa mendapatkan 23 ton/ha, dan sudah ada pasarnya yakni ada anak cabang  PT Charond Pokhpand dan Japfa Comfeed yang menerima jagung untuk bahan pakan. Jadi kami serahkan ke plele (pengepul) yang jalan ke lahan,” tuturnya.

Menjadi peternak dan petani jagung bagi Zam banyak suka dan duka. “Meski berat tapi semua mudah untuk dijalani dengan tekat keinginan untuk maju,” katanya. Bahkan keberhasilan membangun usaha membuat Zam dipercaya sebagai Kordinator Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia Kab. Bima.

 

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018