Tuesday, 27 October 2026


Rp500 Miliar Untuk Pangan, Bendungan dan Irigasi Jadi Senjata Amankan Swasembada 2026

24 Feb 2026, 09:54 WIBEditor : Gesha

Mentan Amran Sulaiman menengok Bendungan Ameroro di Konawe

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Pemerintah cairkan Rp500 miliar untuk sektor pangan Januari 2026, fokus bendungan, irigasi, dan optimasi lahan demi amankan swasembada nasional.

Pemerintah terus memperkuat ketahanan pangan nasional di 2026 melalui pencairan anggaran infrastruktur yang strategis. Kementerian Keuangan mencatat, sepanjang Januari 2026, realisasi anggaran infrastruktur mencapai Rp3,7 triliun.

Dari jumlah ini, Rp500 miliar dialokasikan khusus untuk sektor pangan, menjadi fokus utama pemerintah untuk memastikan swasembada pangan tetap terjaga meski menghadapi tantangan alam dan perubahan iklim.

“Anggaran ini diprioritaskan untuk pembangunan bendungan, penguatan jaringan irigasi, serta optimalisasi lahan pertanian,” ujar Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam konferensi pers realisasi APBN di Jakarta, Senin (23/2/2026).

Ia menambahkan bahwa investasi infrastruktur pangan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan nasional dan memastikan pasokan tetap stabil.

Dari total Rp500 miliar, Rp354,4 miliar dialokasikan untuk pembangunan bendungan. Proyek ini telah mencapai 25?ri target pembangunan 15 unit bendungan di seluruh Indonesia.

Bendungan tidak hanya berfungsi sebagai sumber air untuk pertanian, tetapi juga menjadi pengendali banjir dan penyimpan cadangan air untuk musim kemarau. Strategi ini dinilai krusial untuk memastikan produksi pangan tidak terganggu oleh perubahan musim dan curah hujan yang tidak menentu.

Selain itu, Rp69,4 miliar disiapkan untuk pembangunan jaringan irigasi. Meski progresnya baru mencapai 2,2?ri target luas 212 ribu hektare, proyek ini dianggap vital untuk mendukung pengairan sawah, ladang, dan perkebunan. Irigasi yang baik akan meningkatkan produktivitas pertanian, mengurangi gagal panen, dan memastikan distribusi air merata ke seluruh daerah pertanian, termasuk wilayah rawan kekeringan.

Tak hanya itu, Rp100 juta dialokasikan untuk pemeliharaan sarana dan prasarana sumber daya air (SDA), serta Rp100 juta lagi untuk program cetak sawah dan optimasi lahan.

Meski nominalnya kecil dibanding bendungan dan irigasi, program pemeliharaan dan cetak sawah ini tetap penting karena berdampak langsung pada kualitas dan kuantitas produksi pangan lokal.

Dengan lahan yang optimal dan terkelola dengan baik, hasil panen diharapkan meningkat, mendukung stabilitas harga pangan, dan menjaga kesejahteraan petani.

Selain sektor pangan, pencairan anggaran infrastruktur Januari 2026 juga diarahkan pada konektivitas dengan nilai Rp1,5 triliun. Dana ini digunakan untuk pembangunan dan preservasi jalan senilai Rp571,8 miliar, pembangunan jembatan Rp34,4 miliar, dan jalan tol Rp784,3 miliar. Peningkatan konektivitas diharapkan tidak hanya memperlancar distribusi pangan dari sentra produksi ke pasar, tetapi juga meningkatkan efisiensi logistik dan menurunkan biaya transportasi.

Sektor perumahan dan fasilitas umum (fasum) mendapatkan alokasi Rp900 miliar. Beberapa proyek penting di antaranya pembangunan Sekolah Unggul Garuda senilai Rp217,9 miliar, proyek SPAM Rp9,9 miliar, dan revitalisasi sekolah mulai dari PAUD hingga SMA senilai Rp29,3 miliar. Proyek-proyek ini menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun kualitas SDM sekaligus menyediakan fasilitas publik yang memadai.

Sementara itu, sektor energi juga menjadi perhatian serius. Pencairan anggaran untuk proyek ketahanan energi mencapai Rp700 miliar. Investasi ini dialokasikan untuk pembangunan pipa transmisi gas bumi ruas Cirebon–Semarang senilai Rp216,8 miliar, serta infrastruktur jaringan gas untuk rumah tangga Rp441,1 miliar. Ketahanan energi dianggap kunci bagi stabilitas ekonomi dan operasional sektor pertanian, industri, dan rumah tangga.

Suahasil Nazara menegaskan peran Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dalam implementasi proyek infrastruktur ini. “Kalau salah satu kementerian yang cukup tinggi belanjanya adalah Kementerian PUPR yang membangun konektivitas, termasuk pembangunan dan preservasi jalan, jembatan, serta jalan tol,” jelasnya.

Peran kementerian ini menjadi krusial, karena infrastruktur fisik yang kuat akan mendukung distribusi pangan, energi, dan kebutuhan dasar lainnya secara merata ke seluruh pelosok negeri.

Fokus pemerintah pada bendungan dan irigasi menjadi bagian dari strategi besar untuk memastikan swasembada pangan 2026 tetap tercapai. Strategi ini juga relevan dengan prediksi cuaca ekstrem dan tantangan iklim global yang dapat mengganggu produksi pangan. Dengan ketersediaan air yang memadai, petani dapat menanam pada waktu yang tepat, mengurangi risiko gagal panen, dan meningkatkan kualitas serta kuantitas hasil produksi.

Selain itu, pembangunan bendungan dan irigasi juga berdampak pada sektor ekonomi lainnya. Proyek ini membuka lapangan kerja, meningkatkan aktivitas ekonomi di daerah, dan mendukung pertumbuhan sektor agroindustri. Dengan begitu, investasi Rp500 miliar untuk pangan bukan hanya soal ketahanan pangan, tapi juga penguatan ekonomi lokal dan stabilitas harga kebutuhan pokok bagi masyarakat.

Dengan pencairan anggaran infrastruktur yang strategis dan terukur ini, pemerintah berharap sektor pangan, energi, dan konektivitas dapat berjalan selaras. Bendungan dan irigasi menjadi senjata utama untuk menghadapi tantangan musim tanam, memastikan produksi pangan aman, dan mendukung tercapainya swasembada pangan 2026.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018