Jumat, 14 Desember 2018


Lahan Rawa Jejangkit Menuju Lumbung Pangan Dunia

05 Okt 2018, 18:48 WIBEditor : Ahmad Soim

Alat berat buatan Pindad digunakan untuk membuat saluran irigasi lahan rawa di Jejangkit, Barito Kuala | Sumber Foto:Ahmad Soim

Musim kemarau telah membakar lahan rawa dan gambut di beberapa wilayah Kalimantan. Rumput, ilalang dan semak belukar yang terkadang ditumbuhi pohon gelam nampak mengering. Kanal-kanal irigasi sepanjang 48 KM dibangun di Jejangkit, Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Kawasan seluas 750 ha ini menjadi percontohan optimalisasi lahan rawa sebagai lumbung pangan dunia.

 

  “Kanal irigasi lahan rawa yang sudah diselesaikan sampai saat ini sudah 42 KM,” kata Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Pending Dadih Permana kepada Sinar Tani di Jejangkit. Kanal-kanal itu telah terisi air.

 

Di atas kanal tersebut terhampar lahan persawahan yang luas. Dari Kawasan seluas 750  ha, terdapat 100 ha yang sudah ditanami padi varietas unggul rawa berumur pendek Inpara. Sebagian menerapkan tanam jajar legowo 4:1. Nampak juga tanaman refugia untuk pengendalian hama secara hayati.

 

Selama ini, menurut Supriyono Sekretaris Daerah Barito Kuala petani rawa di daerahnya menanam padi lokal Siam Unus. Diperlukan waktu hamper 7 bulan untuk sekali panen. “Masyarakat disini masih suka menanam padi lokal Siam Unus karena harganya mahal, meski produktivitasnya rendah,” katanya kepada Sinar Tani.

 

Dengan menanam padi rawa secara tradisional, petani hanya mendapatkan hasil panen antara 2,5-3 ton per ha per 7 bulan dalam satu kali tanam. Jenis padi lokal yang digemari masyarakat Barito Kuala adalah nasi yang pera, salah satunya Siam Unus.

 

Meski demikian masyarakat Barito Kuala kini tidak lagi fanatik dengan beras pera, apalagi harganya mahal. “Para petani sudah banyak yang berpikir, padi Siam Unus yang dipanennya, semuanya dijual, untuk makan mereka rela membeli beras raskin yang jauh lebih murah dan pulen,” tambah Supriyono.

 

Oleh karena itu, introduksi varietas unggul rawa Inpara yang pulen sudah diterima  masyarakat Jejangkit. Varietas ini mampu memberikan produktivitas yang tinggi, yakni sekitar 5 ton per ha. Berdasarkan pengalaman pengembangan lahan rawa di Sumatera Selatan seluas 1.200 ha, pada tahun ketiga, produktivitas padinya bisa mencapai 7-8 ton per ha.

 

Kunci keberhasilan budidaya padi lahan rawa adalah jaringan irigasi yang memadai dan sesuai. Selain dibuatkan kanal yang mengelili Kawasan sawah rawa seluas 750 ha, juga dibuatkan pintu-pintu pembagi yang dilengkapi dengan pompa pengangkat air bertenaga listrik. 

 

Dengan sistem irigasi ini, pada  musim hujan, air pasang bisa dibuang melalui kanal yang ada, sehingga persawahannya bisa ditanami padi. Pada musim kemarau, saat air kering, air yang ada di sungai besar di sekitar lahan rawa ini disedot dengan pompa dialirkan ke kanal-kanal yang ada untuk mengairi persawahan.  

 

Tanah masam pada lahan rawa pun disiasati dengan menambahkan kapur. Biar lahan ini lebih subur, maka diberikan pupuk yang cukup sesuai dengan rekomendasi. Untuk memberantas hama, pada sekililing petak sawah ditanami refugia.

 

Reporter : Som
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018