Tuesday, 17 May 2022


Pupuk Organik Mampu Turunkan Emisi GRK

19 Jan 2022, 10:32 WIBEditor : Yulianto

Kegiatan pembuatan pupuk organik | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pertanian saat ini dituding menjadi penyebab efek gas rumah kaca (GRK). Namun efek tersebut dapat diturunkan dengan penggunan pupuk organik dan kegiatan pertanian yang ramah lingkungan.

Praktisi pupuk organik, M Akbar mengatakan, perubahan iklim yang terjadi kini sangat berpengaruh terhadap perubahan iklim. Kondisi iklim global berbeda sangat jauh. Jika musim panas akan terjadi kekeringan dan hujan ada masalah banjir. “Semua ini efek dari sebelumnya yang menyebabkan penurunan produktivitas pertanian,” katanya di Jakarta, Selasa (18/1).

Akbar mengatakan, dirinya saat ini fokus pada karbon efektifitas yakni bagaimana menerapkan pupuk organik dan limbah organik untuk kegiatan pertanian. Sebab, penerapan pupuk organik mampu mengefektivitaskan karbon. “Karbon bisa dimanfaatkan kembali di dalam tanah agar tanah produktif, salah satunya dengan pupuk organik,” ujarnya.

Pengembangan pupuk organik menurutnya, mampu meningkatkan produktivitas. Namun demikian, tantangannya adalah bagaimana penerapan pupuk organik sebagai dasar pemberian pupuk berimbang.

“Sekarang ada peraturan 5-3-2. Angka 5 merupakan komposisi aplikasi pupuk organik, 3 NPK dan 2 urea. Bagaimana ke depan bisa ada peningkatan pemakaian pupuk organik untuk pertanian,” katanya.

Pengembangan pupuk organik lanjutnya, selain untuk pembenah tanah, juga untuk kegiatan pakan ternak, dan bahan bakar terbarukan. Dengan demikian, penerapan CEF diharapkan penggunaan pupuk buatan, energi tidak terbarukan, serta emisi GRK, dan pencemaran lingkungan dapat dikurangi.

Dikatakan, pupuk organik mengandung unsur hara makro dan mikro yang lebih lengkap dibandingkan pupuk anorganik. Pupuk organik dapat memperbaiki sifat fisik tanah, lahan kering menjadi lebih gembur, dan lahan sawah tanahnya bisa lebih lembut.

Sementara itu, Kepala Program Studi Manajemen Agribisnis Sekolah Vokasi IPB, Anita Ristianingrum menegaskan, dengan adanya intensifikasi pertanian seperti pemanfaatan pupuk dan pestisida kimia yang berlebihan serta pembakaran jerami akan mengakibatkan penurunan kesuburan lahan. Selain itu juga berdampak pada produk tidak sehat, dan pencemaran lingkungan perairan. 

“Adanya dinamika tersebut mendorong munculnya gagasan untuk mengembangkan suatu sistem pertanian yang dapat bertahan hingga ke generasi berikutnya dan tidak merusak alam,” ungkap Anita.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018