
Herning Raharjanti, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palangka Raya
TABLOIDSINARTANI.COM, Palangka Raya --- Saat sebagian orang menyerah pada lahan gambut yang keras dan miskin hara, Hj. Herning Raharjanti, SP, justru melihat peluang.
Perempuan yang menjabat sebagai Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palangka Raya ini percaya bahwa setiap tanah, sekering dan sesulit apa pun, bisa melahirkan solusi pangan jika disentuh dengan inovasi.
Visi itu ia wujudkan melalui pengembangan tanaman sorgum, pangan alternatif yang kini mulai disebut sebagai “beras masa depan” bagi warga Palangka Raya.
Di balik perjalanan sorgum yang perlahan mendapat tempat di hati masyarakat, ada tekad Herning yang kuat untuk menjawab tantangan ketahanan pangan di daerahnya.
Palangka Raya memiliki wilayah yang luas, lebih dari 2.600 km persegi. Namun, mayoritas tanahnya berupa gambut dan pasir.
Jenis tanah ini dikenal tidak subur, memiliki keasaman tinggi, dan membutuhkan biaya besar jika ingin dijadikan lahan sawah. Tak heran, hingga kini luas sawah di kota ini hanya sekitar 5 hektare, dengan hasil produksi yang masih rendah.
“Untuk mengolah lahan gambut jadi sawah padi itu butuh alat berat, pupuk dalam jumlah banyak, dan waktu yang panjang. Petani kita tentu berat menanggungnya. Inilah alasan kenapa Palangka Raya masih bergantung pada beras dari daerah lain,” ungkap Herning.
Alih-alih larut dalam keterbatasan, Herning memilih mencari alternatif. Menurutnya, pangan bukan hanya soal beras. Ubi, jagung, hingga keladi sudah dicoba meski penerimaan masyarakat masih rendah.

Namun ketika ia mengenal sorgum, keyakinannya muncul. Tanaman ini bukan hanya mudah beradaptasi dengan lahan marginal, tetapi juga kaya nutrisi, sehat, dan rasanya mirip nasi.
Dua tahun lalu, Herning bersama tim memulai langkah berani, yaitu dengan menanam sorgum di lahan percontohan (demplot) di kawasan Taman Teknologi Pertanian (TPP) Banturung, Kecamatan Bukit Batu. Hasilnya mengejutkan. Sorgum tumbuh subur, tidak banyak membutuhkan pupuk, dan panennya sangat menjanjikan.
Tidak berhenti di lahan percobaan, Herning memastikan sorgum bisa hadir di meja makan warga. Bersama Dinas Pertanian, ia mulai mengolah sorgum menjadi beras dan tepung.
Produk tersebut diperkenalkan melalui program pangan B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, Aman) dan bahkan dijadikan bingkisan resmi pada peringatan HUT ke-68 Kota Palangka Raya serta HUT RI ke-80.
“Respon masyarakat cukup positif. Banyak yang penasaran karena rasanya hampir sama dengan nasi, tapi lebih sehat. Tepungnya juga bisa menggantikan terigu untuk kue dan olahan lainnya,” tutur Herning.
Meski awalnya sempat diragukan, perlahan sorgum mulai diterima. Para petani pun menunjukkan dukungan karena melihat pertumbuhannya yang bagus di tanah Palangka Raya.
Pada 2024, satu kelompok tani sudah resmi mengembangkan tanaman ini. Ke depan, Herning berharap lebih banyak petani bergabung, apalagi kini sudah ada kerja sama pemasaran dengan Koperasi Sorgum Indonesia di Bandung.
Namun perjuangan ini belum usai. Sorgum masih menghadapi tantangan, mulai dari serangan hama burung hingga perlunya sosialisasi lebih luas agar masyarakat terbiasa mengonsumsinya.
“Setiap pangan baru pasti butuh waktu untuk diterima. Tapi kami yakin, dengan edukasi dan contoh nyata, masyarakat akan beralih,” ujarnya.
Bagi Herning, mengembangkan sorgum bukan hanya soal menyediakan alternatif pangan, tetapi juga tentang menjaga masa depan Palangka Raya. Dengan mengurangi ketergantungan pada beras, kota ini akan lebih siap menghadapi isu krisis pangan global.
Ia pun aktif menggandeng berbagai pihak, termasuk PKK Kota Palangka Raya, untuk melakukan sosialisasi di berbagai kegiatan. Dari pasar rakyat hingga acara resmi, sorgum diperkenalkan sebagai pangan sehat dan bergizi.
“Target kami sederhana tapi penting: menjadikan sorgum sebagai bagian dari keseharian masyarakat. Kalau masyarakat sudah bisa menerima, maka ketahanan pangan kita lebih kuat,” jelasnya.
Kini, beras dan tepung sorgum sudah mulai dicari masyarakat. Walau produksinya masih terbatas, sudah ada berbagai olahan berbahan sorgum yang diperkenalkan di acara-acara kota, mulai dari nasi, bubur, hingga kue.
Herning menutup visinya dengan optimisme, sorgum ini bukan sekadar makanan. Ini adalah super food masa depan. Mari kita belajar makan bukan hanya sekadar kenyang, tapi juga sehat.
“Ya Enak, ya Sehat, Ya Kenyang, Ya Sorgum Super Food Masa Depan” ungkapnya.