Kamis, 18 Juli 2024


Ramuan Organik Ngadimin, Bertani Bawang Merah Dengan Biaya Murah

13 Mei 2024, 14:50 WIBEditor : Herman

Ngadimin Petani Bawang Merah Cilacap | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM. Cilacap --- Ngadimin, petani millenial Desa Muktisari, Kecamatan Gandrung Mangu, Kabupaten Cilacap, jadi harapan petani bawang merah di daerahnya. Ketua Kelompok Tani “Dewi Sri” ini mampu menekan biaya usaha tani bawang merah dengan teknologi spesifik lokasi yang diramunya.

Bawang merah memang masih menjadi magnet bagi petani di Jawa Tengah. Tanaman umbi yang menjadi bumbu pokok segala masakan ini, semakin hari semakin bertambah banyak petani yang tertarik untuk menanam.

BPS menyebut, bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran yang paling banyak dikonsumsi di Indonesia. Dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) September 2021, rerata konsumsi bawang merah tiap orang Indonesia selama sebulan mencapai 2,49 kilogram.

Kabupaten Cilacap dimana Ngadimin tinggal, boleh dikata sebagai pemain baru dalam dunia tanam menanam bawang merah.. Menurut data BPS, pada tahun 2018 luas tanam bawang merah baru seluas 26 ha, dengan produksi 3.216 ku. Pada tahun 2019 bertambah luas menjadi 52 ha dengan produksi 6.728 ku dan pada tahun 2020 bertambah lagi menjadi 88 ha dengan produksi 8.303 ku.

Nama besar kabupaten Brebes masih menjadi daerah penghasil bawang merah utama, diikuti kabupaten-kabupaten lain se provinsi Jawa Tengah, kabupaten Demak, kabupaten Grobogan dan kabupaten Pati yang menyandang nama sebagai penanam bawang merah terluas setelah kabupaten Brebes. Pada tahun 2020 luas tanaman bawang merah di Jawa Tengah mencapai 65.361 ha, dengan produksi sebanyak 5.924.887 ku (BPS Jawa Tengah).

Perkembangan pertanaman bawang merah di provinsi yang terletak ditengah-tengah pulau Jawa ini tidak terlepas dari pengaruh kisah sukses petani bawang merah yang berhasil menangguk keuntungan besar.

Para petani “maju” ini berani mengambil resiko tinggi yang menyertai usaha tani umbi lapis ini. Sudah faham betul para petani bahwa untuk menanam bawang merah diperlukan modal yang besar. Sedang ancaman serangan hama dan penyakit serta bencana alam senantiasa mengintip, sebelum panen

Dikatakan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Supriyanto, SP,MP, kadang-kadang petani bawang merah hanya keren dipermukaan. “Mereka menerima hasil panen bawang merah ratusan juta rupiah, namun setelah dikurangi biaya produksi, ternyata hasil riil yang diterima minim sekali. Bahkan kadang merugi” ungkap Supriyanto, yang ditemui diruang kerjanya, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Supriyanto menjelaskan bahwa yang menjadi penyebab kerugian petani adalah turunnya kemampuan tanah untuk memproduksi umbi.

”Akibat pemakaian pupuk dan pestisida kimia selama puluhan tahun, kondisi kesuburan fisik tanah, kesuburan biologi tanah dan kesuburan kimia tanah menurun drastis, serta keseimbangan biota yang ada di lahan kacau. Untuk mengejar produksi petani justru malah menambah dosis pupuk kimia dan pestisida kimia.  Akibatnya biaya produksi terus meningkat sementara produksi mengalami stagnan”. kata Supriyanto

Kemampuan Ngadimin, yang berada jauh dipelosok rupanya terdengar oleh pihak Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah. Sehingga pada bulan Februari lalu Distanbun menugaskan Tim untuk mengevaluasi hasil kerja Ngadimin. Tim tersebut terdiri dari Awal Kuscahyo Budi Nugroho, SP, M.Si, funsional,  Penyuluh Pertanian, Shafiq Ariyanto, fungsional teknis di Bidang Hortikultura.

Didampingi staf Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap tim ditemui Ngadimin di rumahnya. Sebagian tempat tinggalnya dijadikan “laboratorium” untuk meramu hasil temuannya.

Terbukti memang, Ngadimin berhasil memangkas biaya produksi bawang merah, dengan cara memodifikasi penggunaan benih dan sarana produksi pupuk serta pestisida.

Berdasar survey BPS pada tahun 2018, rerata biaya usaha tani bawang merah di Jawa Tengah per hektar berkisar antara Rp 56 juta sampai Rp 88 juta. Dilihat dari struktur biaya, yang dikeluarkan petani, yang terbesar adalah untuk pembelian benih sebanyak 33%, kemudian pupuk dan pestisida 28?n tenaga kerja 23%.

Ngadimin mempraktekkan menanam bawang merah dilahan miliknya seluas 1.000 m⊃2; dengan metodenya. Ia sepenuhnya menggunakan pupuk dan pestisida organik yang diramunya sendiri.

Untuk menyuburkan tanaman pada fase vegetatitif, Ngadimin menyemprot tanaman dan lahan dengan ramuan dari Urin kelinci,air kelapa, beras ketan, kedelai, cacahan bonggol pisang, yang difermentasi dengan  mikroba.

Pada fase generatif ramuan yang digunakan masih sama hanya  komposisi urin kelinci dikurangi.

Yang Istimewa adalah ramuan untuk pembesaran umbi. Ngadimin meramu  madu, susu murni, ragi, buncis, telur. yang difermentasi

Aplikasi penyemprotan ramuan tersebut dilakukan mulai tanaman berumur 5 HST sampai fase pembesaran umbi.

Dengan menggunakan pupuk dan pestisida ramuan sendiri, Ngadimin yang menanam benih sebanyak 1 ton dapat menghasilkan umbi bawang merah sebanyak 8 ton. Hasil pengamatannya rata-rata 1 umbi dapat pecah menjadi 3 - 11 umbi.

Setelah dihitung Ngadimimin mengatakan bahwa biaya tiap kilogram bawang merah  hanya Rp 5.000,-. Belum jelas apakah biaya tenaga kerja dan sewa tanah sudah dihitung pula.

Kegigihan seorang petani Ngadimin ini pantas diapresiasi.Dia dapat memangkas biaya dari pos pupuk dan pestisida. Akan lebih hemat lagi apabila yang akan datang mengganti benih asal umbi dengan benih asal biji (True Shalot Seed/TSS).

 

Reporter : Djoko W
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018